Rasis-Nongol di Kontes LGBT, Ini Jejak Kontroversi Arya Wedakarna

Jakarta, - Sebagaimana diketahui, Anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna kembali menjadi sorotan publik buntut kehadirannya dalam acara LGBT atau kontes kecantikan khusus transpuan Miss Equality World di Thailand.

Kehadiran Arya juga itu menyeret seorang anggota TNI AL yang ikut mendampingi dirinya menghadiri kontes tersebut. Dalam rekaman video yang beredar, seorang prajurit TNI AL terlihat mengenakan seragam dinas lengkap mendampingi Arya menaiki panggung.

Ihwal kehadirannya, Arya mengklaim tidak dalam kapasitas sebagai anggota DPD melainkan sebagai tokoh agama Hindu dan masyarakat Bali.

"Kalau saya yang pasti kemarin acara yang di Thailand itu saya datang mewakili lembaga Hindu ya. Jadi sebagai tokoh Bali, jadi tidak ada kaitan sama jabatan saya di manapun," kata Arya.

Dia menyebut kontes itu terdiri dari pelbagai rangkaian kegiatan seperti peluncuran pariwisata ASEAN, pemberian penghargaan, pameran, hingga diskusi. Sementara untuk kehadirannya dikarenakan mendapat penghargaan serta peluncuran video promosi wisata Bali.

Meski sudah memberikan klarifikasi persoalan tidak cukup sampai disitu. Badan Kehormatan (BK) DPD tetap akan memanggil Arya untuk memberikan keterangan secara resmi terkait kehadirannya di acara Miss Equality World.

Ketua BK DPD, Hasby Yusuf memahami klarifikasi Arya yang mengaku hadir bukan dalam kapasitas mewakili DPD melainkan sebagai pribadi serta tokoh budaya, pariwisata, dan Hindu Bali.

Namun, kata dia, status sebagai anggota DPD tetap melekat. Sehingga setiap tindakan dan aktivitas publik anggota perlu mempertimbangkan kepatutan, kehormatan jabatan, serta dampaknya terhadap citra lembaga, sekalipun kegiatan tersebut dinyatakan dilakukan dalam kapasitas pribadi.

Daftar panjang kontroversial Arya

Arya sendiri tercatat bukan kali pertama mendapatkan sorotan negatif dari publik. Pada 2024, Arya juga mendapat kecaman dari publik buntut pernyataannya yang dinilai diskriminatif hingga rasis.

Arya ketika itu meminta agar para frontliner di Bali tidak menggunakan penutup kepala apapun seperti yang dilakukan di negara-negara Timur Tengah.

"Saya enggak mau yang front line, front line itu, saya mau yang gadis Bali kayak kamu, rambutnya kelihatan terbuka. Jangan kasih yang penutup, penutup enggak jelas, this is not Middle East. Enak aja Bali, pakai bunga kek, pake apa kek," ujarnya.

Buntut dari pernyataannya di video itu, MUI Provinsi Bali melaporkan AWK ke Bareskrim Polri atas dugaan penistaan agama.

AWK diduga melanggar pasal 45A ayat 2 UU RI Nomor 19 tentang perubahan atas UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dan/atau pasal 156 KUHP dan pasal 156a ayat 1 KUHP tentang peristiwa tindak pidana SARA dan penistaan agama.

Ucapannya itu kemudian membuat Arya diberhentikan sebagai anggota DPD asal Bali oleh BK DPD. Hal itu diputuskan atas pengaduan masyarakat terkait dugaan pelanggaran tata tertib dan kode etik karena ucapan bernada diskriminasi.

Wakil Ketua BK DPD RI Made Mangku Pastika mengatakan pemberhentian Arya berdasarkan Pasal 48, ayat 1 dan 2 Peraturan DPD RI Nomor 1 Tahun 2021 Badan Kehormatan DPD.

Selain itu, dia juga sempat dilaporkan ke Polda Bali pada 2020 oleh Aliansi Masyarakat Peduli Bali. Pasalnya Arya dianggap melakukan dugaan pelecehan terhadap sulinggih (pendeta Hindu) dan memalsukan identitas karena mengaku sebagai Raja Majapahit.

Pada tahun yang sama, dia juga sempat dilaporkan ke Polda Bali atas dugaan tindakan penganiayaan terhadap seorang mahasiswa sekaligus ajudannya, PTMD (21).

Berdasarkan versi kuasa hukum PTMD, Agung Sanjaya Dwijaksara, peristiwa ini terjadi pada 5 Maret 2020 di Kampus Universitas Mahendradatta, Denpasar. Arya disebut menampar dan mencekik leher ajudannya hingga mengalami luka dan trauma.

Tiga tahun sebelumnya, Arya juga menjadi sorotan karena secara terang-terangan menolak kehadiran Ustaz Abdul Somad (UAS) di Bali pada 2017. Saat itu, Arya menilai UAS sebagai sosok anti-Pancasila.

Terakhir, pada tahun 2014, Arya juga sempat menentang praktik sistem bank syariah yang diterapkan pada beberapa bank di Bali. Melalui akun Facebooknya, Arya mengajak seruan demo kepada para anak muda Bali untuk menolak bank syariah.