Jakarta, - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa kualitas udara di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar), mencapai kategori berbahaya atau hitam imbas kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Data ini merujuk pada pantauan BMKG per Selasa (1/9) pukul 10.00 WIB.
BMKG melaporkan, konsentrasi partikulat PM2.5 di Kubu Raya mencapai 385.2 µg/m³.
Sedangkan, konsentrasi partikulat PM2.5 di Mempawah mencapai 448.1 µg/m³. Keduanya melewati batas ambang kategori berbahaya yaitu >250.51 µg/m³.
PM2.5 merupakan partikel udara yang ukurannya lebih kecil atau sama dengan 2.5 µg (mikrometer).
Ukurannya yang kecil membuatnya dapat terserap aliran darah saat bernapas sehingga memiliki ancaman kesehatan terbesar.
Polutan ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kalimantan Barat pun sebelumnya mencatat peningkatan titik panas (hotspot) karhutla yang signifikan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kenaikan hotspot di Kalbar sebanyak 3.533 titik menjadi 7.377 titik pada Senin (31/8). Selain itu, titik api (firespot) di Kalbar juga bertambah 16 titik menjadi total 72 titik.
"Kita lihat bahwa di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan, jumlah titik panas itu relatif bertambah. Di Kalimantan Barat signifikan bertambahnya. Di Kalimantan Selatan, maupun Kalimantan Tengah, relatif menurun," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers, Senin (31/8).
Selain itu, Kalimantan Barat juga mengalami lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dari 1 Januari hingga 22 Agustus 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalbar mencatat total 165.727 kasus ISPA.
Kenaikan mulai terlihat sejak akhir Mei 2026 dan terus berlanjut hingga pertengahan Agustus. Peningkatan kasus terlihat pula dari kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan seiring meningkatnya hotspot di Kalbar.
"Terjadi peningkatan ISPA di fasilitas pelayanan kesehatan dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Artinya kunjungan masyarakat ke puskesmas lebih meningkat," ujar Kepala Dinkes Kalbar Erna Yulianti, Sabtu (29/8).