Kasus ISPA di Kalbar Melonjak, DPR Desak Kemenkes Bertindak

[INTRO]

Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Barat (Kalbar) mencapai 165.727 kasus sepanjang 1 Januari hingga 22 Agustus 2026. Lonjakan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera turun tangan menangani dampak kesehatan akibat karhutla. "Kemenkes perlu turun tangan untuk menangani dampak karhutla terhadap munculnya penyakit ISPA yang sudah mencapai 165 ribu kasus," kata Yahya, Minggu (30/8/2026) sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Yahya meminta Kemenkes berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memperkuat penanganan kesehatan, termasuk menyediakan tenaga medis, fasilitas rumah sakit, masker, hingga rumah oksigen bagi masyarakat terdampak.

Menurut dia, pemerintah juga perlu menetapkan protokol kesehatan bagi warga selama kualitas udara memburuk. Penggunaan masker hingga kemungkinan evakuasi warga ke lokasi yang lebih aman dinilai perlu dipertimbangkan. "Kemenkes dan Pemda Kalbar perlu melakukan koordinasi untuk penanganan kasus ISPA yang melanda warga Kalbar dengan penyediaan tenaga medis, tenaga kesehatan dan rumah sakit serta bantuan masker untuk warga serta rumah oksigen," ujarnya.

Perlindungan khusus juga diminta diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan lanjut usia. Yahya bahkan membuka kemungkinan penetapan status kejadian luar biasa (KLB) apabila kondisi karhutla dan kasus ISPA terus memburuk. Menurut dia, status tersebut dapat mempercepat penanganan secara terintegrasi. "Sehingga penanganannya dapat dilakukan secara cepat dan terintegrasi," kata Yahya.

Data Dinas Kesehatan Kalbar menunjukkan peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak pekan ke-21 atau sekitar akhir Mei 2026. Tren tersebut terus meningkat hingga pertengahan Agustus. Kepala Dinkes Kalbar, Erna Yulianti, mengatakan data tersebut berasal dari Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Secara proporsi, kasus ISPA tercatat sekitar 29 kasus per 1.000 penduduk. Peningkatan kunjungan masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan juga menjadi salah satu indikator memburuknya situasi.

Perhatian semakin meningkat pada pekan ke-32 ketika kenaikan kasus ISPA berlangsung bersamaan dengan bertambahnya aktivitas hotspot karhutla di Kalbar. Komisi IX DPR berencana melakukan kunjungan lapangan ke wilayah terdampak karhutla di Kalimantan pada 4-5 September 2026. Kunjungan tersebut ditujukan untuk melihat langsung kondisi masyarakat sekaligus menyusun rekomendasi penanganan bagi pemerintah.