[INTRO]
Sherly Tjoanda adalah seorang politikus Indonesia yang menjabat sebagai Gubernur Maluku Utara sejak 20 Februari 2025. Sherly merupakan gubernur perempuan pertama di Maluku Utara.
Belakangan nama Sherly juga ramai diperbincangkan di kalangan anak muda terutama di media sosial karena dianggap bisa memberi inspirasi pada golongan anak muda saat ini. Sherly lahir di Ambon Maluku pada 12 Agustus 1982 dan menikah dengan Benny Laos pada 28 Mei 2005. Ia dikaruniai 3 orang anak yakni Edbert, Edelyn dan Edrick.
Sherly bersekolah di SMA Kristen Petra 2 Manyar Surabaya, kemudian pindah ke SMA Katolik Swastiastu Denpasar dan lulus dari sana. Sherly menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Kristen Petra Surabaya dengan jurusan International Business Management. Ia kemudian melanjutkan studi dalam program double degree di Inholland University, Belanda, dan lulus pada 2004.
Sherly yang sudah hampir dua tahun menjabat sebagai Gubernur Malut juga beberapa kali mendapatkan penghargaan, salah satu penghargaan Anugerah Srikandi Indonesia pada tahun 2025. Penghargaan tersebut didapat karena komitmen yang terjaga dalam layanan publik serta mendorong percepatan pembangunan daerah.
Sherly memang belum lama aktif menjadi politisi namun kini ia menjadi salah satu Kepala Daerah bahkan Politisi yang menjadi inspirasi anak muda terutama Gen Z.
Bahkan tidak jarang, potongan video yang beredar di medsos kerap kali viral dan memberikan inspirasi pada anak muda. Dengan cepat, Sherly menjadi idola anak muda masa kini.
Bisa dibilang, Sherly maju menjadi Cagub Maluku Utara karena tragedi yang dialami oleh mendiang suaminya Benny Laos, yang meninggal dunia dalam kecelakaan perahu cepat pada 12 Oktober 2024.
Pencalonannya didampingi Sarbin Sehe sebagai calon wakil gubernur dan diusung oleh 8 partai politik. Hasil rekapitulasi resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan kemenangannya setelah berhasil meraih 359.416 suara (51,68%) dan terpilih sebagai Gubernur Maluku Utara untuk periode 2025–2030.
Sherly mengaku mendapat dukungan penuh dari anak-anaknya untuk meneruskan perjuangan mendiang Benny Laos membangun Maluku Utara. Namun dibalik tekad tersebut, ia juga menyimpan rasa takut setelah tragedi yang merenggut nyawa sang suami.
Sherly mengakui bila ia kerap kali khawatir terhadap keselamatan diri sendiri, terutama ketika memikirkan masa depan ketiga anaknya. Saat ini, yang ia pikirkan adalah ketiga anaknya selalu dijaga oleh Tuhan.
“Saya suka berdoa ke Tuhan, ‘Saya menerima takdir ini. Permintaan saya hanya satu, jaga ketiga anak saya’,” ungkap Sherly melalui keterangannya kepada Law-Justice.
“Karena kejadian kemarin, risiko itu selalu ada. Ada saat-saat di mana saya merasa takut dan khawatir kalau ada apa-apa sama saya, ketiga anak saya gimana?,” sambungnya.
Mendadak Politik
Sherly bisa dibilang belum lama terjun ke dunia politik, namun survei kepuasan kinerja kepada Sherly sangat tinggi bahkan bisa dibilang Sherly termasuk Kepala Daerah yang selain populer juga mendapatkan kinerja memuaskan berdasarkan hasil survei.
Dukungan politik terhadap Sherly menjadi bentuk penghormatan terhadap visi Benny Laos sekaligus kepercayaan terhadap kapasitas Sherly sebagai pemimpin. Ia kemudian menjalani proses kampanye bersama Sarbin Sehe hingga akhirnya terpilih dan dilantik secara simbolis oleh Presiden Prabowo Subianto.
Sherly juga menekankan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga pemerataan kesejahteraan yang bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Pendekatannya cenderung pragmatis dan berbasis solusi, dengan fokus pada: peningkatan kualitas pendidikan, penciptaan lapangan kerja, penguatan sektor pangan, diversifikasi ekonomi, pengembangan SDM berbasis teknologi
"Dalam menjalankan tugas (sebagai Gubernur), pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat sebagai kunci pembangunan daerah yang berkelanjutan," katanya.
Pendekatannya cenderung pragmatis dan berbasis solusi, dengan fokus pada: peningkatan kualitas pendidikan, penciptaan lapangan kerja, penguatan sektor pangan, diversifikasi ekonomi, pengembangan SDM berbasis teknologi
"Dalam menjalankan tugas (sebagai Gubernur), pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat sebagai kunci pembangunan daerah yang berkelanjutan," katanya.
Politisi Muda Perempuan tersebut juga melihat politik bukan sekadar arena kekuasaan, melainkan jembatan antara harapan masyarakat dan realitas yang penuh keterbatasan.“Bagi saya politik itu jembatan antara harapan dan dunia nyata. Di dalamnya ada keterbatasan, bahwa pemimpin yang mereka kasih amanahnya itu, membawa mereka dari harapan ke dunia nyata dengan segala keterbatasan yang ada,” imbuhnya.
Sherly mengaku awalnya menolak terjun ke dunia politik. Ia menyebut politik sebagai ruang yang patriarkis dan maskulin, sementara dirinya merasa sebagai “kanvas kosong” yang tidak memiliki pengalaman politik.
Namun, keputusan menjadi gubernur ia ambil dengan tujuan menyelesaikan masalah nyata di masyarakat. Menurutnya, hal tersebut dapat diuji dengan motivasi, integritas, kapasitas, dan ketahanan.
Sherly menekankan pentingnya kritik dalam menjaga jalannya pemerintahan. Menurutnya, kritik bukan ancaman, melainkan pagar yang membuat seorang pemimpin lebih berhati-hati.“Saya harus belajar menerima kritik. Kritik itu membuat saya lebih aware, lebih hati-hati. Kritik itu yang akan menjadi pagar untuk menjaga saya terus di jalan yang benar,” jelasnya.Dalam setiap pengumuman program, Sherly sengaja menyampaikan angka dan detail ke publik. Hal itu, menurutnya, menjadi bentuk kontrol sosial agar janji yang disampaikan benar-benar diwujudkan.“Kalau saya sudah publish, saya pastikan saya deliver. Karena yang mengontrol saya itu banyak. Saya ada di ruang publik dengan spotlight,” tegasnya.Sherly juga menyadari risiko besar dalam era digital, di mana kesalahan kecil bisa diperbesar oleh algoritma media sosial. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin bukan ditentukan oleh klaim pribadi, melainkan oleh penilaian rakyat.“Saya berhasil atau tidak, rakyat yang akan menilai. Percuma saya bilang berhasil kalau saya gagal. Otoritas yang sedang saya pinjam ini adalah milik mereka, yang akan diambil kembali lima tahun ke depan,” tegasnya.
Pemimpin Idola Gen Z
Hari ini, Generasi muda terutama Gen Z melihat sosok Sherly sebagai Pemimpin yang banyak dijadikan inspirasi terutama di kanal media sosial yang kerap kali muncul potongan video Sherly dalam podcast dan wawancara.
Sherly menegaskan seorang kepala daerah memikul tanggung jawab besar, untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Menurutnya, solusi yang presisi hanya bisa dirumuskan jika pemerintah benar-benar memahami akar masalah di lapangan.Sherly mendengar langsung keluhan dari masyarakat lalu memetakan apa yang perlu dibenahi terlebih dahulu. Ia mengakui bila ia menyusuri daerah-daerah terpencil di wilayah kepulauan tentu membutuhkan tenaga ekstra.
"Bagi saya, arti menjadi pemimpin itu adalah kita diberikan harapan oleh yang memilih kita. Tugas kita adalah bagaimana menjembatani harapan itu menjadi sebuah realitas dan menjaga kepercayaan tersebut," ujarnya.
Ibu tiga anak tersebut memberikan pesan pada anak muda terutama Gen Z, ia menuturkan bahwa investasi terbaik bukanlah uang atau aset finansial, melainkan kemampuan diri.
Pengalaman pendidikannya yang Panjang, dari International Business Management di Universitas Petra hingga program "double degree" di Inholland University Belanda, menjadi fondasi yang menguatkan kiprahnya sebagai pengusaha dan pejabat publik.
“Investasi terbaik adalah pada skill dan network. Kalau kita menaruh waktu, tenaga, dan fokus untuk mengasah kemampuan, peluang ekonomi akan mengikuti,” ujarnya.
Sherly menilai banyak anak muda masih terjebak mengejar gelar tanpa memikirkan bagaimana mengubah ilmu menjadi nilai yang dibutuhkan pasar. Ia menekankan pentingnya komunikasi, storytelling, critical thinking, hingga problem solving sebagai keterampilan atau skill inti yang harus dikuasai saat ini.
Sherly yang kerap kali aktif dalam kegiatan sosial juga mengingatkan agar Gen Z tidak terjebak ikut-ikutan alias FOMO dalam investasi seperti emas atau kripto.
"Anak muda harus memastikan dulu memahami risiko investasi sebelum terjun dan harus tahu dulu, baru investasi," katanya.
Menanggapi isu PHK yang marak, Sherly menilai hal itu sering kali dipicu kondisi makroekonomi, bukan performa individu. Ia justru melihat peluang dari kondisi tersebut.
“Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Ini bisa menjadi awal belajar kewirausahaan,” tuturnya.
Ia mencontohkan peluang digital seperti berjualan online, menjadi konten kreator, freelance, hingga menghasilkan karya seni sebagai pintu masuk yang dapat berkembang menjadi sumber pendapatan berkelanjutan. Sebagai penutup, Sherly mengingatkan bahwa ketekunan dan optimisme tetap menjadi kunci.
“Selalu bersyukur dan percaya bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha,” tegasnya.
Isu Konglomerasi Tambang
Sherly beberapa kali dikaitkan terkait isu dugaan keterlibatannya dalam aktivitas pertambangan ilegal yang kini menjadi sorotan publik. Untuk itu, Sherly buka suara terkait isu tersebut. Ia menegaskan tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi proses hukum dan mempersilahkan aparat penegak hukum bertindak jika ditemukan pelanggaran.“Kalau dianggap perusahaan saya melakukan kesalahan, silahkan diproses secara hukum. Saya sebagai gubernur tidak punya otoritas untuk menghalangi,” tegasnya.Sherly menjelaskan bahwa kepemilikan tambang yang dikaitkan dengannya merupakan warisan dari almarhum suaminya. Ia mengklaim seluruh aktivitas usaha yang berjalan telah diupayakan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.“Saya sudah sampaikan, tambang itu awalnya milik almarhum suami saya, kemudian diwariskan kepada saya. Semua saya jalankan sesuai aturan. Kalau saya melakukan ilegal, tentu saya siap menerima konsekuensi hukum,” ujarnya.Bahkan, Sherly menegaskan tidak masuk akal jika dirinya sebagai kepala daerah melakukan aktivitas ilegal di tengah upaya pemerintah pusat memberantas tambang ilegal.“Saya tidak melakukan penambangan ilegal. Tidak mungkin saya sebagai gubernur melakukan itu. Tidak ada pengusaha waras yang mau mengambil risiko sebesar itu,” imbuhnya.
Sherly menyadari bila Maluku Utara mempunyai potensi kekayaan tambang yang besar untuk itu ia mulai menyiapkan peta jalan untuk mengubah nilai hasil tambang nikel Maluku Utara untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia lokal.
Mengingat seiring berjalannya waktu, Sherly mengakui bila setiap harinya cadangan mineral akan terus berkurang namun perekonomian harus tetap berkembang. Sherly menegaskan komitmennya untuk menggunakan momentum pertumbuhan ekonomi tinggi guna membangun sektor pendidikan dan kesehatan. Ia menilai kekayaan sumber daya alam bisa menjadi modal investasi manusia yang berkelanjutan bagi masa depan daerah."Tugas kita saat ini adalah bagaimana mengkonversi kekayaan alam kita dalam hal ini nikel menjadi jembatan dan menyiapkan pilihan peluang masa depan yang lebih baik, bagaimana menjadikan kekayaan alam menjadi kekayaan manusia," tutupnya.