Jakarta, - Baru-baru ini, kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini terjadi di wilayah Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Rabu (22/7/2026) kemarin.
Puluhan siswa dan guru di Pesantren Al Almansuriyah Desa Mekarsari mengeluhkan pusing, muntah dan diare.
Puskesmas Cibatu mendadak dipenuhi pasien pada Rabu (22/7/2026) malam. Mayoritas korban merupakan santri usia sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan yang diduga berasal dari program MBG.
Lonjakan pasien membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menambah tempat tidur lipat untuk mengantisipasi membludaknya korban yang datang ke fasilitas kesehatan.
Hingga Rabu malam, sedikitnya 31 orang telah menjalani perawatan di Puskesmas Cibatu. Korban tidak hanya berasal dari Ponpes Al Mansuriah, tetapi juga dari sekolah lain yang menerima menu MBG pada hari yang sama.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana, mengatakan berdasarkan informasi sementara, para pasien mulai mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Sebagian makanan dimakan di lingkungan pesantren, sementara sebagian lainnya dibawa pulang ke rumah.
"Ada SD dan SMP yang saat ini sudah berada di Puskesmas, sebanyak 31 orang. Informasi sementara, makanan berasal dari MBG. Ada yang disantap di lokasi, ada juga yang dibawa pulang ke rumah," ujar Nurdin.
Santri Mengaku Mulai Sakit Sejak Sehari Sebelumnya
Salah seorang santri, Dendi, mengaku mulai merasakan sakit perut sejak sehari sebelumnya. Namun, kondisi memburuk pada Rabu hingga akhirnya harus dibawa ke Puskesmas bersama santri lainnya.
Menu yang dikonsumsi para santri terdiri dari nasi, telur berbumbu, dan rendang. Hingga kini belum dapat dipastikan makanan mana yang menjadi penyebab dugaan keracunan karena Dinas Kesehatan masih melakukan pengujian sampel makanan.
"Sakit perut, mual, sama BAB terus. Kerasanya dari kemarin, sama yang lainnya juga, pas sudah makan MBG," ujar Dendi.
Polisi Ambil Sampel, Dapur MBG Akan Diperiksa
Pemerintah Kabupaten Garut memperkirakan jumlah korban masih berpotensi bertambah. Pasalnya, sebagian penerima MBG membawa makanan tersebut ke rumah sehingga gejala bisa muncul beberapa jam setelah dikonsumsi.
Hingga saat ini belum ada laporan korban meninggal dunia. Meski demikian, tenaga medis masih bersiaga menangani pasien yang terus berdatangan ke Puskesmas Cibatu.
Sementara itu, aparat kepolisian telah mengamankan sejumlah sampel makanan untuk diuji di laboratorium. Selain itu, petugas juga akan memeriksa dapur penyedia makanan MBG guna memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi terhadap proses pengolahan makanan akan menjadi dasar untuk menentukan apakah insiden ini benar disebabkan oleh makanan program MBG atau faktor lain.