Dino Patti soal Indonesia Absen Pemakaman Khamenei: Takut ke Amerika?

Jakarta, - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Dino Patti Djalal, melontarkan kritik menohok dan pertanyaan tajam kepada pemerintah karena Indonesia absen di pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.

“Apakah kebijakan luar negeri RI mulai dibayangi rasa takut terhadap Amerika Serikat?” tulis Dino elalui akun Instagram pribadinya, @dinopattidjalal, pada Minggu (5/7/2026).

Pertanyaan ini muncul menyusul absennya delegasi resmi Indonesia dalam rangkaian pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kritik ini disampaikan Dino melalui akun instagram pribadinya.

Kronologi Wafatnya Ayatollah Khamenei

Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan meninggal dunia di usia 86 tahun akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menghantam Teheran. Rangkaian upacara pemakaman kemudian digelar mulai 3 hingga 9 Juli 2026 di sejumlah kota di Iran, sebelum jenazahnya dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis (9/7/2026).

Prosesi pemakaman ini disebut-sebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah, dengan jutaan pelayat turun ke jalan.

Iran Berulang Kali Mengundang, RI Tak Merespons

Dalam unggahannya, Dino mengaku mendengar bahwa pemerintah Iran telah melakukan berbagai upaya gigih untuk mengundang Indonesia mengirimkan delegasi resmi, namun undangan tersebut tidak pernah mendapat tanggapan dari Jakarta. Ia bahkan menyinggung bahwa Iran, sebagai negara berdaulat, tentu punya harga diri dan tidak mungkin terus-menerus “mengemis” kehadiran Indonesia dalam acara sepenting itu.

Karena tidak ada keputusan yang diambil, Indonesia akhirnya hanya diwakili oleh Duta Besar RI untuk Iran dan Turkmenistan, Rolliansyah Soemirat, bukan delegasi resmi setingkat menteri. Dino menyebut sikap ini dianggap oleh pihak Teheran sebagai bentuk penyepelekan terhadap undangan tersebut.

Satu-satunya Negara Muslim Terbesar yang Absen

Dino membandingkan sikap Indonesia dengan negara-negara lain yang tanpa ragu mengirimkan delegasi resmi setingkat menteri, yakni Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Pakistan, Kazakhstan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, dan Bangladesh — bahkan Pakistan mengirim delegasi setingkat presiden. Ia menegaskan bahwa dari daftar negara yang hadir, Indonesia menjadi satu-satunya negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang justru absen.

“Apakah Kita Takut Amerika?”

Poin paling tajam dalam kritik Dino adalah pertanyaan retorisnya soal kemungkinan pengaruh tekanan Amerika Serikat terhadap sikap Jakarta.

Dino mempertanyakan apakah politik luar negeri bebas aktif Indonesia mulai luntur karena Indonesia takut atau sungkan terhadap Amerika Serikat, sekaligus melontarkan pertanyaan yang sama dalam bahasa Inggris untuk menegaskan keseriusan sorotannya soal faktor ketakutan dalam kebijakan luar negeri RI.

Namun, Dino juga membuka kemungkinan lain: bahwa absennya delegasi RI bukan soal ketakutan, melainkan cerminan manajemen sistem politik luar negeri yang bermasalah — di mana surat undangan diduga tersendat di berbagai meja birokrasi tanpa ada pejabat yang berani mengambil keputusan.

Singgung Anis Matta yang Sibuk ke Asia Tengah

Dino turut menyoroti bahwa Indonesia sebenarnya memiliki opsi untuk tetap hadir tanpa harus mengirim Menteri Luar Negeri.

Dia menyebut nama Wakil Menteri Luar Negeri urusan Dunia Islam, Anis Matta, yang menurutnya bisa saja ditugaskan hadir mewakili Indonesia. Namun, pada saat pemakaman berlangsung, Anis Matta justru sedang melakukan kunjungan kerja rutin ke kawasan Asia Tengah.

Iran Disebut Sahabat Lama Indonesia

Dino mengingatkan bahwa Indonesia dan Iran adalah sahabat lama yang hubungannya selalu terjaga hangat dan saling menghormati, tanpa pernah ada konflik di antara kedua negara.

Menurutnya, kehadiran delegasi resmi Indonesia dalam penghormatan terakhir untuk Khamenei semestinya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bahwa serangan yang menewaskan Khamenei adalah tindakan ilegal yang melanggar hukum dan norma internasional.

Dia menutup kritiknya dengan menegaskan bahwa diplomasi bebas aktif seharusnya berarti diplomasi yang berprinsip, bukan diplomasi yang penuh sungkan dan bersembunyi ketika harus mengambil sikap dalam situasi sensitif.

Bukan Kritik Pertama Soal Sikap RI terhadap Iran

Ini bukan kali pertama Dino menyoroti sikap pemerintah terkait Iran. Pada awal Maret 2026, tak lama setelah kabar wafatnya Khamenei, Dino juga mempertanyakan absennya ucapan belasungkawa publik dari pemerintah Indonesia.

Belakangan terungkap bahwa Presiden Prabowo Subianto sempat mengirim surat belasungkawa resmi secara tertutup kepada Presiden Iran, meski tidak diumumkan ke publik.