Peta Energi Berubah, Indonesia Mulai Bidik Minyak Rusia

[INTRO]

 

Perkembangan babak baru hubungan energi Indonesia dan Rusia di tengah perubahan peta perdagangan minyak global. Akhirnya Peta Energi Berubah, Indonesia Mulai Bidik Minyak Rusia . Rencana Indonesia mengimpor minyak mentah dari Rusia mulai memasuki tahap implementasi.

Pembelian minyak Rusia mulai kembali meningkat setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) mengubah kebijakannya pada Maret 2026. Sebelumnya, pembelian minyak Rusia dianggap sebagai aktivitas berisiko karena masih dibayangi sanksi dari negara-negara Barat.

Akibat kondisi tersebut, pembeli minyak Rusia sebagian besar hanya berasal dari perusahaan-perusahaan di China dan sebagian dari India. Banyak negara dan perusahaan lain memilih berhati-hati untuk menghindari potensi pelanggaran sanksi.  Pelanggaran  sanksi dari negara barat khususnya.

Namun, situasi berubah setelah pemerintah AS mengeluarkan kebijakan waiver atau pengecualian terhadap pembelian minyak Rusia pada 12 Maret 2026. Kebijakan ini memberi ruang bagi transaksi minyak Rusia di tengah ketidakpastian pasokan energi global.

Langkah tersebut dinilai mencerminkan bahwa, di saat pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah terganggu, pasar Asia masih membutuhkan minyak Rusia untuk menjaga kestabilan pasokan dan memenuhi kebutuhan energi di kawasan.

 Di saat perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah, Rusia justru muncul sebagai salah satu negara yang memperoleh keuntungan dari bergesernya arus perdagangan minyak ke Asia.
 
 
Situasi dimana sudah mulai berubah setelah pemerintah AS mengeluarkan kebijakan waiver terhadap pembelian minyak Rusia . Kebijakan itu menunjukkan, di tengah terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah, pasar Asia masih membutuhkan minyak Rusia untuk menjaga keseimbangan pasokan. Perpanjangan kebijakan tersebut kemudian mendorong semakin banyak negara Asia memandang minyak Rusia bukan lagi sekadar pasokan darurat, melainkan bagian dari strategi menjaga ketahanan energi. Indonesia menjadi salah satu negara yang mulai bergerak ke arah tersebut.
 
 Bahlil menyatakan Lemigas akan ditugaskan mengimpor minyak mentah Rusia sebagai tindak lanjut komitmen pembelian hingga 150 juta barrel minyak dari Rusia.
 
Alasan Indonesia masih perlu membidik minyak Rusia 
Keadaan yang saat ini dihadapi adalah  terdapat persoalan mendasar yang dihadapi sektor energi nasional. Produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan selama beberapa dekade terakhir. Produksi minyak mentah Indonesia pada Mei 2026 hanya sekitar 577.000 barrel per hari (bph), lebih rendah dibandingkan target pemerintah sebesar 610.000 bph. Angka itu juga jauh menurun dibandingkan produksi sekitar 1,5 juta bph pada dekade 1990-an.
 
Indonesia memiliki kapasitas kilang sekitar 1,2 juta bph, tetapi tingkat pengoperasiannya hanya sekitar 950.000 bph atau sekitar 80 persen dari kapasitas. Kondisi itu menyebabkan Indonesia mengalami defisit minyak mentah.
 
Sebagian minyak yang diproduksi di dalam negeri memiliki karakteristik yang kurang sesuai dengan kebutuhan sejumlah kilang. Di sisi lain, konsumsi produk minyak bumi nasional diperkirakan mencapai 1,6 juta bph, jauh di atas kemampuan pengolahan dalam negeri.
 
Akibatnya, Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah maupun BBM.
 
Sepanjang 2025 hingga 2026, Indonesia rata-rata mengimpor sekitar 370.000 barrel minyak mentah per hari. Nigeria menjadi pemasok terbesar dengan volume sekitar 100.000 bph, disusul Angola, Gabon, Arab Saudi, dan Brasil.
 
 Defisit bensin masih besar Ketergantungan impor paling besar terjadi pada bensin. Permintaan bensin nasional diperkirakan mencapai sekitar 690.000 bph, sementara sekitar 60 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.
 
Sepanjang 2025, impor bensin Indonesia rata-rata mencapai sekitar 430.000 bph, mencerminkan belum mampunya produksi domestik memenuhi konsumsi. Untuk solar, ketergantungan impor relatif lebih kecil karena Indonesia menjalankan program mandatori biodiesel.
 
Meski demikian, Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan solar. Di sinilah Rusia mulai memainkan peran lebih besar.