Benarkah Konflik Berakhir? Pakar Ragu Kesepakatan Iran-AS Bawa Damai

[INTRO]

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa Teheran dan Amerika Serikat telah mencapai titik temu dalam sebagian besar isu yang dibahas dalam perundingan yang sedang berlangsung. Pernyataan ini memunculkan harapan baru bahwa kedua negara semakin dekat menuju kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, peluang perdamaian masih belum sepenuhnya pasti. Iran menegaskan bahwa belum ada keputusan final terkait kesepakatan tersebut dan sejumlah isu penting masih harus dibahas lebih lanjut. Teheran juga menyebut masih terdapat perbedaan pandangan dalam beberapa poin krusial yang menjadi bagian dari negosiasi.

Di tengah optimisme tersebut, kedua pihak masih berhati-hati dalam memberikan kepastian mengenai waktu penandatanganan kesepakatan. Pemerintah Iran bahkan menyatakan bahwa berbagai laporan mengenai jadwal penandatanganan masih bersifat spekulatif dan belum ada kesepakatan yang benar-benar difinalisasi.

 

Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, mengungkap kemungkinan penawaran damai yang disebut Iran bisa saja ditolak Presiden AS Donald Trump sepihak. Yang padahal, kesepakatan damai itu tentu dikirim oleh AS.

"Berita tersebut kemungkinan dari pihak Iran, yang oleh Trump dikatakan tidak benar. Kalau benar sih, bagus sekali buat Iran," ujar Hikmahanto saat dihubungi, Minggu (14/6/2026).

Hikmahanto yakin kedua nota kesepahaman antara Iran dan AS belum ada yang disepakati. Dia berbicara Iran juga kemungkinan bermain `kartu`.

"Jadi saat ini belum ada dokumen yang disepakati oleh kedua belah pihak. Iran sepertinya main kartu seperti Trump. Mengklaim saja sepihak biar nanti dibantah," katanya.

Lebih lanjut, dia mengaku tak bisa memprediksi momentum apa yang bisa mendamaikan kedua negara itu. Hikmahanto yakin perang akan terus berlarut.

Karena itu, meskipun sinyal positif mulai terlihat dan sebagian besar isu disebut telah menemukan titik temu, proses menuju perdamaian penuh masih memerlukan waktu. Hasil akhir perundingan akan sangat bergantung pada kemampuan kedua negara menyelesaikan perbedaan yang tersisa dan menjaga komitmen terhadap kesepakatan yang sedang dirancang.