Jakarta, - Presiden Prabowo Subianto menyebut pembunuhan Marsinah melibatkan kolusi antara aparat negara dengan kapitalis. Ia mengungkapkan pandangannya itu saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu, 16 Mei 2026 atau hampir 33 tahun setelah kematian sang aktivis buruh.
Saat berada di kampung halaman Marsinah tersebut, Prabowo mengingat kembali peristiwa pembunuhannya yang terjadi pada 1993. "Saya waktu itu masih muda, saya dengar-dengar peristiwa di Jawa Timur tapi saya tidak mendalami," kata Ketua Umum Partai Gerindra ini dalam pidato yang disiarkan Sekretariat Presiden, mengutip Tempo.
Prabowo berusia 41 tahun saat peristiwa penculikan dan pembunuhan Marsinah terjadi. Pada tahun itu, ia bertugas di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sebagai komandan Grup 3/Sandhi Yudha Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.
Kini, puluhan tahun setelah kematian Marsinah, Prabowo mengatakan dirinya memahami apa yang terjadi. "Akhirnya hari ini saya baru sadar, baru paham. Kolusi, aparat dipakai oleh kapitalis-kapitalis tertentu," tuturnya.
Mantan menteri pertahanan ini menyebut persekongkolan kapitalis dengan aparat membudaya di Indonesia. Dia pun ingin budaya itu segera dihentikan.
Setiap aparat negara, kata Prabowo, harus hidup dan mati untuk rakyat. "Semua aparat, dari yang tertinggi sampai yang terendah harus mati untuk rakyat, bukan malah menindas rakyat," ucap dia.
Prabowo memerintahkan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar tidak ada lagi aparat yang membekingi penyelewengan. Keduanya turut hadir dalam acara peresmian Museum Marsinah di Nganjuk.
"Panglima TNI, Kapolri, saya tidak mau dengar lagi ada aparat yang tidak menegakkan hukum keadilan dan kebenaran tidak boleh beking macam-macam," kata Prabowo yang juga purnawirawan angkatan darat.
Marsinah adalah seorang aktivis buruh yang tewas dibunuh karena memperjuangkan hak-hak pekerja di tempat dia bekerja di PT CPS Sidoarjo, Jawa Timur.
Lahir pada 10 April 1969 di Nganjuk, Jawa Timur, ia bekerja sebagai buruh di PT Catur Surya Putra (CPS), pabrik arloji di Sidoarjo. Marsinah aktif memimpin aksi-aksi untuk menuntut kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja.
Pada 9 Mei 1993, Marsinah yang berusia 24 tahun ditemukan tewas di hutan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur. Pembunuhan Marsinah adalah pelanggaran berat hak asasi manusia (HAM) yang sampai saat ini masih belum tuntas.
Marsinah diduga dibunuh setelah disiksa dan diculik karena dirinya getol memimpin aksi demonstrasi untuk kenaikan upah buruh di pabrik tempatnya bekerja.
Pada 3 Mei 1993, Marsinah memimpin aksi demonstrasi di pabrik tempatnya bekerja. Akibat unjuk rasa tersebut, manajemen PT CPS memanggil 13 buruh yang dianggap sebagai penggerak aksi mogok dengan bantuan aparat militer.