[INTRO]
Sebanyak 1.525 warga Desa Adat Kanekes atau lebih dikenal sebagai Orang Baduy dari Kabupaten Lebak berjalan kaki hingga 135 kilometer menuju Kota Serang untuk menjalankan tradisi Seba 2026, sekaligus menitipkan pesan penting tentang pelestarian alam kepada pemerintah Provinsi Banten. Dipimpin Kepala Desa Kanekes sekaligus Jaro Pamarentah, Jaro Oom, ribuan warga Baduy Luar dan Baduy Dalam mendatangi Gedung Negara di Kota Serang sebagai bentuk silaturahmi sekaligus penyampaian amanat adat.
Pesan itu, menurut Jaro Oom, merupakan amanat dari lembaga adat yang dipimpin Puun. Mereka meminta pemerintah daerah agar lebih serius menjaga kelestarian hutan dan mencegah pencemaran sungai di wilayah Banten. Jaro Oom menyampaikan pesan langsung kepada Gubernur Banten Andra Soni untuk melestarikan alam. "Perayaan Seba tahun ini diikuti oleh 1.525 orang. Peserta terdiri dari warga Badui Luar dan Badui Dalam yang datang dengan maksud bersilaturahmi serta menyampaikan amanat dari lembaga adat kepada pemerintah daerah," kata Jaro Oom di Kota Serang, Sabtu (25/4) sebagaimana dilansir Antaranews.
Kedatangan mereka disambut oleh Gubernur Banten, Andra Soni, dalam sebuah pertemuan yang sarat makna budaya dan kepedulian lingkungan. Dalam forum tersebut, masyarakat Baduy menyuarakan kegelisahan atas indikasi kerusakan alam, terutama di kawasan pegunungan dan aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Bagi masyarakat Baduy, harmoni dengan alam bukan sekadar prinsip hidup, melainkan fondasi kesejahteraan lahir dan batin. Karena itu, momentum Seba dimanfaatkan untuk mengingatkan pemerintah bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan keseimbangan lingkungan. Seba tahun ini tergolong Seba Leutik, di mana warga menyerahkan hasil bumi dan laksa sebagai simbol penghormatan, tanpa membawa perlengkapan dapur seperti dalam Seba Gede.
Perjalanan panjang yang ditempuh warga Baduy Dalam—berjalan kaki ratusan kilometer tanpa kendaraan—menjadi cerminan ketaatan pada adat sekaligus dedikasi menjaga tradisi leluhur. Ritual Seba sendiri menandai penutup rangkaian kegiatan pascapanen dan masa puasa tiga bulan yang dikenal sebagai Kawalu.
Melalui Seba, masyarakat adat Kanekes menegaskan komitmen mereka untuk terus menjaga tradisi dan menjalin hubungan harmonis dengan pemerintah, sembari menyuarakan pesan yang semakin relevan: menjaga alam berarti menjaga masa depan.