Terutama dampak krisis energi yang membuat produk beberapa komoditas juga terpengaruh.
Dia menyebut, dampak perang tidak hanya berdampak ke pasokan energi tapi juga helium.
"Dampak perang tidak hanya berdampak ke energi tetapi juga menyebabkan krisis Helium," jelasnya dalam akun Instagram.
Menurut Arsjad, komoditas helium sangat diperlukan dalam produksi teknologi seperti microchip atau artifisial intelegence.
Menurut Arsjad, helium dunia banyak dipasok dari negara timur tengah seperti Qatar.
"Pasokan helium sekitar 30-40 persen dipasok oleh Qatar," ujarnya.
Sehingga, dengan adanya gangguan distribusi melalui selat Hormuz, berakibat pasokan helium dari Qatar terganggu.
"Kalau sampai lebih dari 3 bulan masalah selat Hormuz tidak selesai, maka apa yang terjadi? Disrupsi suplai chain, semi konduktor. Menyebabkan harga naik terus karena tidak ada barangnya, kita semua akan terdampak. We Hope Peace," pungkas Arsjad.