Jakarta, - Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Bitung ini dirasakan dan berdampak ke beberapa wilayah.
Berdasarkan penghitungan skala MMI (Modified Mercalli Intensity) yang dipaparkan BMKG, gempa bumi ini dirasakan di Kota Ternate dengan intensitas V-VI skala MMI.
"Yaitu getaran dirasakan oleh semua penduduk, kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh, cerobong asap pada pabrik rusak dan terjadinya kerusakan ringan di beberapa bangunan," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers, Kamis (2/4).
Kemudian juga dirasakan di Manado dengan intensitas IV-V MMI di mana getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun.
Lalu di Bone Bolango, Gorontalo Utara dengan intensitas III MMI yaitu getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan-akan ada truk yang berlalu.
Selanjutnya dirasakan juga di kabupaten Boalemo dan Pohuwato dengan intensitas II-III MMI yaitu getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang tergantung bergoyang.
BMKG juga melaporkan gempa mengakibatkan kerusakan terhadap bangunan seperti gedung dan gereja.
"Hingga saat ini terdapat laporan dampak kerusakan di gedung KONI Sario Manado, Gereja Kalvari di Pulau Batang Dua Kota Ternate yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut," kata Teuku.
Sebelumnya, BMKG melaporkan gempa terjadi sekitar pukul 05.48 WIB. Titik gempa berada di 129 Km tenggara Bitung, dengan kedalaman 62 Km.
Terdapat potensi tsunami berstatus siaga dengan ketinggian tsunami diperkirakan 0,5 hingga 3 meter. Berpotensi terjadi di wilayah Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung.
"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini berpotensi tsunami di wilayah Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung dengan status siaga dengan ketinggian tsunami diperkirakan 0,5 hingga 3 meter," kata Kepala Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers, Kamis (2/4).
1 Lansia Meninggal-2 Luka, Kantor Wali Kota Rusak
Gempa bumi yang mengguncang wilayah Bitung Sulawesi Utara (Sulut) menyebabkan satu warga lanjut usia atau lansia di Manado meninggal dunia dan dua orang lainnya mengalami luka-luka.
Warga menjadi korban akibat terkena runtuhan bangunan usai gempa berkekuatan magnitudo 7,6 tersebut.
"Hingga saat ini jumlah korban 3 orang, satu tewas, 2 luka-luka," kata Wakapolda Sulut, Brigjen Pol Awi Setiyono, Kamis (2/4).
Humas Basarnas Manado Nuriadin Gumeleng mengatakan bahwa korban meninggal dunia diketahui identitas perempuan inisial DL (70).
"Korban meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan gedung dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara," kata Nuriadin.
Kantor pemerintah hingga tempat ibadah rusak
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bitung, melaporkan empat kecamatan terdampak gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,6. Selain itu, kantor Wali Kota Bitung hingga kantor BPBD Bitung juga mengalami kerusakan.
"Gempa bumi ini dirasakan oleh masyarakat Kota Bitung dan menimbulkan kepanikan karena guncangan gempa sangat kuat terasa kurang lebih 15-20 detik," kata Kepala Pelaksana BPBD Bitung, Fivy Yurico Kadeke, mengutip detikcom.
Berdasarkan dari BPBD Bitung, gempa terdampak di empat kecamatan Kota Bitung, yakni Maesa, Matuari, Madidir dan Lembeh Utara. Sejumlah bangunan milik warga hingga tempat ibadah juga mengalami kerusakan.
Dinding di lantai 4 kantor Wali Kota Bitung runtuh akibat gempa. Kerusakan juga terjadi di Kantor BPBD Bitung yang dindingnya rubuh akibat getaran gempa tersebut.
Selain itu, rumah warga di Kelurahan Bitung Barat Dua, Kecamatan Maesa, juga mengalami kerusakan setelah dindingnya rubuh. Kerusakan juga terjadi di sejumlah rumah ibadah.
"Berdasarkan laporan masyarakat sekitar pantai Girian Bawah sesaat kejadian gempa kondisi air laut mengalami surut kurang lebih 7-10 meter dari tepian pantai dan pantai candi (Bitung Barat Dua) air sempat surut kurang lebih 5 meter dari tepian pantai," papar Fivy.
Selain itu, sisi barat Gedung KONI Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara juga dilaporkan rusak.