Kawasan Timur Tengah memanas sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari. Total sedikitnya 1.340 orang tewas akibat rentetan serangan AS-Israel di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Baru-baru ini, Teheran meningkatkan serangannya terhadap infrastruktur dengan menggempur fasilitas pengolahan air dan pembangkit listrik di wilayah Kuwait, dan menyerang kilang minyak di Haifa, Israel, hingga terbakar dengan rentetan rudal.
Trump memberikan responsnya terhadap serangan Teheran tersebut, seperti dilansir Al Arabiya, Selasa (31/3/2026), Trump menjawab: "Anda akan melihatnya segera."
Pernyataan itu disampaikan setelah Trump sebelumnya melontarkan ancaman, via media sosial Truth Social, bahwa AS akan "meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya" semua pembangkit listrik, sumur minyak, dan terminal ekspor minyak di Pulau Kharg, serta pabrik desalinasi air Iran, jika perundingan, yang dimediasi Pakistan, Turki, dan Mesir, berujung kegagalan.
Saat Trump mengerahkan lebih banyak kekuatan militer ke Timur Tengah yang dapat menimbulkan kerusakan dahsyat terhadap Iran, dia juga mendorong sisa-sisa rezim Teheran untuk mencapai kesepakatan sebelum terlambat dan mengancam akan menyerang di titik paling menyakitkan: infrastruktur energi Iran.