Respons TNI soal Tudingan TPNPB-OPM soal Penembakan Pesawat Smart Air

Jakarta, - Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan tegas membantah tudingan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) tentang pesawat Smart Air yang dituduh mengangkut aparat militer saat mendarat di Bandar Udara Korowai Batu, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, pada Rabu siang, 11 Februari 2026.

Sebelumnya, TPNPB-OPM menembaki pesawat perintis milik PT Smart Cakrawala Aviation lantaran kendaraan itu diduga mengangkut pasukan keamanan untuk diturunkan ke pedalaman Papua.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigadir Jenderal Donny Pramono menampik tuduhan milisi pro-kemerdekaan Papua tersebut.

“Kami tegaskan bahwa TNI tidak pernah menggunakan pesawat sipil sebagai kedok operasi militer. Klaim tersebut adalah pernyataan sepihak,” kata Donny saat dihubungi pada Ahad malam, 15 Februari 2026.

Dia menekankan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa korban dari penembakan pesawat itu adalah warga sipil. Dua awak pesawat dinyatakan meninggal akibat serangan itu, yaitu Kapten Egon Erawan selaku pilot dan Kapten Baskoro sebagai kopilot.

Pesawat dengan tipe A/C C208B Ex dengan rute Tanah Merah (TMH)-Korowai Batu (DNW)-Tanah Merah (TMH) itu mengangkut 13 penumpang sipil yang terdiri dari 12 orang dewasa dan seorang bayi. Seluruh penumpang dinyatakan selamat dan pada saat penembakan mereka bersembunyi di hutan sisi landasan.

TNI pun mengecam penembakan terhadap pesawat Smart Air tersebut. “Yang menjadi korban adalah warga sipil dan kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun,’ kata Donny.

Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz telah mengidentifikasi terduga pelaku penembakan pesawat Smart Air. Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz Komisaris Besar Yusuf Sutejo mengatakan bahwa pelaku adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dari Batalion Kanibal dan Semut Merah yang berasal dari Yahukimo, Papua Pegunungan.

KKB merupakan istilah yang digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk merujuk pada TPNPB-OPM. Saat ini aparat gabungan masih melakukan pengejaran terhadap kelompok tersebut. Yusuf juga memastikan penyelidikan dan penegakan hukum akan berjalan secara terukur dan profesional.

Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom membenarkan bahwa mereka bertanggung jawab terhadap insiden penembakan pesawat tersebut. Sebby menuturkan, Batalion Kanibal yang dipimpin oleh Elkius Kobak dan Kopitua Heluka menyerang pesawat itu karena dianggap melanggar hukum humaniter internasional.

TPNPB-OPM, kata Sebby, mencurigai bahwa maskapai itu kerap mengangkut aparat TNI-Polri ke pedalaman Papua yang ditandai sebagai wilayah teritorial mereka. Sebby mengklaim tindakan TPNPB-OPM adalah mekanisme pertahanan diri karena menolak keberadaan pemerintah maupun penduduk Indonesia.

“Pesawat-pesawat sipil dilarang mengangkut militer dan polisi Indonesia. Kalau berani masuk, mereka menjadi target tembak,” kata Sebby pada Sabtu, 14 Februari 2026.