-
Dunia digital memang tidak punya perasaan dalam penyajian kontennya sehingga bagi keluara yang berduka sangat menyayat hati dan mempraktikkan etika digital dengan cara memberikan ruang bagi keluarga yang ditinggalkan untuk berduka dengan tenang. Media sosial saat ini diguncang oleh gelombang kampanye bertajuk "Death is Not Content" atau "Kematian Bukanlah Konten".
Seruan ini pertama kali digaungkan oleh sahabat-sahabat Lula, termasuk rekan influencer, yang membagikan pesan seragam: “Someone passed away. A life was lost. Death is not content. Let’s be mindful and respect the privacy of those who can no longer speak.”
Fenomena ini bermula ketika platform digital dibanjiri oleh unggahan yang mendokumentasikan prosesi duka secara berlebihan, bahkan cenderung eksploitatif demi meraih interaksi atau engagement. Banyak pihak menyayangkan adanya kamera yang menyorot terlalu dekat ke arah wajah keluarga yang berduka hingga pengambilan gambar jenazah yang dianggap melanggar privasi serta etika kemanusiaan yang mendasar.
Para aktivis media sosial dan masyarakat umum menilai bahwa batas antara "berbagi informasi" dan "mencari perhatian" kini semakin kabur. Tagar #DeathIsNotContent pun menjadi trending sebagai bentuk teguran kolektif bahwa momen kematian seseorang seharusnya dihormati dengan kesunyian dan privasi, bukannya dijadikan komoditas digital untuk mendulang likes maupun pengikut baru.
Kritik ini tidak hanya menyasar para kreator konten, tetapi juga perilaku netizen yang haus akan detail tragis dari sebuah kematian. Banyaknya komentar yang menanyakan kronologi secara tidak sensitif di tengah suasana berkabung dianggap sebagai cerminan dari penurunan rasa kemanusiaan akibat ketergantungan pada konsumsi konten instan yang sensasional.
Para ahli ilmu kejiwaan berpendapat bahwa tekanan algoritma media sosial seringkali membuat orang kehilangan kompas moral demi tetap relevan di dunia maya. Namun, gerakan "Death is Not Content" menunjukkan bahwa masih ada kesadaran publik yang kuat untuk menarik garis tegas terhadap apa yang pantas dan tidak pantas dibagikan, terutama ketika menyangkut tragedi dan kehilangan nyawa.
Melalui momentum ini, masyarakat diajak untuk kembali mempraktikkan etika digital dengan cara memberikan ruang bagi keluarga yang ditinggalkan untuk berduka dengan tenang. Menghargai martabat mendiang jauh lebih penting daripada sekadar unggahan dokumentasi yang mengejar viralitas sesaat namun melukai perasaan orang-orang terdekat yang sedang berduka.
Harapannya, seruan ini menjadi titik balik bagi para pengguna internet untuk lebih bijak dalam memegang gawai mereka. Kematian adalah sebuah kedukaan yang sakral, dan sudah sepatutnya kita semua belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini diciptakan untuk menjadi bahan tontonan atau pemuas rasa penasaran publik di layar ponsel.