Jakarta, - Ketua Umum PDI Perjuangan (Ketum PDIP), Megawati Soekarnoputri blak-blakan bercerita saat peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli bahwa dirinya pernah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan.
Saat itu, Mega tidak habis pikir dirinya bisa dijemput paksa aparat kepolisian hingga diinterogasi oleh Kejaksaan lantaran hanya memperjuangkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di era orde baru.
“Saya bingungnya gini ya, waktu itu saya mikir, kita ini (PDIP) sah lho, kok sampai diserang itu ngopo tho yo (kenapa ya)? Bingung lho saya. Sebenarnya bingungnya ini toto coro (tata cara) apa ya? Saya dibawa polisi, ditanyai segala macam, dibawa ke Kejaksaan,” ungkap Megawati dalam pidatonya di acara HUT ke-50 PDIP di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (10/1).
Megawati lantas berbicara kepada pihak kejaksaan yang menginterogasinya dengan pertanyaan berulang-ulang.
Namun, Presiden Kelima RI tersebut enggan terkecoh dengan politik labeling zaman Orba kala itu. Tak sedikit pihak-pihak yang kritis terhadap rezim justru dilabeli komunis.
“Terserah apa yang ditulis, hanya satu yang saya bilang, saya enggak mau kalau dibilang komunis karena saya enggak pernah ikut. Kalau saya dibilang Sukarnois, yes,” tegas Megawati lalu disambut riuh tepuk tangan ribuan kader PDIP.
Mendengar pernyataan Mega, pihak Kejaksaan yang hendak menjemputnya pun sempat merasa bingung dan gugup.
"Mereka pada gugup semua, `enggak Bu enggak nanti Ibu kita antarkan`, saya emoh (tidak mau) nanti dilihat tetangga katanya tersangka, ya emoh dewek wae (tidak mau, kalian saja). Gitu loh, pemimpin gagah berani!“ imbuhnya menegaskan.
"Tahun 1999 Mestinya Saya Jadi Presiden"
Selian itu, Megawati mengaku seharusnya pada 1999 silam bisa menjadi presiden, namun karena tarik menarik politik justru itu tidak terjadi.
Hal itu disampaikannya dalam pidato politik pada puncak HUT ke-50 PDIP di JiExpo, Jakarta, Selasa (10/1) siang.
Mulanya dia mengungkap rekam jejak perjalanannya selama menjadi politikus sejak masa pemerintahan Orde Baru hingga kini. Megawati berseloroh dirinya tak pernah kurang memiliki pengalaman dalam dunia politik.
Putri dari proklamator juga Presiden pertama RI Sukarno itu mengaku pernah pula dikejar-kejar hingga ditangkap di era Orde Baru di bawah kepresidenan kedua RI Soeharto.
"Tadi kan saya udah nyombongin diri saya, yang patut disombongkan. Bayangin dong, saya kurang mainnya di politik apa? Dikejar udah, tinggal satu langkah ditangkap," kata Mega.
Namun, dia menyebut situasi itu justru berbalik. Ia kemudian menjadi anggota dewan selama tiga periode di masa Orde Baru hingga menjadi Wakil Presiden RI usai Pemilu 1999 pascareformasi.
Pada 1999, Mega mengatakan saat PDIP memenangi pemilu seharusnya dirinya menjadi presiden. Namun, hal itu tak terjadi karena situasi politik pada pemilihan presiden yang masih dilakukan di MPR kala itu.
Megawati pun mengaku memahami hal itu. Saat itu MPR memilih Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden, dan Megawati sebagai wakil presiden.
Megawati akhirnya naik pangkat menjadi presiden pada 2001 setelah Gus Dur dimakzulkan MPR.
"Mestinya, `99 [1999] itu kan--mestinya--kita menang dan saya mesti jadi presiden lho. Jangan lupa. Tapi kan kembali namanya ada politik. Itu politik," kata Mega.
Namun, Mega mengaku akhirnya dirinya pun menjadi presiden. Ia teranyar kembali mendapat penghargaan dari media CNBC Indonesia. Menurut dia, penghargaan tersebut tidak sembarangan karena ia dianggap mampu mengatasi krisis saat menjadi presiden.
"Jadi presiden. Dapat award dari CNBC. Itu enggak sembarangan loh. Apa saya yang minta? Bukan. Karena katanya saya dapat menyelesaikan waktu itu crisis," ucap satu-satunya perempuan di Indonesia yang pernah menjadi Wakil Presiden dan Presiden RI tersebut.