Terdakwa Eni Sebut Mekeng Tahu Pemberian Uang dari Pengusaha

Rabu, 23/01/2019 05:38 WIB
Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih (Foto: Viva)

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih (Foto: Viva)

Jakarta, law-justice.co -  Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih menyebut politikus satu partainya Melchias Marcus Mekeng tahu soal pemberian uang dari pengusaha pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Samin Tan (22/1).

"Samin Tan kenal dari Pak Mekeng, ketua fraksi saya, saat itu ada permasalahan perusahaan Pak Samin Tan, saya dipanggil Pak Mekeng, di ruangan kantor Pak Mekeng, lalu Pak Mekeng cerita ada permasalahan di perusahaan Samin Tan karena ada terminasi dari Kementerian ESDM ke perusahaan Samin Tan," kata Eni Maulani Saragih dalam sidang pemeriksaan terdakwa di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa.

Eni Maulani Saragih dalam perkara ini didakwa menerima suap senilai Rp4,75 miliar dari pemegang saham Blakgold Natural Resources (BNR) Ltd Johanes Budisutrisno Kotjo serta gratifikasi sejumlah Rp5,6 miliar dan 40 ribu dolar Singapura (sekitar Rp410 juta) dari pengusaha yang bergerak di bidang energi dan tambang.

Dalam dakwaan disebutkan bahwa Samin Tan selaku pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal yang bergerak di bidang jasa pertambangan batu bara dan memiliki anak perusahaan, yaitu PT Asmin Kolaindo Tuhup (AKT) yang juga bergerak di bidang pertambangan batu bara.

Samin Tan meminta bantuan Eni terkait permasalahan pemutusan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi 3 di Kalimantan Tengah antara PT AKT dengan Kementerian ESDM.

Eni menyanggupi untuk membantu memfasilitasi antara pihak Kementerian ESDM dengan pihak PT AKT.

"Memang terminasi bukan hanya perusahaan Samin Tan saja tapi perusahaan lain juga. Saya diminta Pak Mekeng untuk membantu perusahaan Samin Tan, AKT, karena ada komunikasi terhambat antara perusahan Samin Tan dengan kementerian ESDM," ungkap Eni.

Menurut Eni, sudah ada keputusan sela dari pokok perkara yang sudah dimenangkan Samin Tan di PTUN tapi tidak dijalankan oleh Kementerian ESDM.

"Tentu ini kewajiban saya ke ESDM, dalam hal ini Pak Jonan makanya kenapa saya ingin Pak Mekeng dan Pak Jonan hadir di sini agar persoalan PT AKT jelas karena itu tanggung jawab saya juga sebagai anggota DPR," tambah Eni.

Eni pun mengaku tidak pernah bicara secara langsung dengan Samin Tan karena selalu melalui Mekeng.

"Karena terus terang permintaan uang atau bantuan saya melalui Pak Mekeng," ungkap Eni.

Dalam dakwaan disebutkan Samin memberikan uang Rp4 miliar melalui Direktur PT Borneo Nenie Afwani sejumlah Rp4 miliar secara tunai di kantor PT AKT.

Selanjutnya pada 5 Juni, Eni mengirimkan pesan "whatsapp" kepada Nenie Afwandi untuk meminta tambahan uang kepada Samin Tan masih untuk pilkada kabupaten Temanggung. Samin melalui Nenie lalu memberikan uang tunai sejumlah Rp1 miliar kepada Eni melalui Tahta Maharaya.

"Mereka memberikannya lewat berkas, jadi berkas diberikan ke staf saya tapi stas saya tidak tahu berkas itu ada isinya. Tahta yang memberikan berkasnya ke saya, saya coba konfirmasi ke Samin Tan, tapi Samin Tan tidak jawab apapun, ini saya merasa ada (uang) jatuh dari langit tapi yang memberikan tidak tahu," katanya.

Sebagaimana yang dilansir dari Antara, namun, ia mengakui bahwa ia juga pernah meminta tambahan dari Samin Tan setelah mendapatkan uang Rp4 miliar itu.

"Saudara mengirimkan pesan 'Terima kasih untuk Rp4 miliarnya, nanti di rapat akan saya mempermalukan Jonan, lalu saudara juga menyampaikan ke Bu Nenie 'Pak Samin boleh dong tambahan, ada tambahan gak dari Pak Samin? Perlu banyak nih', apakah benar?" tanya jaksa penuntut umum (JPU) KPK Ronald Worotikan.

"Iya benar," jawab Eni.
 

(\)
Share:
Tags:


Berita Terkait

Komentar