Rudi Haryanto, Aktivis yang Melawan dengan Film

Selasa, 08/01/2019 10:01 WIB
Daniel Rudi Haryanto. Foto: Teguh Vicky Andrew

Daniel Rudi Haryanto. Foto: Teguh Vicky Andrew

Jakarta, law-justice.co - Daniel Rudi Haryanto bukan orang baru di gerakan prodemokrasi. Tapi di dunia perfilman dokumenter, tahun 2010 menjadi tonggak awal ketenarannya, ketika merilis sebuah film kontroversial berjudul Prison and Paradise. Sampai kini, ia tidak kapok membuat film bergenre serupa.

Orang-orang sudah mengenal namanya dengan tiga suku kata sekaligus: Daniel Rudi Haryanto. Selalu ada embel-embel “sutradara” di depan namanya. Padahal, pria yang kerap disapa Rudi, itu juga seorang pelukis handal. Bisa dibilang, seni rupa adalah darah aslinya, jauh sebelum mengenal dan menguasai dunia perfilman dokumenter.

Law-justice.co berkesempatan mengunjungi kediamannya di Studio Sarang Berang-Berang, Kemang, Jakarta Selatan. Pada Sabtu (22/12/2018) sore, Rudi bersedia meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dengan kami.

“Mau wawancara soal apa mas? Kalau tentang film saya mau,” kata dia dalam pesan singkat, saat merespon permintaan kami untuk berjumpa.

Tapi perbincangan itu merambah ke segala hal. Film, pada akhirnya hanya pembuka jalan bagi Rudi untuk turut berkomentar tentang kondisi terkini di Indonesia. Dari film, ia menghubungkan relasi seni, budaya, politik, dan kekuasaan yang saling berkelindan.

Sekali-sekali, Rudi tak mampu menahan diri untuk mengomentari tingkah laku para politisi, termasuk kawan-kawan lamanya. Begitu pun tentang aparat penegak hukum, tentara, pejabat negara, hingga perilaku politik sebagian masyarakat yang semakin mengental.

Semuanya membuat Rudi geleng-geleng kepala. Kondisi Indonesia saat ini, menurut pria kelahiran Kota Semarang itu, semakin krisis akan adanya ruang-ruang bercanda dan bercengkrama. Publik semakin enggan untuk saling bertatap muka dan sibuk di dunia maya. Akibatnya, mudah tersulut emosi.

Pada Awalnya Adalah Seorang Demonstran

Daniel Rudi Haryanto sudah beberapa jam menanti, tapi kami baru bisa tiba sekitar pukul 15.00 WIB. Kesan pertama ketika memasuki halaman komplek Studio Sarang Berang-berang, begitu tenang. Seperti bukan di Kemang yang terkenal sebagai pusat hiburan malam di Jakarta Selatan.

Melihat kedatangan kami, Rudi buru-buru menghentikan kegiatan melukisnya. Lukisan sebesar 1 meteran itu ia bawa ke dalam rumah. Tak lupa, ia menawari kami kopi, membuatnya sendiri di dapur, lalu menghidangkannya.

Rudi kembali menemui kami dengan bando ikat kepala yang khas ia kenakan dalam acara-acara publikasi film dan diskusi. Pria 40 tahun itu pun mulai bercerita tentang lika-liku hidupnya, sampai akhirnya memilih untuk berkecimpung di dunia perfilman dokumenter.

Anak keempat dari lima bersaudara itu terlahir dengan nama Rudi Haryanto di Kota Semarang, 17 April 1978. Ibunya bernama Menuk dan ayahnya, yang sudah meninggal pada 1994, bernama Sugeng Rodhmat. 

Rudi tenyata sudah lama menaruh minat pada film. Sejak kecil sudah gemar menonton acara Flora dan Fauna yang rutin disiarkan oleh Stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI). Ia sering dibuat kagum, bagaimana gambar-gambar itu bisa merekam kejadian nyata yang ada di lingkungan sekitar.

Selain itu, Rudi juga sudah akrab dengan hal-hal teknis seputar layar lebar. Ayahnya, Sugeng Rochmat, bekerja di bidang pemasaran sebuah produk logistik. Sugeng sering keliling dari desa ke desa se-Jawa Tengah untuk menyapa masyarakat dengan layar tancap.

“Dulu pas SD kalau libur kan bisa sebulan. Aku sering diajak tour ke desa-desa,” kata Rudi.

Ketika film diputar, Rudi kecil sering duduk di belakang layar. Ia melihat langsung bagaimana proyektor, lensa, dan cahaya itu bekerja membentuk sebuah gambar yang bergerak.

“Sampai sekarang, suara proyektor film itu masih terekam,” ucapnya.

Tapi Rudi tak kunjung tahu bagaimana cara kerja seperangkat alat-alat film layar tancap itu. Selepas sekolah menengah pertama, Rudi merantau ke Yogyakarta. Rudi memilih untuk mengasah bakat seni lukis yang juga ia gemari di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR).

Ternyata, Kota Gudeg tidak hanya mengembangkan insting seninya. Sebagai salah satu basis pergerakan yang menentang Orde Baru, Jogja juga mengajarkan Rudi tentang sebuah perlawanan. Di sanalah ia mengenal banyak tokoh-tokoh prodemokrasi, berikut dengan ideologi kiri yang melingkarinya. Sebab itu, Rudi tidak segan ketika diajak turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

Perlawanan itu pula yang mengantarkan Rudi pada masalah serius. Ketika menjabat sebagai Ketua Organ Siswa Intra Sekolah (OSIS), Rudi mengerahkan ratusan orang untuk menentang kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro. Akibatnya, ia dikeluarkan pihak sekolah karena dianggap mencemarkan nama baik SMSR.

Rudi sempat tidak terima dengan keputusan tersebut dan menggungat kepala sekolah SMSR secara perdata. Ia lantas menambahkan “Daniel” di depan namanya karena kesulitan mencari sekolah yang mau menerima sang demonstran. Rudi akhirnya lulus dari salah satu sekolah menengah di Jogja lewat jalur penyetaraan.

Tapi nasib itu tidak membuatnya jera. Rudi tetap turun ke jalan mendesak runtuhya Orde Baru. Ia sempat membangun sebuah Solidaritas Pelajar Indonesia untuk Demokrasi (SPID), yang oleh kawan-kawannya di Jakarta sering dianggap sebagai cabang dari SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi).

“Aku punya nazar tidak akan kuliah sebelum Soeharto lengser,” ucapnya.

Ketika presiden kedua Republik Indonesia itu benar-benar turun tahta, Rudi pun melanjutkan jenjang pendidikannya. Ia beranjak ke Ibu Kota, mengembangkan bakat seninya di Institute Kesenian Jakarta (IKJ), Fakultas Film dan Televisi.

“Jadi kalau orang tanya, mengapa selalu buat film yang sangat ideologis dan kritis, sebenarnya enggak begitu juga. Tapi memang hidupku tidak pernah bisa lepas dari dunia yang seperti itu,” kata Rudi.

Studio Sarang Berang-berang di Kemang, Jakarta Selatan. Foto: Teguh Vicky Andrew

Memilih Film Karena Lenin

Sutradara Daniel Rudi Haryanto sepertinya akan selalu terkenang pada Vladimir Lenin. Tokoh komunis Rusia itulah yang menjadi pemantik kenapa kemudian ia memilih jurusan film dokumenter. Salah satu pernyataan Lenin yang terkenal, Of All The Arts; Cinema Is The Most Important, membuatnya penasaran.

“Ah masa iya sih begitu? Aku dulu ingin membuktikannya,” kenang Rudi.

Sejak dulu, Rudi juga selalu merasa ada yang kurang dari gambar-gambarnya selama ini. Kurang hidup, begitu pikir dia. Karena ingin sejalan dengan seni lukis, akhirnya ia memilih film dokumenter. Tujuannya sama, ingin menyampaikan realitas melalui sebuah karya seni: gambar bergerak yang hidup. 

“Berbeda dengan film fiksi, dokumenter itu merekam cerita-cerita kehidupan yang sudah ada di depan mata. Kepekaannya akan berbeda, karena narasi dibangun dari realitas yang sudah ada,” jelasnya.

Di bangku kuliah, Rudi belajar tentang hal-hal teknis. Menjawab semua pertanyaan yang terngiang sejak kecil, saat melihat seperangkat alat layar tancap. Di IKJ juga Rudi banyak belajar dari para seniornya, sutradara-sutradara beken seperti Garin Nugroho atau Hanung Bramantyo. Secara tidak langsung, IKJ juga yang mengantarkannya mendapat keberuntungan bisa mewawancarai keempat terpidana kasus Bom Bali 1 di Nusa Kambangan, Jawa Tengah.

Rudi bercerita, pada 2003 itu mendapat tawaran untuk membuat film tentang keberhasilan polisi dalam menangkap para pelaku yang meledakkan bom di Bali pada 12 Oktober 2002. Berkat keberhasilannya membuat film berdurasi 48 menit itu, ia mendapat akses langsung dari Brigjen Budi Setiawan. Rudi mampu meyakinkan mantan Kapolda Bali itu, bahwa ia tidak akan terpengaruh dengan ideologi ekstremis para pelaku.

Setelah menimbang dan mendapat masukan dari Kepala tim penyidik, Rudi memutuskan untuk terlebih dahulu menemui Ali Imron. Ia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa IKJ. Rudi cukup kaget, sebab para pelaku menyambutnya dengan baik. Mereka juga mengenal IKJ.

“Tahulah. Kan sering ke Jakarta,” kata Ali Imron.

“Tapi bukan untuk dibom kan ustadz,” kata Rudi menimpali dengan guyonan. Sebagai sesama orang Jawa, memudahkan Rudi untuk melakukan pendekatan secara personal.

Setelah dari Ali Imron, ia secara beruntun menemui Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudra. Total, Rudi menghabiskan waktu 14 jam untuk mewawancarai keempatnya. Tujuh jam ia habiskan dalam sehari. Ia merekam semua obrolan, termasuk dalil-dalil yang digunakan pelaku untuk membenarkan perbuatannya.

Pengalaman mewawancarai para pelaku secara langsung tidak akan pernah dilupakan Rudi. Ia heran, ada orang yang begitu yakin dengan perbuatannya setelah membunuh ratusan nyawa dengan bom. Padahal, mayoritas umat Muslim di Indonesia mengecam perbuatan tersebut.

“Mereka semua orang baik. Tapi yang membunuh dan mengebomnya itu yang kita tidak sepakat. Ini ada orang yang agamanya sama, kitabnya sama, lebarannya sama, tapi tafsir tentang jihadnya beda,” ujar Rudi.

Selesai wawancara, Rudi tidak langsung memproduksinya menjadi sebuh narasi film dokumenter. Ia masih butuh waktu tujuh tahun untuk melengkapinya dengan wawancara mendalam dengan keluarga dan orang-orang terdekat pelaku.

Pada 2010 film tersebut pun akhirnya dirilis dengan judul Prison and Paradise. Seorang kurator film dari Singapura, Philip Cheah, menyarankan agar film itu diikutsertakan dalam festival film internasional di Dubai, Uni Emirat Arab.

Prison and Paradise mendapat apresiasi yang luar biasa di Dubai. Berbagai produser film meminta izin Rudi untuk memutarkannya di negara mereka. Alhasil, film berdurasi 1 jam 33 menit itu, pun berkelana ke Jepang, Korea Selatan, India, Italia, Australia, Belanda, Prancis, Amerika Serikat hingga Kanada.

Sayangnya, Prison and Paradise gagal tampil di negara sendiri. Sepulang dari Dubai, Rudi berniat memutar film itu di Festival Film Indonesia. Setelah poster dan pamflet tersebar luas, Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia memutuskan bahwa Prison and Pradise tidak lolos sensor. Rudi pun dipanggil untuk menghadap ke gedung Direktorat Perfilman Indonesia (yang dulu masih di bawah) Kementerian Pariwisata.

“Dua jam aku dimarahi. Aku coba menjelaskan bagaimana ceritanya bisa bikin film itu,” ucap Rudi.

Bergeming, LSF tetap memutuskan bahwa Prison and Paradise adalah film terlarang. Diyakini, berpotensi untuk menyebarkan ajaran-ajaran terorisme. Mereka juga meminta Rudi menarik semua film yang sudah tersebar luas di luar negeri.

“Aku bilang, tarik saja sendiri. Pasti akan dapat kecaman dunia internasional. Akhirnya memang tidak bisa ditarik.”

Di Youtube, sampai saat ini kita hanya bisa menikmati cuplikan film Prison and Paradise yang berdurasi 5 menitan. Jika Anda melihatnya, 100% bakal penasaran. Dalam sebuah artikel di kanal Cinemapoetica, Makbul Mubarak dari Komunitas Kinoki mengatakan, Prison and Paradise adalah dokumentasi yang puitis. Walaupun bukan bertujuan untuk membangun sebuah kedekatan dramatis dengan subjek-subjek yang ditampilkan.

Hal serupa juga menimpa film Rudi yang baru saja dirilis, Maha Guru Tan Malaka. Film itu mendapat banyak kecaman karena dianggap menyebarkan paham komunisme. Padahal, Rudi membuatnya untuk mengenalkan sosok Tan Malaka sebagai bapak Republik Indonesia, yang sudah dianugerahi gelar pahlawan nasional sejak 1963.

Rudi berusaha memperkenalkan Tan Malaka dengan cara kekinian. Menampilkan sosok Marko yang pergi ke Belanda demi bertemu Harry H. Poeze, sejarawan yang menghabiskan 50 tahun umurnya untuk meneliti Tan Malaka. 

Rudi mengatakan, ia mendapat banyak tekanan pasca-rilisnya Maha Guru Tan Malaka. Tapi yang membuatnya sedih, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai sponsor utama produksi film tersebut, ikut-ikutan menyarankan tour Maha Guru Tan Malaka dihentikan.

“Proposalku bisa diterima, berarti kan aman. Kalau ada tekanan politik, jangan mengorbankan filmaker seperti saya.”

Beruntung. Nasib Maha Guru Tan Malaka agak lebih baik ketimbang Prison and Paradise. Anda masih bisa menikmati petualangan Marko di Youtube dengan durasi 34 menit.

Tidak Akan Pernah Jera

Di akhir-akhir obrolan, Rudi mengizinkan kami untuk menonton cuplikan film terbarunya yang akan rilis tahun ini. sayangnya, ia melarang untuk membocorkan judul dan cerita film tersebut.

Penggalan cerita film terbarunya itu membuat kami takjub dan bertanya, “Mengapa tidak kapok membuat film seperti itu? Padahal, Anda tahu nasib film-film kontroversial di Indonesia.”

Rudi kemudian bercerita singkat tentang latar belakang pembuatan film tersebut. Lengkap dengan harapan-harapan yang disematkannya pada film.

Lalu dengan enteng menjawab, “Ketika aku bikin film, ada perasaan, ini kira-kira dilarang lagi enggak ya? Itu sesuatu hal yang unik dirasakan. Hehe.”

Rudi mungkin tidak peduli kalau film itu nantinya bakal dicekal di negeri sendiri. Yang ia tahu dan selalu ia yakini sejak dulu, persoalan-persoalan berat hanya bisa diselesaikan dengan cara-cara kultural. Film telah menjadi bagian penting dari pembangunan budaya masyarakat.

“Aku percaya, film bisa membantu untuk menyelesaikan masalah. Setidaknya, ia bisa menstimulus perubahan masyarakat.”

Terakhir, Rudi berpesan agar publik bisa lebih menghormati film-film dokumenter yang dibuat dengan susah payah. Indonesia, kata Rudi, punya banyak potensi filmaker-filmaker yang handal. Cuma belum ada kanal yang bisa menyatukan mereka. Itu menjadi ambisi jangka panjang yang tengah diusahakan oleh Rudi dan beberapa rekannya di komunitas film dokumeter.

(Januardi Husin\)
Share:
Tags:


Berita Terkait

Komentar