OJK Nilai Potensi Berkembangnya Reksa Dana Masih Sangat Besar

Selasa, 22/01/2019 20:11 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen (Foto: Merdeka)

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen (Foto: Merdeka)

Jakarta, law-justice.co - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menilai potensi berkembangnya reksa dana masih besar mengingat jumlah investor reksa dana masih relatif kecil dibandingkan total populasi penduduk di Tanah Air.

"Meskipun peningkatan investor cukup menggembirakan namun jumlahnya masih jauh dari potensi investor domestik yang sangat besar," ujar Hoesen saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (22/1).

Investor reksa dana, sejak 2014 naik signifikan. Jumlah Single Investor Identification (SID) reksa dana meningkat tiga kali lipat dari 320 ribu pada 2014 menjadi 995 ribu pada 2018.

"Sebagai gambaran kasar, jika kita bandingkan dengan total populasi masyarakat kelas menengah Indonesia yang mencapai 22 persen dari total populasi jumlah investor reksa dana baru mencapai 1,8 persen. Jika dibandingkan dgn total populasi penduduk Indonesia jauh lebih kecil hanya 0,4 persen," kata Hoesen.

Hoesen mengklaim, dari tahun ke tahun, industri reksa dana terus menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Dalam empat tahun terakhir, total dana kelolaan (Asset Under Management /AUM) tumbuh lebih dari dua kali lipat yaitu Rp242 triliun pada 2014 menjadi Rp505 triliun pada 2018.

Dalam waktu yang sama, jumlah produk reksa dana yang diterbitkan perusahaan manajer investasi juga meningkat lebih dari dua kali lipat yaitu 895 produk pada 2014 menjadi Rp505 triliun.

"Kondisi di atas menunjukkan masa depan industri reksa dana masih potensial untuk tumbuh dan dikembangkan, baik "supply" maupun "demand"," ujar Hoesen.

Ia menambahkan, perkembangan global teknologi finansial dan teknologi informasi dalam beberapa dekade terakhir turut mengubah lansekap industri jasa keuangan, termasuk industri reksa dana.

Sebagaimana yang dilansir dari Antara, OJK pun telah merevisi sejumlah regulasi yang mengatur pemanfaatan teknologi informasi atau digitalisasi dalam pemasaran reksa dana yang dilakukan.

"Perkembangan investor dalam beberapa tahun terakhir juga tidak lepas dari digitalisasi pemasaran reksa dana oleh manajer investasi dan agen penjual," kata Hoesen. Budi Suyanto

(\)
Share:
Tags:


Berita Terkait

Komentar