Harry A. Poeze, Perjalanan 48 Tahun "Mencari" Tan Malaka

Sabtu, 22/12/2018 16:59 WIB
Sejarawan asal Belanda Harry Poeze ketika diwawancarai di Wisma Shalom, Senen, Jakarta Pusat (Foto: Hartanto Adi Saputra)

Sejarawan asal Belanda Harry Poeze ketika diwawancarai di Wisma Shalom, Senen, Jakarta Pusat (Foto: Hartanto Adi Saputra)

Jakarta, law-justice.co - Hampir setengah abad waktu hidupnya dihabiskan untuk meneliti Tan Malaka, tokoh misterius asal Sumatera yang dianggap berbahaya baik oleh rezim kolonial Belanda maupun bagi politik Indonesia. Dalam rentang waktu itu, melalui berbagai buku yang diterbitkannya, pria asal Belanda ini berhasil menelusuri hampir semua sisi kehidupan dan kiprah sosok paling misterius dan kontroversial dalam sejarah Indonesia.

Tan Malaka yang cakap meyakinkan orang, penggalang massa yang ulung, serta penggugah pergerakan yang efektif itu, kerap digambarkan sebagai sosok yang memiliki aura misterius. Ia diceritakan dapat berpindah tempat ratusan kilometer dalam sekejap. Ia bahkan diceritakan dapat mengubah wujudnya sekehendaknya.

Harry A. Poeze yang telah meneliti Tan Malaka selama lebih dari 40 tahun mengaku dirinya masih belum puas. Meski keduanya tak pernah bertegur sapa, Harry dan Tan Malaka seolah tak terpisahkan, ibarat dua individu yang menjadi satu. Hingga saat ini pun ketika memasuki masa purnabakti, Harry Poeze terus berhasrat menulis dan menerbitkan beberapa buku tentang Tan Malaka. Melalui buku dan surat-surat keduanya bertemu.

Di usianya yang ke 71, Harry Poeze masih terlihat gagah meski rambutnya telah memutih, guratan halus di wajah dan keriput di tangannya mulai nampak pun gerakannya mulai melambat. Dia lahir pada 20 Oktober di Loppersum, Belanda. Harry pun tak segan berbagi tips agar tubuhnya senantiasa bugar dan tak mudah terserang penyakit. Dia mendisiplinkan diri dengan mengonsumsi makanan sehat, istirahat yang cukup, dan banyak olahraga. Sampai saat ini, Poeze masih rutin bermain tenis dan lari cepat hingga 10 kilometer.

“Tapi kalau di Indonesia saya tidak mungkin melakukan lari cepat. Di sini terlalu panas, tidak ada tempat (khusus), dan terlalu banyak mobil,” kata ayah dua anak dan kakek dua cucu itu.  

Meski begitu, ia tak pernah kapok datang ke Indonesia. Hampir saban tahun Poeze bertandang ke negeri ini, sejak kedatangan perdananya pada 1980. Datang dengan visa peneliti, Harry mengaku kesulitan saat melakukan perjalanan ke Indonesia pada waktu itu karena ongkos pesawat yang mahal.

Namun, kini ketika harga tiket pesawat kian murah, ia lebih leluasa mengatur kedatangannya ke tanah air. Apalagi kini anak bungsunya Weiger Poeze telah meminang wanita asal Surabaya, Dian, yang telah memberinya seorang cucu bernama Bimo.

“Saya tidak ingat sudah berapa kali datang ke Indonesia. Mungkin 20 kali. Sekarang, tiap tahun satu kali. Dulu jarang karena ongkos jalan lebih besar daripada sekarang”, ungkap suami dari perempuan Belanda bernama Henny ini.

Kembali ke Tan Malaka. ‘Perjumpaannya’ dengan Tan Malaka yang kisah kematiannya hingga kini masih diselubungi misteri, terjadi saat ia kuliah di jurusan ilmu politik di Universitas Amsterdam. Saat itu nama Tan kerap disebut dalam buku teks kuliahnya. Namun tak pernah ada ceritan tentang riwayat hidupnya yang jelas. Sejak itulah dia mulai penasaran untuk menelusuri jejak Tan.

Ayah dua anak yang berpostur tinggi besar ini masih sangat jernih dan tajam saat berbincang tentang Tan Malaka.  “Tidak banyak yang saya lupa (tentang Tan Malaka),” kata Poeze saat menerima awak redaksi Law-Justice.co di beranda kamar Wisma Shalom, Senen, Jakarta Pusat, tempatnya menginap sejak 1980-an setiap kali berkunjung ke Indonesia, pada Jumat (23/11).

Awal Perjumpaan Poeze dan Tan Malaka

Pertautan Poeze dengan Indonesia tidak dapat lepas dari sosok Tan Malaka, yang menjadi objek risetnya sejak 1970. Ketika itu, pria yang kini bermukim di kota Castricum, Belanda Utara masih berusia 23 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Politik Universitas Amsterdam. Perjumpaannya dengan Tan Malaka bermula saat ia mengikuti kuliah sejarah Indonesia yang diampu Wim Wertheim.

Pada kesempatan itu, Poeze diperkenalkan kepada sejumlah tokoh penting pendiri negara Indonesia, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dan Haji Agus Salim. Namun dari sederet nama tersebut, Poeze tertambat pada sosok Tan Malaka yang menurutnya misterius, samar, dan belum banyak informasi tersedia seperti tokoh-tokoh lainnya.

Harry Poeze lebih dari 40 tahun mencari Tan Malaka (foto: Tempo/Arief Wibowo)

“Waktu menjadi mahasiswa di Universitas Amsterdam dalam bidang Ilmu Politik, saya ikut kuliah mengenai sejarah Indonesia dan tertarik kepada khusus perlawanan rakyat Indonesia melawan Belanda,  terutama tentang kolonalisme, penghisapan dan penindasan Belanda. Ketika mengumpulkan data tentang orang-orang yang berlawanan dengan Belanda, terdapat nama Tan Malaka yang disebut sebagai seorang yang misterius dan selama hidupnya seringkali menyelundup di bawah tanah,” kenang Poeze.

Rasa penasaran bercampur keingintahuannya yang tinggi mendorong Poeze untuk mulai mengumpulkan beberapa sumber yang sangat terbatas ihwal Tan Malaka. Salah satunya adalah buku karya Indonesianis asal Amerika Serikat, Ruth McVey bertajuk The Rise of Indonesian Communism.  Poeze pun kian mantap memilih Tan Malaka sebagai topik skripsi untuk gelar sarjananya.

Setahun kemudian (1970), ia mulai mengumpulkan bahan risetnya. Selain dari sumber tertulis, Poeze juga mulai mencari orang-orang yang mengenal Tan Malaka saat dia hidup di Belanda. Beruntung pada saat itu, masih ada 12 dari 24 rekan sekolah Tan Malaka yang bergelar Sutan Ibrahim itu yang masih hidup. Tan yang berdarah Minangkabau pernah studi di sekolah guru (Rijkskweekschool), Haarlem.

Saat itulah, salah seorang narasumber Poeze, Dick van Wijngaarden mengaku dirinya masih menyimpan surat-surat pribadi Tan Malaka. Bak mendapat durian runtuh, ia meminta agar kawan Tan itu memperlihatkan dokumen yang sangat berharga tersebut. Izin pun diberikan dan untuk pertama kali Poeze melihat 27 surat asli yang ditulis Tan Malaka. Semuanya masih tersimpan rapi dalam sebuah peti yang ada di sebuah loteng selama 50 tahun.

“Waktu saya menghubungi Dick, ia bilang masih punya surat-surat yang ditulis Tan Malaka di salah satu peti di lotengnya. Selama lebih dari 50 tahun, masih ada dan tidak ada orang yang memperhatikan.  Kalau mau melihat bisa datang melihat surat ini. Nah ini, seperti mimpi seorang peneliti mendapat dokumen asli dari masa lalu, ternyata memang Dick masih menyimpan 27 surat itu,” kata Poeze.

Tak hanya diperkenankan melihat, ia juga diizinkan untuk menyalin surat-surat itu untuk kepentingan riset. Poeze juga mengaku banyak mendapat informasi berharga dari Dick karena memang keduanya berteman akrab. Salat satu informasi itu tentang kehidupan di sekolah guru dan bagaimana hidup sang sahabat saat bermukim di kota Bussum, Belanda Utara. Belakangan seluruh surat Tan Malaka dihibahkan Dick kepada Poeze.

Menggali jejak Tan Malaka (foto: Harian Sejarah)

Hingga kini surat-surat itu masih tersimpan rapih di lantai 2 rumah Poeze di Stetweg 21, Castricum. Ruang di lantai atas itu memang dikhususkan untuk menyimpan buku-buku tentang Indonesia.  Poeze juga mengelompokkan secara khusus kitab-kitab tentang Sokearno, Moh. Hatta, dan tentu saja Tan Malaka.  Sebagian koleksi penting  pendiri Partai Indonesia Raya itu disimpan dalam sebuah lemari besi. Sementara surat-surat berharga ia tempatkan dalam sebuah album bersampul cokelat tua.

Dari Politisi Partai Buruh hingga Peneliti di KITLV

Pada 1972, Poeze merampungkan studinya di jurusan Ilmu Politik Universitas Amsterdam. Gelar Doctorandus (Drs.)—setara magister (S2)— pun berhak disandangnya setelah mempertahankan skripsi yang mengisahkan kehidupan Tan Malaka selama bersekolah (1913-1919) dan masa pembuangan di Belanda (1922). Namun tak puas dengan pencapaian itu, pada tahun yang sama Poeze memutuskan untuk melanjutkan studi doktor di universitas yang sama dan terus mendalami sosok Tan Malaka.

Selama empat tahun, Poeze bergelut dengan disertasinya.  Pada 1976, ia berhasil merampungkan karya bertajuk Strijder voor Indonesie’s vrijheid; Levensloop van 1897 tot 1945 dan berhasil menyandang gelar doktor. Bersama skripsinya, disertasi ini kemudian kemudian dibukukan pada 1988 dalam dua jilid buku berjudul Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik: 1925-1945.

Seperti halnya Tan Malaka, dan ini tak banyak publik yang tahu, Harry Poeze pun tertarik dengan dunia politik. Ia bergabung dengan sebuah partai buruh, Partij voor de Arbeid (PVDA) yang menurutnya sangat bersesuaian dengan ideologi sosialisme dan demokrasi yang dianutnya. Di partai yang sama, Poeze sempat menjadi anggota dewan kota Castricum selama sebelas tahun (1971-1982). Dalam rentang waktu itu, ia sempat menduduki jabatan asisten walikota Castrium.

Namun tambatan hatinya tetap pada dunia penelitian. Pada 1981, ia dipercaya sebagai Kepala Departemen Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara (KITLV). Belakangan, badan itu beralih nama menjadi KITLV Press. Selama bertahun-tahun, nyaris tanpa cuti, ia bertugas menjaga kualitas karya-karya yang diterbitkan lembaga itu. Selama itu pula, ia banyak terlibat dalam beragam penelitian, termasuk tentang Tan Malaka.

Setidaknya selama puluhan tahun, Poeze mengalokasikan 1-2 hari dalam sepekan untuk meriset tentang topik kegemarannya itu. Namun bukan berarti ia tak berminat pada bidang kajian lain. Dalam laman KITLV disebutkan, ayah dua anak ini memiliki minat pada perkembangan politik Indonesia sejak 1900, khususnya pada masa akhir kolonialisme Belanda (1900-1942), Pendudukan Jepang (1942-1945), dan Revolusi Indonesia (1945-1950).

Beberapa karya di luar topik Tan Malaka yang pernah dikerjakan Poeze antara lain adalah empat jilid penelitian ihwal kebijakan politik polisional di Hindia-Belanda pada 1927-1941 yang dikerjakan antara 1982-1994. Selain itu ada juga penelitian tentang orang-orang Indonesia di Negeri Belanda pada 1600-1950 yang diterbitkan pada 1986. Di luar itu, ada riset penting yang dikerjakan Poeze tentang Peristiwa Madiun 1948 dan relasi antara pemerintah Hindia-Belanda dan tahanan Digulis di Australia selama Pendudukan Jepang.

Kerja kerasnya di dunia penelitian selama bertahun-tahun berbuah manis. Pada 1994, lembaga Professor Teeuw Foundation menganugerahi dirinya Professor Teeuw Awards, sebuah penghargaan yang diberikan kepada mereka yang dianggap berkontribusi terhadap pertukaran kebudayaan antara Indonesia dan Belanda. Award ini diberikan kepada Poeze sebagai bentuk penghargaan terhadap ketekunannya melakukan penelitian sejarah Indonesia kontemporer. Ia juga tercatat sebagai orang Belanda pertama yang meraih penghargaan ini. 

Infografis (Christopher AA Mait)

Pencapaian ini tak lantas membuat Poeze berpuas diri. Sebaliknya, ia malah berpikir untuk kembali menekuni topik kegemarannya itu. Selama bertahun-tahun, ia rajin mengumpulkan sumber tentang Tan Malaka.  Dalam rentang waktu yang lama, pria asal Belanda ini memang kerap menyambangi beberapa negara di Eropa dan Asia untuk mengumpulkan arsip, mewawancarai banyak orang, dan melakukan napak tilas jejak Tan Malaka.

Kesempatan untuk menulis tentang topik kesukaannya itu terbuka pada 1997. Ketika itu Poeze yang selama bertahun-tahun tak pernah mengambil cuti, mengajukan sabbathical leave selama setahun. Namun karena kesibukannya, waktu setahun malah molor hingga satu dasawarsa. Pada 2007, ia berhasil merampungkan tiga jilid buku setebal 2.191 halaman bertajuk Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, De Linkse Beweging en De Indonesische Revolutie, 1945-1949.

Karya ini tentu saja menjadi magnum opus—karya utama— riset Poeze tentang Tan Malaka. Ketebalan buku ini menurut laman historischnieuwsblad, menjadikannya sebuah karya yang memecahkan rekor nasional buku dengan jumlah halaman terbanyak di Belanda. Namun tak hanya tebal, pustaka ini menurut sejarawan Taufik Abdullah memaparkan dengan sangat detail sosok Tan Malaka sehingga bukan berstatus buku populer, tetapi  referensi.

Masa Depan Penelitian Tan Malaka

Sebagai seorang Indonesianis—ahli-ahli asing yang berminat pada studi Indonesia— yang menulis topik yang tak disukai pemerintah Orde Baru, Poeze sebenarnya cukup beruntung. Bandingkan misalnya dengan rekan seprofesinya, seperti Ben Anderson yang dilarang masuk ke Indonesia selama masa pemerintahan Soeharto karena menulis versi lain Peristiwa 1965 dan harus memalingkan minatnya ke Thailand, Burma, dan Filipina.

Sejak awal, Poeze memang tahu betul penelitian tentang Tan Malaka dilarang di Indonesia. Untuk itu ia pun mengatur strategi agar apa yang dikerjakannya tak terdeteksi Pemerintah Orde Baru. Caranya dengan mencantumkan subjek penelitian tentang Revolusi Indonesia dalam tujuan kedatangan saat mengurus permonan visa. Strategi ini terbukti manjur, meski buku Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik: 1925-1945 sempat dilarang beredar oleh pemerintah pada 1989, namun Harry Poeze tetap bebas mengunjungi Indonesia.

“Buku saya tentang Tan Malaka sempat dilarang secara resmi oleh pemerintah. Tapi larangan itu saya anggap sebagai penghormatan terhadap pekerjaan saya. Ya, saya ini, baik sekali, terima kasih. Meskipun buku itu dianggap berbahaya karena dengan jelas menulis tentang pemikiran politik seorang komunis, namun minat mahasiswa untuk membaca buku itu cukup besar. Bahkan buku-buku itu kemudian difotokopi dan disebarluaskan,” ujar Poeze.

Tak hanya diapresiasi oleh mahasiswa, sosok Tan Malaka sendiri, di luar dugaan,  masih sangat dihormati oleh para tokoh politik dan pejabat penting di masa pemerintahan Orde Baru. Poeze mencontohkan ketika pada 1980 dia datang ke Jakarta, ia sempat menemui dua petinggi Golkar Sri Sultan Hamengku Buwono IX hingga Wakil Presiden Adam Malik yang ternyata secara terbuka mendukung ide kerakyatan Tan Malaka.

Meskipun dilarang oleh pemerintah Orde Baru, sebenarnya minat orang-orang Indonesia untuk mengenal Tan Malaka cukup tinggi. Hal ini terlihat ketika banyak usulan penelitian di tingkat pendidikan tinggi tentang topik ini, meski langsung ditolak dengan ancaman pemecatan oleh otoritas yang berkuasa. Pada titik inilah Poeze menyadari bahwa hanya orang asinglah yang saat itu memiliki kesempatan luas untuk meneliti Tan Malaka yang tentunya dibantu oleh orang-orang Indonesia.

“Banyak orang Indonesia yang membantu saya untuk mendapat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berelasi, arsip, dan dokumen tentang Tan Malaka. Bantuan ini sangat berharga karena orang yang bersimpati terhadap Tan Malaka waktu itu, insyaf bahwa seorang Indonesia pada masa orde baru tidak punya kemungkinan menulis tentang Tan Malaka. Karena itu, saya sebagai seorang asing didukung,” tutur ayah dari Eelco dan Wieger Poeze ini.

Namun setelah rezim Orde Baru jatuh, situasinya berangsur-angsur beralih. Percakapan dan diskusi tentang Tan Malaka menjadi lebih terbuka, meski aksi penolakan dan intimidasi terhadap penyelenggaraan kuliah atau diskusi tentang tokoh yang terlanjur dicap komunis dan kontroversial itu pun masih kerap terjadi. Poeze sendiri dalam beberapa kesempatan pernah mengalami hal yang tak menyenangkan.

“Beberapa tahun lalu, saya bersempatan memberikan kuliah dalam acara peluncuran buku tentang Tan Malaka. Namun beberapa kali saya dilarang muncul, misalnya di Semarang, Malang, dan Kediri. Pada saat itu polisi datang dan bilag lebih baik acara ini tidak dilangsungkan karena ada ancaman yang datang dari berbagai pihak dan ormas anti-komunis, khusunya FPI (Front Pembela Islam),” ujar Poeze.

Tetapi secara umum pembahasan tentang Tan Malaka relative lebih terbuka. Saat ini banyak riset yang sebelumnya diharamkan di perguruan tinggi telah banyak dilakukan. Poeze secara khusus mengapresiasi perkembangan ini. Apalagi berbagai karya tentang Tan Malaka muncul dalam bentuk yang beragam. Mulai dari sajak, novel, komik, teater, dan film.

“Saya kira senang dengan riset sekarang ini, ada banyak orang Indonesia yang juga menulis tentang pemikiran Tan Malaka dan ini derajatnya berlainan tapi ada banyak yang cukup baik. Selain itu, terdapat pula puluhan buku sajak, novel, komik, dan opera tentang Tan Malaka,” papar Poeze.

Dalam beberapa tahun ke depan Poeze masih akan melakukan revisi terhadap karya-karyanya yang telah terbit dan beberapa buku baru tentang Tan Malaka.  Namun di sisi lain ia juga mengharapkan saat ini orang-orang Indonesia agar lebih banyak menulis tentang sosok yang punya jasa besar terhadap Republik Indonesia ini.

“Mungkin (karya-karya yang ditulis orang Indonesia itu) bisa berdasar atas buku yang saya tulis, bisa diperpanjang, ditulis baru, atau malah pengembangan dari yang sudah ada sebelumnya,” ungkap Poeze.

Harapan besar Poeze ihwal keterlibatan lebih banyak orang Indonesia yang menulis tentang Tan Malaka memang bukan tanpa alasan. Salah satunya karena dirinya adalah orang asing tetapi justru lebih intens menulis tentang sosok pahlawan nasional Indonesia itu. Poeze memahami bahwa sebagai orang yang mencintai tanah airnya, Tan Malaka akan lebih senang ditulis oleh orang-orang sebangsanya. Karena itu ia berharap agar tokoh pendiri bangsa ini tak marah jika selama ini dirinyalah yang lebih banyak menulis tentang Tan Malaka.

“Saya harus pikir, mungkin (saya ingin mengatakan ) jangan marah karena saya orang orang yang menulis tentang Tan Malaka,” pungkas Poeze ketika ditanya apa yang hendak disampaikannya jika ia berkesempatan bertemu dengan sosok yang ditulisnya selama 48 tahun itu.

Tim: Januardi Husin, Hartanto Ardi Saputra, Christopher AA Mait

(Teguh Vicky Andrew\Rin Hindryati)
Share:
Tags:


Berita Terkait

Komentar