Ilmuwan Rusia Spesialis Roket Hipersonik Ini Dianggap Pengkhianat

Sabtu, 05/12/2020 18:04 WIB
Kepolisian Rusia memburu seorang Ilmuan Roket bernama Gurbanov akibat menyerahkan data penerbangan ke negara lain (Rusia Today)

Kepolisian Rusia memburu seorang Ilmuan Roket bernama Gurbanov akibat menyerahkan data penerbangan ke negara lain (Rusia Today)

Rusia, law-justice.co - Pengadilan Rusia telah memerintahkan penangkapan terhadap seorang fisikawan yang berspesialisi dalam pesawat hipersonik atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi.

Kantor berita Interfax melaporkan keputusan pengadilan Rusia tersebut pada Kamis (3/12/2020), mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

Sebelumnya, Ilmuwan bernama Anatoly Gubanov itu dikabarkan ikut ambil bagian dalam konferensi dan proyek internasional mengenai pesawat hipersonik bertenaga hidrogen.

Di acara itulah Gubanov dituduh memberikan data rahasia sehingga dianggap telah berkhianat sebagaimana dilansir dari Radio Free Europe Radio Liberty, Sabtu (5/12/2020)

"Menurut penyelidikan, Gubanov menyerahkan data rahasia pengembangan penerbangan ke luar negeri," lapor kantor berita TASS, mengutip sumber lain.

Pengadilan tertutup memerintahkan agar Gubanov ditahan hingga Februari.

Ilmuwan itu disebut sebagai dosen di Moscow Institute of Physics and Technology. Rusia sendiri menganggap pesawat dan rudal hipersonik memberikan keuntungan militer yang penting secara strategis.

Pada Oktober, militer Rusia mengeklaim telah berhasil meluncurkan rudal jelajah hipersonik yang memiliki kecepatan hingga lebih dari delapan kali kecepatan suara.

Rudal yang diberi nama Tsirkon itu dipuji oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dipuji sebagai peristiwa besar bagi negara tersebut.

Kepala Staf Umum Militer Rusia Valery Gerasimov mengatakan kepada Putin bahwa itu adalah pertama kalinya Tsirkon berhasil mengenai sasaran di laut.

"Tugas peluncuran sudah dilaksanakan. Uji coba berhasil," kata Gerasimov kepada Putin setelah berhasil menguji coba Tsirkon pada Oktober.

Gerasimov mengatakan bahwa rudal itu mencapai targetnya sejauh 450 kilometer di Laut Barents dan mencapai kecepatan Mach 8 (delapan kali kecepatan suara).

Rusia dalam beberapa tahun terakhir menggembar-gemborkan pengembangan senjata baru yang futuristik. Senjata tersebut diharapkan Rusia menjadi unggul dalam perlombaan senjata dengan Amerika Serikat (AS) pada saat ketegangan dengan Barat meningkat.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar