Luhut: Dunia di Masa Depan Hanya Pakai Energi Terbarukan

Rabu, 02/12/2020 15:26 WIB
Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan (LBP). (Pinterpolitik)

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan (LBP). (Pinterpolitik)

Jakarta, law-justice.co - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menjelaskan saat ini terdapat tren perubahan dalam struktur produksi dan pemanfaatan energi global. Energi terbarukan akan memegang peran besar di masa depan.

Hal itu diutarakannya dalam acara "2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas", yang digelar oleh SKK Migas secara virtual Rabu (2/12/2020)

“Sejak tahun 1975 proporsi batu bara dan minyak bumi terus mengalami penurunan, dan diperkirakan energi terbarukan akan memainkan peran utama di masa depan," kata Luhut.

Bahkan sebelum era pandemi COVID-19, Luhut mengakui bahwa harga minyak global telah menurun karena adanya sejumlah kemajuan teknologi dalam produksi minyak serpih (shale oil).

Apalagi, dengan banyaknya lembaga internasional yang memprediksi bahwa permintaan minyak tidak akan setinggi sebelumnya, maka Luhut menekankan jika industri migas juga harus berkembang dengan kilang terpadu dan kompleks petrokimia sebagai salah satu solusinya.

Luhut memastikan, teknologi akan memungkinkan konfigurasi untuk mengoptimalkan produksi bahan kimia, seperti yang dilakukan di Hengly and Xinjiang Petrokimia. Selain itu, Saudi Aramco dikabarkan saat ini juga sedang mengerjakan teknologi yang lebih maju.

Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan itu menjelaskan industri petrokimia akan mampu menyediakan bahan untuk berbagai produk seperti plastik, film, serat, mainan, suku cadang otomotif, wadah makanan, ban, dan bahkan kebutuhan sektor farmasi.

Karenanya, Pertamina pun memiliki rencana untuk menjadi bagian dari kinerja ini, dan menargetkan diri untuk menjadi perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia pada tahun 2030 mendatang.

"Produknya akan berkisar dari high volume derivatives, high return derivatives, (produk) aromatik, dan bahan kimia khusus termasuk produk farmasi," kata Luhut.

"Hal ini akan mendukung visi Indonesia untuk memiliki otonomi yang lebih luas di bidang bahan aktif farmasi," lanjut dia.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar