RR: Sri Mulyani Sudah Jadi Politisi, Ketahuan Bohong Bisa Bohong Lagi!

Rabu, 02/12/2020 05:02 WIB
Rizal Ramli (law-justice.co/Teguh Vicky Andrew)

Rizal Ramli (law-justice.co/Teguh Vicky Andrew)

Jakarta, law-justice.co - Tokoh Nasional yang juga merupakan ekonom senior Rizal Ramli menyatakan optimisme Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) terhadap pertumbuhan ekonomi hingga 5 persen di tahun 2021 diyakini akan jauh dari kenyataan.

Pasalnya kata dia, klaim Sri Mulyani soal ekonomi tanah air acapkali meleset, bahkan tak terwujud.

"Bluffing lagi, track record angka-angka SMI selalu meleset sejak 2 tahun yang lalu," kata Rizal Ramli di akun Twitternya, Selasa (1/12).

Melihat gaya kepemimpinan menteri dua periode ini, RR pun menilai sosok mantan direktur bank dunia itu sudah tak lag sebagai profesional, melainkan tak ubahnya seperti politisi.

"Sudah jadi politisi. Bohong, kalau ketahuan bisa bohong lagi. Kalau profesional boleh salah, tapi tidak boleng bohong," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) meyakini perekonomian Indonesia tahun 2021 akan tumbuh 4,5-5,5%. Keyakinan ini disampaikannya dalam berbagai kesempatan, Meskipun masih dengan catatan, tergantung penanganan Covid, katanya.

Anggaplah penanganan Covid sudah terkendali. Masih mungkinkah pertumbuhan ekonomi 5% itu akan tercapai? Apakah janji SMI bukan hanya “angin surga”, atau harapan belaka?

Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) mengatakan, secara mendasar, pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh konsumsi masyarakat (C), konsumsi pemerintah (G), investasi (I), ekspor (X) dan impor (M).

“Konsumsi masyarakat menyumbang bobot tebesar (57%) dari pertumbuhan ekonomi. Sayangnya konsumsi rumah tangga saat ini masih mengalami kontraksi (-4,04%). Apakah mungkin kondisi ini akan membaik ke depan? Sementara akses ke kredit masih sangat sulit, pertumbuhan kredit perbankan masih sangat rendah (3%),” ujar Gede di Jakarta, Selasa (1/12/2020).

Konsumsi pemerintah memang mengalami pertumbuhan kemarin, sambung Gede, tapi apakah masih dapat melanjutkan tren ini tahun depan? Mengingat penerimaan negara saat ini yang turun anjlok (-18,8%) bila dibandingkan tahun sebelumnya.

“Bisakah kekurangan penerimaan ini dikompensasi dari berutang? Defisit keseimbangan primer sudah sangat besar (-Rp 700 triliun), membuat ruang untuk berutang sudah sangat sempit. Atau jangan-jangan jatah utang tahun depan sudah dipakai untuk menjutupi kesulitan cash flow Negara hari ini?,” lanjut dia.

Investasi juga masih sulit untuk dapat diharapkan menjadi pemompa partumbuhan. BKPM mencatat investasi penanaman modal asing sejak Januari hingga September masih berkontraksi (-5%).

“Kondisi ekspor Indonesia juga menunggu pemulihan ekonomi global. Meskipun harga komoditas andalan seperti sawit dan batubara sudah mulai pulih, namun nilai ekspornya justru menurun seperti batubara (-22%). Impor Indonesia juga masih anjlok (-18,8%),” Gede menerangkan.

Jadi potensi pertumbuhan ekonomi hingga 5% di tahun depan akan diperoleh dari mana? Kecuali, cara yang dilakukan adalah memompa konsumsi domestik. Ini adalah cara yang tercepat. Apalagi misalkan dapat memompa pertumbuhan konsumsi hingga 10%, niscaya harapan pertumbuhan 5% tahun depan pun dapat dicapai.

“Namun dengan instrumen apa? Suku bunga tidak pegang. Uang juga tidak pegang.
Artinya sangat mustahil tahun depan Indonesia bisa tumbuh 5%, Menteri Keuangan SMI ternyata hanya beri “angin sorga,” tandas Gede.

 

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar