Lepaskan Indonesia dari `Jebakan Pendapatan Menengah`, Caranya?

Sabtu, 28/11/2020 18:10 WIB
Ilustrasi Anak Muda dengan skill tinggi (Medcom)

Ilustrasi Anak Muda dengan skill tinggi (Medcom)

Jakarta, law-justice.co - Ketua Umum Ikatan Alumni (Iluni) FEB UI sekaligus Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, salah satu harapan agar Indonesia tak terjebak dalam middle income trap adalah kelompok usia muda produktif saat ini yang dimiliki oleh Indonesia.

"Kita memiliki bonus demografi, kelompok anak usia muda produktif kita sangat tinggi, tetapi bonus demografi akan menghilang setelah tahun 2030. Untuk itu, dari sekarang kita perlu melengkapi diri, kemampuan, kapasitas, sehingga tidak terlena," ujar Destry dikutip dari Kontan Sabtu (28/11/2020)

Kepada generasi muda, Destry mengimbau agar mampu memiliki tekad untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) yang agile, adaptive, dan inovatif. Apalagi, di saat ini perkembangan teknologi dan digitalisasi tengah masif berkembang di dunia. Menurutnya, ini bisa menjadi strategi mumpuni agar Indonesia bisa cepat lepas dari middle income trap.

Asal tahu saja, Bank Dunia telah menaikkan status Indonesia dari lower middle income country menjadi upper middle income country per 1 Juli 2020 lalu.

Setelah naik kelas, pekerjaan rumah Indonesia adalah menjaga agar tidak masuk dalam jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Destry mengingatkan, kemampuan negara dalam lepas dari middle income trap ini berbeda-beda. Ada negara yang membutuhkan waktu kurang dari satu dekade untuk naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi, seperti Korea Selatan yang butuh waktu 7 tahun, Jepang yang butuh waktu 9 tahun, juga Hong Kong yang butuh waktu 7 tahun.

Akan tetapi, ada juga negara-negara yang masih terkungkung dalam middle income trap hingga puluhan tahun, seperti Argentina, negara-negara di Amerika Latin, dan bahkan Filipina yang dulu pernah digadang bisa cepat keluar dari jebakan ini.

Oleh karena itu, Destry membangun optimistis Indonesia agar siap dari sekarang. Pasalnya, bonus demografi yang menjadi salah satu harapan untuk bisa naik kelas akan menghilang setelah tahun 2030.

Ia meminta untuk para generasi muda segera melengkapi diri, kemampuan, juga kapasitas SDM sehingga Indonesia tak terlena dalam middle income trap.

"Ini tantangan yang akan dihadapi karena untuk naik kelas kita perlu pendapatan per kapita lebih dari US$ 12.535. Jadi ini tantangan sudah bisakah kita melompat di tahun 2045 nanti? Makanya, adanya agility dan inovatif ini yang bisa dilakukan, seperti strategi negara Korea Selatan dan Jepang," tandasnya.

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar