Ketika Menteri Kesehatan Inggris Ucapkan Insya Allah saat Wawancara

Rabu, 25/11/2020 11:22 WIB
Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock (kiri). (Tribun).

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock (kiri). (Tribun).

Jakarta, law-justice.co - Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock mengisyaratkan bahwa konser Hari Natal bisa digelar tahun ini meski pandemi virus corona (Covid-19) masih menyebar di negara Eropa barat tersebut.

Hancock menyatakan kemungkinan itu dengan menyebutkan frasa bahasa Arab Insya Allah yang kerap diucapkan umat Muslim saat mengucapkan rencana atau janji.

Frasa Insya Allah memiliki arti harfiah "jika Allah menghendaki" dan sering digunakan secara informal oleh masyarakat di negara Timur Tengah untuk mengekspresikan sesuatu yang masih mungkin tidak terjadi sesuai rencana.

Kalimat itu diucapkan Hancock saat menjawab pertanyaan pemandu acara stasiun radio LBC soal apakah konser paduan suara Hari Natal bisa dilaksanakan tahun ini.

"Insya Allah," kata Hancock menjawab pertanyaan tersebut tanpa menjelaskan lebih detail lagi soal rencana pemerintah terkait acara tersebut pada Senin (23/11).

Seperti melansir cnnindonesia.com, pernyataan Hancock itu memicu kontroversi dan kebingungan. Tak sedikit pula masyarakat terutama netizen Inggris mengkritik ucapan Hancock tersebut.

"Adakah yang bisa memberitahu saya mengapa Matt Hancock menjawab `Insya Allah` ketika didesak apakah konser paduan suara Christmas Carol akan digelar??? Saya sangat bingung," kata salah satu pengguna Twitter.

"Ini tidak akan menjadi konteks yang ironis, kan? menyiratkan bahwa sesuatu tidak akan pernah terjadi atau dapat digunakan sebagai cara yang lembut untuk menolak ajakan?" kata pengguna Twitter lainnya kebingungan.

Sejumlah netizen bahkan merasa tersinggung dengan tindakan Hancock yang menggunakan frasa `Insya Allah`.

"Apakah dia (Hancock) menghina istilah frasa itu?" tulis seorang pengguna Twitter.

Awal tahun ini, Hancock pernah mendapat kecaman dari pemimpin umat Muslim di Inggris setelah mengumumkan penguncian wilayah (lockdown) beberapa jam sebelum perayaan Idul Adha.

Hingga saat ini, Inggris masih menerapkan lockdown nasional yang akan berakhir pada 2 Desember mendatang.

Menjelang lockdown berakhir, banyak masyarakat Inggris yang bertanya dan berspekulasi mengenai kebijakan pembatasan seperti apa yang akan diberlakukan pemerintah selama periode libur Hari Natal dan tahun baru.

Sampai saat ini, pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson baru berencana melonggarkan sejumlah kebijakan pembatasan akibat virus corona agar warga bisa berkumpul bersama keluarga selama perayaan Natal.

Kantor PM Inggris di Downing Street mengatakan relaksasi pasca-lockdown akan berlaku secara bertahap di seluruh negeri. Namun, London memaparkan pembatasan lebih ketat akan tetap dilakukan di sejumlah wilayah.

Inggris akan mengumumkan pembatasan ketat akan diterapkan di wilayah mana saja.

Sejauh ini, Inggris mencatat lebih dari 55 ribu kematian akibat Covid-19 dan 1,5 juta kasus virus corona.

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar