Walah! Aplikasi Muslim Pro Investigasi Dituduh Jual Data ke Militer AS

Selasa, 24/11/2020 15:21 WIB
aplikasi Muslim Pro (jatimnews)

aplikasi Muslim Pro (jatimnews)

Jakarta, law-justice.co - Aplikasi Muslim Pro melakukan investigasi terkait tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Sebelumnya, Muslim Pro dituding jual data lokasi pengguna di seluruh dunia ke tangan militer AS.

Tindakan investigasi tersebut yang dijelaskan dalam surat balasan dari Muslim Pro kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Pada Kamis (19/11) Kominfo melayangkan surat ke Kominfo untuk meminta penjelasan soal dugaan jual-beli data pengguna aplikasi Muslim Pro.

"Sudah, Muslim Pro sudah merespon surat kami. Kurang lebih sama dengan yang disampaikan melalui portal Muslim Pro ini," ujar Juru Bicara Kominfo Dedy Permadi dilansir dari Detik Selasa (24/11/2020).

Saat mengunjungi website Muslimpro.com, langsung terpampang penegasan dari aplikasi besutan Bistmedia ini yang mengatakan, informasi menjual data privasi pengguna Muslim Pro ke militer AS itu tidak benar.

Disampaikan Dedy, Kominfo tetap akan berkomunikasi dengan Muslim Pro yang saat ini sedang melakukan investigasi jual data lokasi penggunanya yang dilakukan oleh pihak ketiga.

"Kominfo akan membalas surat untuk meminta laporan perkembangan investigasi yang dilakukan oleh Muslim Pro. Proses dan pendalaman oleh Kominfo akan terus berlangsung untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan data di platform tersebut," tutur Dedy.

Sebelumnya, laporan Vice Motherboard menyebutkan Muslim Pro menjual data lokasi pengguna ke Militer AS.

Disebutkan militer AS menggunakan dua metode terpisah untuk mendapatkan data lokasi pengguna. Pertama melibatkan produk bernama Locate X.

Layanan tersebut dibeli untuk membantu Komando Operasi Khusus AS (USSOCOM), divisi militer yang ditugaskan untuk kontra terorisme, pemberontakan, dan pengintaian khusus, dalam operasi pasukan khusus di luar negeri.

Metode kedua mendapatkan data melibatkan perusahaan bernama X-Mode. Perusahaan ini memperoleh data lokasi langsung dari aplikasi kemudian menjual data tersebut ke kontraktor, dan dengan ekstensi ke militer AS.

Sebagai imbalannya, X-Mode membayar biaya kepada pengembang aplikasi berdasarkan jumlah pengguna yang dimiliki. Misalnya, sebuah aplikasi dengan 50.000 pengguna aktif harian di AS akan menghasilkan pengembang USD 1.500 sebulan.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar