Astaga! Aktivitas Melacak Cluster Petamburan Cs Ditolak Masyarakat

Minggu, 22/11/2020 19:45 WIB
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo (Beritasatu)

Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo (Beritasatu)

Jakarta, law-justice.co - Satgas Penanganan Covid-19 bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Daerah telah menurunkan lebih dari 5.000 relawan pelacak kontak (tracer) untuk melakukan deteksi awal penularan di 10 prioritas.

Namun sayangnya, upaya melakukan pelacakan ternyata tidak mudah karena sebagian masyarakat malah menolak untuk diperiksa.

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 Alexander K Gintings menambahkan, timnya saat ini sedang berada di lapangan untuk melakukan penelusuran kontak erat pasien. "Para pelacak kontak ini yang kini tengah mengalami persinggungan dengan masyarakat untuk memutus rantai penularan," seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (22/10/2020)

Prioritas yang tracking dan tracing adalah kerumunan massa atau klaster penjemputan Habib Rizieq Shihab di Bandara Soekarno-Hatta, acara Mega Mendung, Puncak, Bogor, hingga Acara Petamburan Jakarta Barat.

Dia juga menegaskan bahwa gerakan Kesehatan untuk menanggulangi Covid-19 adalah sebuah gerakan kemasyarakatan non partisan, untuk kemanusiaan, non diskriminatif dan pro terhadap kehidupan.

"Ini yang perlu ditanamkan sehingga masyarakat tidak perlu resisten agar anggota di lapangan bekerja aman dan nyaman dan tidak dicurigai."

Alex menambahkan kita semua berjuang memutuskan rantai penularan dengan menerapkan protokol Kesehatan. Namun, kita juga perlu tim pendukung yaitu tim pelacak kontak dari dinas Kesehatan, kementerian Kesehatan, dan Satgas Penanganan Covid-19.

"Jadi tim pelacak kontak adalah sahabat masyarakat yang menolong saya, keluarga, dan sahabat-sahabat semua dari rantai penularan Covid-19," ungkapnya.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan salah satu cara memutus mata rantai penularan adalah dengan melakukan pemeriksaan, pelacakan dan perawatan yang tepat kepada pasien yang tertular. Namun, pemeriksaan dan pelacakan ternyata tidak mudah dilakukan karena terjadi penolakan di masyarakat.

Dia menduga fenomena ini terjadi karena di masyarakat masih berkembang stigma negatif bagi penderita Covid-19, masyarakat takut divonis tertular.
"Padahal, masyarakat tak perlu takut karena mayoritas penderita Covid-19 sembuh. Di Indonesia sekarang angka kesembuhan telah menembus 83,9% dari kasus aktif, jauh di atas kesembuhan dunia yang di level 69%."

(Tim Liputan News\Yudi Rachman)

Share:



Berita Terkait

Komentar