Simak Yuk!, 9 Batu Meteorit Ini Bernilai Fantastis

Sabtu, 21/11/2020 15:22 WIB
Batu Meteorit (Gatra)

Batu Meteorit (Gatra)

Jakarta, law-justice.co - Meteorit hangat yang jatuh di rumah Josua Hutagalung ditaksir bernilai fantastis. Ukurannya tak lebih besar dari kepala Josua. Berikut adalah meteorit-meteorit besar yang pernah mendarat di bumi.

1. Kanjeng Kiai Pamor

Kiai Pamor adalah nama untuk bongkahan meteorit yang jatuh tak jauh dari kawasan Candi Prambanan (sekarang Prambanan Klaten Jawa Tengah) tahun 1784. Pada 13 Februari tahun itu, meteorit itu diambil oleh pihak Kasunanan Surakarta dan diboyong ke Keraton.


Batu itu berukuran 1 meter kubik. Batu itu ambles dan tidak bisa dengan mudah dievakuasi. Perlu dinamit untuk mengevakuasi meteorit itu. Wakil Pengageng Sasana Wilapa, KRA Dany Narsugama mengatakan batu itu pecah menjadi dua dan ada pula serpihan-serpihannya.

"Yang bongkahan kecil, pada 13 Februari 1784 diambil atas perintah Raja Pakubuwono III dibawa ke keraton. Konon sebesar buah kelapa. Pecahan besar pada 12 Februari 1797, atas perintah Pakubuwono IV dibawa ke keraton, besarnya kira-kira 1 meter kubik," kata Dany, Kamis (19/11) kemarin.

Di Keraton Surakarta, ada cungkup khusus untuk menempatkan batu itu. Pakar keris Ki Totok Brojodiningrat sempat melihat Kiai Pamor itu untuk kondisi era saat ini.


2. Bola api di Bone

Asteroid yang jatuh ke bumi kemudian disebut sebagai meteorit. Di laut Bone Sulawesi Selatan, pernah ada asteroid meledak pada 8 Oktober 2009.

Diberitakan detikcom saat itu, asteroid itu meluncur ke laut Bone Sulawesi Selatan tanpa terdeteksi teleskop. Ukuran meteorit itu diperkirakan berdiameter 10 meter.

Periset di University of Western Ontario menyatakan, asteroid yang jatuh di Bone menampakkan awan debu yang bersinar seperti bola api. Hal serupa juga disaksikan oleh warga Bone.

3. Tunguska 1908

Sebuah asteroid atau pecahan komet berdiamater 60 meter dipercaya jatuh di dekat sungai Tunguska, Siberia, Rusia. Ledakan dahsyat terjadi saat itu, 30 Juni 1908. Ledakan itu diperkirakan setara dengan 10-15 juta ton TNT, cukup untuk membumihanguskan sebuah kota besar.


200 kilometer persegi area pepohonan menjadi rata. Hewan ternak warga beterbangan gara-gara guncangan benda angkasa itu.

4. Chelyabinsk

Dilansir dari NewScientist, ada bola api besar (superbolide) yang melintas di Chelyabinsk, barat daya Rusia, pada 2013. Video viral merekam persitwia itu.

Peristiwa itu mendahului 16 jam dengan perkiraan astronom soal meteoroid 2012 DA14 yang bakal melintas dekat bumi. Diperkirakan, ini cuma kebetulan saja. Namun peristiwa superbolide di Chelyabinsk itu melukai leibh dari seribu orang karena kaca-kaca pecah gara-gara gelombang ledakan benda angkasa itu.

Di mana meteoritnya? Meteoritnya ditemukan dalam bentuk pecahan-pecahan (fragmen) batu. Ternyata, meteorit ini berjenis non-logamm, namun kondrit. Aslinya, ukurannya 19 meter.

5. Chicxulub, punahkan Dinosaurus

Kawah Chicxulub berada di Yucatan, Meksiko. Kawah ini terbentuk oleh hantaman asteroid pada 65 juta tahun lalu. Banyak ilmuwan percaya meteorit dari asteroid ini berkontribusi terhadap kepunahan dinosaurus.

Diperkirakan, diameter asteroid kala itu adalah 170 hingga 300 km. Barangkali, ini adalah asteroid terbesar yang pernah menghajar bumi.

NewScientist menjelaskan meteorit ini memusnahkan sepertiga kehidupan di muka bumi.

6. Vredefort, Afsel

Dalam sejarah awalnya, Bumi dibombardir dengan potongan-potongan besar puing luar angkasa. Tapi tidak seperti yang ada di bulan, sebagian besar kawah bumi telah terkikis.

Salah satu yang tertua yang kita ketahui adalah Vredefort Dome di Afrika Selatan, yang berumur sekitar 2 miliar tahun. Dengan diameter 300 kilometer, itu juga salah satu yang terbesar, diciptakan oleh batu yang lebarnya bisa mencapai 10 kilometer.

7. Kawah Morokweng

Morokweng adalah kawah besar dan kuno lainnya di Afrika Selatan, kali ini di tepi Gurun Kalahari. Batuan tersebut telah mengalami pelapukan sedemikian rupa sehingga hanya ditemukan melalui anomali magnetik melingkar pada batuan tersebut, yang ditemukan oleh penambang mineral pada tahun 1990-an.


Tetapi pada tahun 2006, tempat itu menjadi terkenal. Para peneliti sedang mengebor jauh ke dalam kawah ketika, sekitar 770 meter ke bawah, mereka menemukan pecahan meteorit sepanjang 25 sentimeter. Itu cukup mengejutkan: lebar kawahnya 70 kilometer, dan sebelumnya diasumsikan bahwa setiap tumbukan yang cukup besar untuk menghasilkan lubang seperti itu akan melelehkan meteorit tanpa bisa dikenali.

8. Allan Hills 84001

Bongkahan batu ini berdampak bukan karena ukurannya yang sangat besar - beratnya hanya sekitar 176 gram - tetapi karena di dalamnya terdapat tanda-tanda kehidupan alien. Setidaknya, itulah ide yang dikemukakan oleh para ilmuwan NASA pada tahun 1996 - sebuah klaim yang begitu berani sehingga bahkan Presiden AS Bill Clinton memberikan konferensi pers tentang hal itu pada hari penemuan.

Dilansir NewScentist, batu itu terlempar dari permukaan Mars sekitar 15 juta tahun yang lalu oleh dampak asteroid yang sangat besar dan akhirnya jatuh di Antartika sekitar 13.000 tahun yang lalu. Para peneliti yang menganalisisnya menemukan apa yang mereka pikir sebagai garis besar sel-sel kecil, molekul organik, dan deposit yang mengandung besi mirip dengan yang dihasilkan oleh beberapa bakteri di Bumi.

Bongkahan batu itu adalah bagian tertua dari planet Mars yang `bersilaturahmi` ke Bumi, tentu saja tidak balik lagi ke daerah asalnya.

9. Meteor terbesar di Jerman

Dilansir Deutsche Welle (DW) dari berita 15 Juli 2020, meteorit besar ditemukan di Blaubeuren. Beratnya sebesar 30 kg lebih.

"Beratnya 30,26 kg, membuat ini sebagai batu meteorit terbesar yang pernah ditemukan di Jerman," kata pakar meteorit Dieter Heinlein.

Sebenarnya, penggalian terhadap meteorit sudah dilakukan sejak 1989 di kebun penduduk setempat. Si warga penggali itu sebenarnya sadar, batu yang satu ini lebih berat ketimbang batu biasanya. Batu ini juga diketahuinya mengandung besi. Namun si warga itu membiarkan batu itu teronggok begitu saja di kebun. Belakangan diketahui, batu itu adalah meteorit.

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar