Panglima TNI: Media Sosial Cara Propaganda Radikalisme Gaya Baru

Sabtu, 21/11/2020 13:42 WIB
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (Askara)

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (Askara)

Jakarta, law-justice.co - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyampaikan media sosial saat ini tengah menjadi media propaganda dalam perang informasi di era teknologi. Bahkan jadi bentuk propaganda radikalisme baru.

"Internet telah menciptakan dunia baru, cyber space membawa perubahan besar baik dalam berbagai sektor," kata Hadi dalam "Webinar Anak Bangsa dalam Menjaga Keutuhan Bangsa dan Negara dari Aksi Separatisme di Dunia Maya", Sabtu (21/11/2020) pagi.

Panglima TNI menyampaikan, selain sisi positif, ada juga ancaman memecah keutuhan bangsa. Selama satu dekade yang lalu, mobilisasi massa mampu digerakkan hanya melalui narasi-narasi negatif yang ada di sebuah media sosial.

"Medsos menjadi media perang informasi. Kita sekarang kenal hastag, trending topik, yang kita kenal dulu isu propaganda," tambahnya.

Panglima TNI menjelaskan suka atau tidak suka, harus diakui bahwa medsos telah dimanfaatkan sebagai media propaganda dengan penggunaan jangkauan luas. Bahkan media ini juga digunakan untuk menyampaikan narasi-narasi negatif dan menyebarkan isu-isu sosial dan isu separatisme berbahasa Inggris untuk mencari simpati dan dukungan politik dari dunia internasional.

"Apabila kita tidak mampu mengantisipasi adanya upaya separatisme di dunia maya ini, maka kita telah jauh Tertinggal akan terbentuk opini negatif terhadap pemerintah baik di dalam negeri maupun dunia internasional semakin meluasnya kesalahan pandangan terhadap isu sebenarnya," jelasnya.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyampaikan penggunaan media sosial harus dikawal dengan baik. Ia juga menyampaikan narasi-narasi negatif harus dilawan dengan narasi positif dengan data dan fakta yang benar terjadi.

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar