Pfizer di Gadang Vaksin Terampuh Lawan Covid, Siapa Dibaliknya?

Senin, 16/11/2020 14:43 WIB
Vaksin Covid-19 buatan Pfizer Inc AS

Vaksin Covid-19 buatan Pfizer Inc AS

New York, Amerika Serikat, law-justice.co - Nama perusahaan farmasi asal New York City, AS, Pfizer Inc yang tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) masih menjadi trending media sepanjang pekan ini lantaran vaksin buatannya, BNT162b2, hasil kolaborasi dengan perusahaan Jerman, BioNTech SE, 90% berhasil melawan virus corona.

Kabar ini juga langsung membuat harga sahamnya melonjak pada penutupan perdagangan di Wall Street.

Saham Pfizer dengan kode perdagangan PFE melesat 7,69% di level US$ 39,20/saham atau Rp 545.000/saham kurs Rp 14.000/US$), dengan kenaikan year to date hanya 0,05%.

Setahun terakhir saham Pfizer naik 5,80% dengan kapitalisasi pasar US$ 217,9 miliar atau Rp 3.050 triliun.

Sementara itu, saham Biopharmaceutical New Technologies (BioNTech) atau emiten farmasi dengan kode BNTX di Bursa Nasdaq juga meroket 13,91% di level US$ 104,80/saham dan year to date sahamnya meroket 209,33% dengan kapitalisasi pasar US$ 25,05 miliar atau setara.

Siapa sebetulnya Pfizer dan bagaimana kinerja perusahaan saat ini?

Siapa pula pemegang saham perusahaan tersebut?

Situs perusahaan mencatat, Pfizer adalah perusahaan farmasi multinasional Amerika, salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia dan berada di peringkat 57 dalam daftar Fortune 500 tahun 2018 dari perusahaan terbesar AS berdasarkan total pendapatan.

Di Indonesia, Pfizer juga memiliki perwakilan yakni Pfizer Indonesia yang didirikan pada 1969, dan menjalankan operasional pabrik dan pemasaran sejak 1971.

Dimulai dengan hanya 11 pegawai, sekarang setelah penyatuan dengan beberapa perusahaan, jumlah pegawai mencapai hampir 600 orang sebagaimana disebut dalam siaran pers PT Pfizer Indonesia.

Dalam presentasi yang disampaikan Frank D`Amelio, Chief Financial Officer dan Executive Vice President, Global Supply Pfizer, menyebutkan total pendapatan perusahaan khusus kuartal III-2020 menembus US$ 12,1 miliar atau setara dengan Rp 169 triliun, turun 4% secara year on year (yoy).

Dari total pendapatan Q3 itu, pendapatan dari bisnis biofarma naik 4% menjadi US$ 10,2 miliar secara yoy.

Adapun pendapatan Pfizer secara global selama 9 bulan atau per September turun 8% menjadi US$ 35,96 miliar atau setara Rp 503 triliun dari periode yang sama tahun lalu US$ 39,06 miliar.

Frank D`Amelio, dalam bahan presentasi yang disampaikan di situs resmi Pfizer, juga mengungkapkan perusahaan membidik pendapatan tahun ini mencapai US$ 48,8 miliar hingga US$ 49,5 miliar.

Namun dengan kondisi saat in, target kemudian direvisi menjadi US$ 40,8 miliar hingga US$ 42,4 miliar.

Pendiri Pfizer adalah Charles F. Erhart, seorang pengusaha Amerika kelahiran Jerman yang ikut mendirikan Charles Pfizer & Company pada 1849, bersama dengan Charles Pfizer, sepupunya dan kemudian menjadi saudara iparnya.

Kini, pemegang saham sudah terbesar setelah Pfizer menjadi perusahaan pubik di Wall Street. Mengacu data CNN Money, investor Pfizer juga berasal dari beberapa perusahaan manajer investasi global yang menjadi pemegang saham perusahaan, salah satunya BlackRock.

Pada 8 November lalu, Pfizer dan BNTX mengumumkan kandidat vaksin berbasis mRNA mereka yakni BNT162b2, untuk melawan virus SARS-CoV-2 telah menunjukkan bukti keampuhan terhadap Covid-19 pada peserta uji coba tanpa efek samping.

Hal ini berdasarkan analisis khasiat sementara pertama yang dilakukan pada 8 November 2020 oleh Komite Pemantau Data (DMC) eksternal dan independen dari studi klinis Tahap 3.

"Hari ini adalah hari yang luar biasa bagi sains dan kemanusiaan. Rangkaian hasil pertama dari uji coba vaksin Covid-19 Tahap 3 kami memberikan bukti awal kemampuan vaksin kami untuk mencegah Covid-19," kata Dr. Albert Bourla, Chairman dan CEO Pfizer, dalam siaran pers, dikutip CNBC Indonesia Senin (16/11/2020)

"Kami mencapai tonggak penting dalam program pengembangan vaksin kami pada saat dunia paling membutuhkannya dengan tingkat infeksi yang membuat rekor baru, rumah sakit yang hampir kelebihan kapasitas dan ekonomi yang tengah berjuang untuk pulih," tegasnya.

Dia menjelaskan, dengan berita hari ini, pihaknya selangkah lebih dekat dalam memberikan terobosan yang sangat dibutuhkan kepada masyarakat dunia untuk membantu mengakhiri krisis kesehatan global ini.

"Kami berharap dapat berbagi data kemanjuran dan keamanan tambahan yang dihasilkan dari ribuan peserta dalam beberapa minggu mendatang," katanya.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar