Vaksin Asal AS Lebih Efektif, Pemerintah Malah Fokus Vaksin dari China

Kamis, 12/11/2020 19:16 WIB
Meski vaksin asal AS terbukti 90 persen efektif, pemerintahan Jokowi  tetap prioritaskan vaksin asal China (Ist)

Meski vaksin asal AS terbukti 90 persen efektif, pemerintahan Jokowi tetap prioritaskan vaksin asal China (Ist)

Jakarta, law-justice.co - Pemerintah lebih fokus terhadap vaksin dari China daripada yang berasal dari Amerika Serikat (AS), meski juga tetap dipertimbangkan. Padahal, vaksin COVID-19 buatan Pfizer dari AS disebut 90 persen efektif dibadningkan vaksin Sinovac asal China. Lantas kenapa pemerintah lebih prioritaskan vaksin dari China?

Kepala Kantor Staf Presidenan (KSP) Jedneral (purn) Moeldoko mengatakan, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah alur distribusi vaksin lewat cara rantai dingin atau cold chain. Artinya, suhu perlu terus dijaga supaya mutu vaksin tidak menurun.

"Yang pasti orientasi pertama Sinovac dan Sinopharm. Tidak menutup kemungkinan. Tapi juga ada persoalan teknis yang dari sisi perlakuan terhadap vaksin itu, dingin ya, itu daerah-daerah seperti kita ini sepertinya akan menghadapi kesulitan karena jaring dinginnya itu, harus melalui suatu temperatur (cold chain -red), sehingga pada nantinya harus distribusi dari satu wilayah ke wilayah lain akan menghadapi masalah," katanya kepada wartawan di gedung Bina Graha, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (12/11/2020).

Moeldoko menerangkan, pertimbangan utama pemerintah dalam melaksanakan vaksinasi yakni tingkat keefektifan dari kandidat vaksin COVID-19 yang akan digunakan serta pertimbangan harga dan masalah teknis lainnya. Permasalahan teknis yang dimaksud yakni dari sisi perlakukan terhadap vaksin yang akan digunakan.

Moeldoko menambahkan, pemerintah saat ini berorientasi mengenai pengadaan vaksin COVID-19 dari Sinovac dan Sinopharm. Tetapi tidak menutup peluang dengan vaksin dari perusahaan lain yang dianggap efektif.

"Iya. Saya pikir seperti itu. Eijkman juga mengembangkan vaksin Merah Putih, mungkin ada lagi pabrik vaksin di Indonesia mungkin semuanya akan pasti jadi pertimbangan. Pertimbangannya adalah efektivitas, yang kedua juga pertimbangan harga, mungkin pertinbangan teknis, dan seterusnya, persediaan," sebut Moeldoko.

BNT162b2 menjadi vaksin COVID-19 pertama diklaim 90 persen efektif. Vaksin tersebut dikembangkan oleh perusahaan farmasi yang berbasis di Amerika Serikat Pfizer dan BioNTech.

Efektivitas vaksin hingga 90 persen pada vaksin Pfizer ini berdasarkan analisis sementara pada 94 peserta dalam uji coba pengembangan vaksin COVID-19, memeriksa berapa banyak dari mereka yang menerima vaksin versus plasebo.

Vaksin COVID-19 BNT162b2 dari Pfizer ini berbasis teknologi messenger RNA (mRNA). Ini menggunakan gen sintetis yang lebih mudah diciptakan, sehingga bisa diproduksi lebih cepat dibandingkan dengan teknologi biasa.

BNT162b2 ini dibuat dari virus yang tidak aktif atau dilemahkan. Virus ini tidak akan menyebabkan sakit, tetapi mengajari imun untuk memberikan respon perlawanan.

Terkait efek samping, dari 43.500 relawan yang mendapatkan suntikan beberapa di antaranya merasakan efek samping berupa sakit kepala dan nyeri otot. Tetapi, efek samping tersebut menghilang dengan cepat.

Adapun beberapa efek samping lainnya yang diungkapkan para relawan, seperti Glenn Deshields asal Austin, Texas yaitu pengar yang parah, rasa seperti mabuk. Sementara relawan lainnya, Carrie asal Missouri merasakan efek samping seperti sakit kepala, nyeri tubuh, sampai demam setelah mendapat suntikan pertamanya pada September lalu.

erkait harga, vaksin BNT162b2 ini pada bulan Juli lalu dijual pada pemerintah AS dengan perkiraan biaya $ 19,50 atau sekitar Rp 275.000 per dosis.

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar