Ternyata WHO Undang Menkes Terawan Cuma untuk Acara Diskusi Ilmiah

Jum'at, 06/11/2020 10:36 WIB
Menkes Terawan Agus Putranto. (Tirto)

Menkes Terawan Agus Putranto. (Tirto)

Jakarta, law-justice.co - Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menepis pernyataan Kementerian Kesehatan soal undangan Badan Kesehatan Dunia (WHO) ke Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto.

Sebelumnya, undangan itu diklaim sebagai bentuk apresiasi dari WHO karena Terawan dinilai berhasil menangani pandemi virus corona (covid-19) di Indonesia.

Dicky yang mengaku terlibat dalam proses revisi regulasi kesehatan internasional (international health regulation/IHR) tahun 2005, menyebut undangan itu hanya wadah bertukar pengalaman atau review atas penanganan negara dalam pandemi ini.

"Jadi undangan itu hanya wadah sharing ilmiah antara WHO dengan negara yang berjuang melawan pandemi, berbagi pengalaman berharganya dalam pengendalian pandemi. Bisa saja negara itu berhasil, gagal, atau masih struggle," kata Dicky seperti melansir cnnindonesia.com, Jumat 6 November 2020.

Dicky menjelaskan, IHR pada tahun 2005 menghasilkan serangkaian tinjauan setelah-tindakan (after action review/AAR) terhadap pandemi SARS yang terjadi 2003.

Serangkaian upaya itu digunakan sebagai wadah agar negara yang terdampak epidemi maupun pandemi melakukan evaluasi mandiri setelah wabah.

Sedangkan tinjauan intra-tindakan (intra-action review/IAR) menurutnya, muncul di tengah pandemi covid-19 mengingat bencana non-alam ini bisa berlangsung lama dan telah memakan banyak korban jiwa.

Oleh sebab itu WHO memberikan wadah kepada berbagai negara untuk mengevaluasi proses penanganan.

"Biasanya setelah tiga bulan melakukan atau negara mencanangkan darurat bencana nasional, maka dilakukan evaluasi terhadap program pengendaliannya dalam bentuk IHR yang difasilitasi WHO," jelasnya.

IAR ini, menurut Dicky, berfokus memfasilitasi diskusi stakeholders nasional dan sub nasional dalam pengendalian covid-19.

Selain itu, pertemuan IAR berguna sebagai media pengusulan tindakan korektif dalam pandemi. Temuan dan rekomendasi IAR diharapkan dapat berkontribusi untuk peningkatan manajemen keadaan darurat.

"Jadi tidak serta merta negara yang melakukan IAR berarti sudah melakukan pengendalian pandemi covid-19 dengan baik," kata dia.

Lebih lanjut, Dicky juga mengungkapkan bahwa IAR ini akan menjadi refleksi pembelajaran dan rekomendasi secara ilmiah dan independen karena dimuat di jurnal ilmiah oleh WHO.

Selain itu, WHO juga akan menjadikan hasil review itu sebagai salah satu rujukan untuk pembelajaran, baik positif ataupun negatif.

Terkait alasan Indonesia yang dipilih dengan tiga negara lain dalam undangan itu, Dicky menyebut saat ini memang hanya empat negara yang tengah rampung menyelesaikan laporan atau review IAR ini.

Dicky bilang, kemungkinan mereka adalah Indonesia, Sierra Leone, Afrika Selatan, dan Thailand.

Sedangkan menurutnya, beberapa negara yang berhasil seperti Australia, New Zealand, Korea Selatan, China, dan Vietnam seharusnya diharapkan dapat merampungkan IAR untuk kemudian turut disampaikan kepada WHO.

"Jadi memang masih empat negara saja ya setahu saya yang sudah mengumpulkan IAR itu. Kemudian memang Indonesia salah satu negara yang pertama mau dan mengadakan IAR," pungkasnya.

Dihubungi terpisah, Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono juga sepakat acara undangan WHO kepada Terawan itu hanya sebuah acara refleksi dan review hasil penanganan selama pandemi ini.

"Hanya acara refleksi, tidak ada indikasi sukses di situ. Apakah negara tersebut sudah berhasil mengimplementasikan IAR, bukan sudah berhasil menanggulangi pandemi," kata Pandu.

Menurutnya, setiap negara tidak bisa menilai hasil kerja secara mandiri tanpa pengawasan atau penilaian pihak lain. Dalam hal ini, WHO yang bertugas melakoni pekerjaan itu.

"Review dari nasional respons. Jadi yang review dilakukan sendiri kan hebat, oleh karena itu ada pertemuan itu," jelasnya.

Sebelumnya, WHO secara khusus mengundang Terawan dalam pertemuan virtual yang digelar hari ini, Jumat (6/11).

Pertemuan itu menurut Kemenkes sebagai bentuk apresiasi dari WHO karena Terawan dinilai berhasil menangani pandemi virus corona di Indonesia.

Undangan itu termaktub dalam surat yang diteken oleh Asisten Direktur Jenderal Kesiapan Darurat WHO Jaouad Mahjour pada 30 Oktober lalu dan ditujukan kepada Terawan.

Undangan itu menyebut Terawan akan diajak bertemu secara daring dengan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Tedros akan mendengarkan masukan dari para menteri mengenai tindakan dalam penanganan Covid-19 atau IAR.

Dalam surat, WHO menginginkan pertemuan secara virtual itu dapat dijadikan ruang belajar dalam strategi dan respons masing-masing negara dalam menangani pandemi virus Corona.

WHO berharap agenda itu akan menjadi refleksi negara yang terkait hingga negara lain dalam menghadapi pandemi ini.

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar