Pemerintah Australia Sebut Pernyataan Mahatir Mohamad Menjijikkan

Jum'at, 30/10/2020 18:41 WIB
PM Malaysia, Mahatir Mohammad dikecam pemerintah Australia (Foto: Freemalaysiatoday.com)

PM Malaysia, Mahatir Mohammad dikecam pemerintah Australia (Foto: Freemalaysiatoday.com)

Jakarta, law-justice.co - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Mohamad dikecam oleh pemerintah Australia karena mendukung aksi kekerasan terhadap Prancis. Menurut pemerintah Australia, status media sosial Mahatir yang mengatakan umat Muslim berhak membunuh jutaan orang Prancis sangat menjijikan.

Sejumlah tokoh dari pemerintahan Australia, termasuk Perdana Menteri Scott Morrison ikut mengecam Mahatir.

"Saya tahu bahwa dia tidak dan tidak akan mendukung kekerasan yang sebenarnya. Tapi dalam iklim saat ini, kata-kata bisa memiliki konsekuensi," kata Komisaris Tinggi Australia untuk Malaysia Andrew Goledzinowski seperti dilansir The Star, Jumat (30/10/2020).

Goledzinowski mengatakan dalam sebuah retweet di akunnya yang mengutip cuitan Mahathir yang sekarang sudah dihapus, bahwa dia sangat terganggu dengan pernyataan itu.

Sementara PM Scott Morrison meilai apa yang disampaikan Mahatir itu tak masuk akal dan menjijikkan.

"Satu-satunya hal yang harus dikatakan hari ini adalah mengutuk sepenuhnya serangan itu. Satu-satunya tanggapan adalah benar-benar hancur," katanya.

Morrison menambahkan bahwa cuitan Mahathir harus dikutuk dengan sebisa mungkin.

Sementara itu, mantan duta besar Australia untuk Prancis, Brendan Berne menyebut Mahathir sebagai "fanatik tanpa prinsip", menurut Sydney Morning Herald.

Dalam sebuah pernyataan yang aslinya ditulis dalam bahasa Prancis, Berne mengatakan bahwa orang-orang Australia mengenal Mahathir dengan baik karena komentar provokasinya.

"Kami orang Australia mengenal pria ini, yang sangat suka memprovokasi," ujarnya seperti dikutip Sydney Morning Herald.

Tanpa merujuk ke serangan penusukan di gereja Notre-Dame di Nice, Prancis pada Kamis (29/10) pagi waktu setempat, cuitan kontroversial Mahathir diposting beberapa jam setelah penusukan yang menewaskan tiga orang itu.

Twitter kemudian menghapus salah satu cuitannya, yang awalnya ditandai sebagai "mengglorifikasi kekerasan".

Cuitan Mahathir tersebut telah diganti dengan pesan yang menyatakan bahwa cuitan tersebut melanggar aturan Twitter.

Dalam cuitan yang sekarang dihapus, Mahathir mengatakan bahwa "Muslim memiliki hak untuk marah dan membunuh jutaan orang Prancis untuk pembantaian di masa lalu". Dia menambahkan bahwa Muslim, bagaimanapun, tidak melakukan pembalasan dengan cara ini.

 

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar