Beberapa Saham Ini Terkerek Naik, Analis: Hold and Sale!

Kamis, 29/10/2020 16:47 WIB
Perdagangan Saham (Okezone)

Perdagangan Saham (Okezone)

Jakarta, law-justice.co - Beberapa saham mencatatkan kenaikan harga yang signifikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang bulan Oktober 2020. Sepuluh saham dengan peningkatan harga tertinggi itu terkerek antara 61% hingga 188,34%

Mengutip data dari Bloomberg Kamis (29/10/2020), peningkatan harga saham paling tinggi dialami oleh PT Aesler Grup Internasional Tbk (RONY) hingga 188,34% menjadi Rp 470. Setelahnya disusul oleh PT Bank Permata Tbk (BNLI) hingga 93,97% menjadi Rp 2.250. Ada juga PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) yang naik hingga 82,69% menjadi Rp 95.

Di urutan setelahnya, harga saham PT Bank QNB Indonesia (BKSW) tercatat meningkat 81,16% menjadi Rp 125. PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) terkerek 75,34% menjadi Rp 128. PT Nusantara Almazia (NZIA) naik 74,19% menjadi Rp 216 dan PT Trimuda Nuansa Citra Tbk (TNCA) terkerek 70,76% menjadi Rp 292.

Sementara itu, tiga saham terakhir dengan kenaikan harga tersignifikan ada PT Cipta Selera Murni Tbk yang meningkat hingga 69,93% menjadi Rp 520, PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) naik 64,67% menjadi 1.235, dan BAJA terkerek 61,40% menjadi Rp 92.

Kendati mencatatkan cuan tertinggi sepanjang bulan Oktober 2020, analis menyarankan untuk tetap berhati-hati terhadap saham-saham tersebut.

Dilansir dari Kontan, Analis Sucor Sekuritas Indonesia Hendriko Gani mengatakan, investor sebenarnya masih dapat mengikuti tren kenaikan harga beberapa saham. Akan tetap, investor perlu lebih teliti dan menganalisa likuiditas saham-sahamnya. " Karena saham-saham tersebut memiliki likuiditas yang relatif minim," jelas Hendriko.

Hendriko mengamati, di antara kesepuluh saham itu, hanya BRIS dan BNLI yang memiliki sentimen positif. BRIS diwarnai sentimen merger bank syariah. Sedangkan BNLI terdorong rencana Bangkok Bank yang akan menjadikan BNLI sebagai bank buku IV. Sementara untuk saham-saham lain, sebenarnya tidak ada sentimen yang berpengaruh signifikan terhadap harga sahamnya.


Analis Panin Sekurtias William Hartanto juga berpendapat, hanya BNLI dan BBRI yang memiliki sentimen positif yang berpengaruh terhadap pergerakan sahamnya. Sementara kenaikan harga saham yang lain tidak diketahui penyebabnya.

Oleh karena itu, William cenderung menyarankan investor untuk mencermati saham-saham yang pergerakannya terdorong sentimen positif saja. Akan tetapi menurut William, secara teknikal, saham BRIS terlihat lebih menarik. " Adanya gap pada 1.125 dapat menjadi entry level dan target harga pada Rp 1.500," jelas William.


Walau keduanya berpotensi melanjutkan kenaikan harga, William melihat penguatannya kemungkinan besar terbatas karena dibayang-bayangi profit taking.

Aksi ambil untung itu sebenarnya juga membayangi saham-saham lain. Oleh karenanya, ia merekomendasikan hold atau sell saja. Saham-saham dengan kenaikan harga tinggi, apalagi sudah lebih dari 50%, tidak direkomendasikan buy.

Senada dengan William, Analis MNC Sekuritas Herditya cenderung merekomendasikan investor mencermati saham BNLI dan BRIS saja. BNLI bisa spekulatif buy dengan target harga terdekat di sekitar Rp 2.100 dan BRIS dengan target harga terdekat di Rp 1.300.

Untuk saham lainnya, jika investor tetap tertarik untuk masuk, Herditya menyarankan supaya mencermati pergerakan harga serta volume transaksinya. "Pelaku pasar perlu mewaspadai pergerakan saham-saham tersebut dan jangan terlalu agresif," imbuh Herditya kepada Kontan.co.id, Rabu (28/9).

Di sisi lain, Hendriko berpendapat investor masih dapat memanfaatkan tren kenaikan pada pergarakan saham RONY, JAWA, JAYA, dan TNCA. Saham-saham lainnya belum direkomendasikan karena dalam trend reversal.

Menurutnya, investor masih bisa melakukan pembelian pada saham RONY dengan target harga Rp 530 hingga Rp 560, JAWA dengan target harga Rp 100 hingga Rp 105, JAYA dengan target harga Rp 150 hingga Rp 160, dan TNCA dengan target harga Rp 330 hingga Rp 340.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar