Klaim Sudah Amati Norovirus, Kemenkes: Itu Penyakit Lama Mirip Diare!

Kamis, 22/10/2020 06:37 WIB
Ilustrasi norovirus. (iStockphoto/jarun011)

Ilustrasi norovirus. (iStockphoto/jarun011)

Jakarta, law-justice.co - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengklaim telah lama mendeteksi norovirus yang menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di China saat ini, selain Covid-19.

"Norovirus itu sebenarnya virus yang sudah lama ada di Indonesia, berbeda lah ya dengan Covid-19. Kalau Covid-19 jenis virus baru, sedangkan Norovirus dia virus yang sudah lama dan gejalanya memang seperti diare," kata Direktur Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi seperti melansir cnnindonesia, Kamis 22 Oktober 2020.

Dia menerangkan karakteristik virus tersebut umumnya masuk ke tubuh manusia lewat air atau makanan yang terkontaminasi. Tak jarang, katanya, orang awam menyebutnya keracunan makanan.

"Norovirus ini disebabkan karena faktor kebersihan, air tidak matang, seperti itu ya, sehingga tidak perlu terlalu khawatir karena imun dapat turun juga kan, yang penting tapi tetap menjaga kebersihan," kata Siti Nadia.

Sebelumnya, penelitian yang dilakukan Juniastuti dan kolega yang dipublikasikan di Journal of Medical Virology pada Mei lalu melaporkan 15,4 persen dari 91 sampel di rumah sakit di kota Jambi mengandung norovirus.

Menurut Siti Nadia, rujukan penelitian yang dilakukan Juniastuti dkk itu bukanlah temuan norovirus yang pertama terjadi di Indonesia. Ia menerangkan pada 2009 penelitian terkait norovirus sudah pernah dilakukan di Surabaya dengan objek penelitian pada anak-anak.

Kemudian pada 2010 juga pernah dilakukan penelitian di Nusa Tenggara Barat (NTB) soal keterkaitan diare dengan norovirus.

"Semasa pandemi covid-19 ini kita tidak ada laporan kasus peningkatan diare yang luar biasa, jadi tidak terlalu signifikan," kata Siti Nadia.

Dia menjelaskan setidaknya ada tiga macam hasil penelitian tentang karakteristik virus ini. Pertama, orang yang fesesnya mengandung norovirus tapi tidak menimbulkan gejala diare, atau bisa disebut carrier virus. Kedua, golongan yang mengindikasikan gejala ringan. Dan, golongan yang merasakan gejala berat.

Siti Nadia lalu menerangkan fokus Kemenkes merespons norovirus adalah dengan tetap melakukan pemantauan lewat sistem pendataan angka penderita diare di Indonesia. Ia juga mengimbau agar masyarakat tidak langsung panik begitu mendengar kasus norovirus di China.

Menurutnya pola hidup bersih yang juga digunakan untuk mencegah Covid-19 seperti protokol kesehatan seperti mencuci tangan dapat menjadi salah satu cara terbaik mengantisipasi norovirus. Sebab beberapa kasus diare memang dapat berpotensi menyebabkan kematian.

"Kalau diare cenderung kasusnya banyak orang dehidrasi. Dan, dehidrasi bisa menyebabkan kematian, apalagi anak-anak," jelasnya.

Dihubungi terpisah, Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Hermawan Saputra menyebut pengendalian secara epidemiologis, maka peran Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Kemenkes tetap dibutuhkan dalam penanggulangan norovirus ini.

Sebab karakteristik virus ini lebih condong pada higienitas, ia meminta agar dinas kesehatan di setiap daerah melakukan upaya antisipasi.

"Dinkes kesehatan harus berkoordinasi dengan tempat makan atau resto di wilayah itu untuk menjaga higienitas. Harus memastikan cara penyimpanan benar hingga penyajian, sehingga ada hal-hal seperti keracunan segera ditindak," kata Hermawan.

Tidak hanya melakukan pemeriksaan lebih masif, Hermawan menilai Dinkes juga harus tanggap dalam menyelidiki substansi dari makanan itu. Kendati demikian, seperti Siti Nadia, Hermawan juga mengimbau agar masyarakat tidak terlalu panik atau khawatir meski tetap harus waspada.

"Kalau ada gejala mual dan tidak enak di lambung segera periksa. Dan sejalan saja kampanye protokol kesehatan covid-19, meski cara penularan berbeda dengan Covid-19," pungkasnya.

Sebagai informasi, saat ini di China yang belum selesai serangan pandemi virus corona kini diguncang dengan serangan norovirus. Otoritas pengendalian penyakit di China mengungkapkan lebih dari 70 mahasiswa di universitas di Provinsi Shanxi, China utara terpapar norovirus, pada Rabu (7/10) lalu.

Universitas Keuangan dan Ekonomi Shanxi di Taiyuan, China mengatakan mahasiswa tersebut menunjukkan gejala muntah, diare, dan demam akibat norovirus.

 

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar