Garuda Sugardo, Bapak Seluler Indonesia

Minggu, 18/10/2020 11:00 WIB
Garuda Sugardo

Garuda Sugardo

Jakarta, law-justice.co - Nama Garuda Sugardo sudah amat terkenal dunia industri telekomunikasi seluler di Indonesia. Berkecimpung di dunia telekomunikasi seluler Indonesia selama kurang lebih 30 tahun membuatnya sering disebut “Bapak Seluler Indonesia”

Pernah menjabat Direksi Telkomsel, Indosat dan Telkom . Lulus kuliah di tahun 1977, langsung bekerja di PT Telkom di Bandung, Ia berhasil memimpin pilot project Selular Pertama GSM Telkomsel di Batam dan Bintan.  Dan berjasa  berjuang memblok Sinyal Sigtel diBatam supaya revenue bisa masuk ke  Indonesia.  Garuda dinilai sangat berjasa bagi lahir dan berkembangnya TELKOMSEL dan TELKOMFlexi yang merupakan operator telekomunikasi terbesar di Indonesia. Disampaikan pada  Law and Justice.co

Setelah Pensiun , apa saja kegiatan selain dibidang sosial  di industry  Telkomunikasi   ?

Pensiun dari Telkom 2007 jadi 30 tahun  bekerja di Telkom dan pensiun dari Wakil Dirut, masih aktif di Mastel kemudian sebagai Senat di Telkom Politeknik sebelum ada Telkom University . kemudian ikut beberapa perusahaan. Pernah bekerja sebagai Dirut PT.Tiphon selama  6 bulan  , tugasnya meng-IPOkan perusahaan keluarga menjadi GoPublik . Bergabung TIK Nasional mulai 2014 sampai sekarang.   Saya juga ketua pusat Koperasi Pensiunan Telkom dari 2007 sampai sekarang ini . Pernah jadi Wakil ketua Persatuan Pensiunan Telkom dengan anggota 30.000 anggota selama 4 tahun . Di Tahun 2020 ini sebagai Komisaris Utama sebuah Perusahaan Swasta bergerak di bidang Telekomunikasi, yang banyak sekarang saya kerjakan aktivitas  di Dewan TIK Nasional  ketuanya Presiden Republik Indonesia sesuai Kepres no 1 2014 , ketua Pelaksana Teknis Ilham Habibie .  Selain itu menulis artikel tentang issue - issue Telekomunikasi .

Kalau  kegiatan hobi ikut Motor Besar tapi sekarang 6 bulan tidak aktif karena Pandemik ini, ikut Bandung Volvo Lover mobil lawas Volvo , pernah juga Volkswagen Club tapi  karena sudah di jual tidak lagi.

Bagaimana untuk menjaga  stamina dan pemikiran tetap prima?  

Yah harus punya hobby ,kunci orang supaya survive adalah : Integritas , Competency , Vision dan Publik Komunikasi , tapi yang paling utama adalah Vision , inilah ini membuat kita eksis. Banyak orang Pensiun bingung mau ngapain .  Ceritanya Pensiun enak , misalnya istirahat , menikmati  tapi tidak seperti itu buat orang yang suka aktivitas makanya banyak teman-teman kemudian kena post power syndrome karena arena tidak punya Vision.  Banyak juga sekarang orang active di WA group meski tidak jelek , tapi dari pagi sampai malam hanya hahahihi / lucu lucuan , tapi kalau nilai tambah kehidupan buat keluarganya jadi tidak ada. Kehidupan ibarat pisau ini harus tetap diasah  , supaya tetap tajam yah harus tetap mengikuti perkembangan , kritis dan bisa menempatkan diri dimana kita berada . Banyak tetangga saya tanya pak Garuda sudah Pensiun tapi jarang dirumah  (sebelum Covid); kalo tidak di Bandung ya di Jakarta kalau tidak  , ya di luar kota.  Tapi sekarang jaman Covid semua orang harus di rumah . Jadi Pensiun itu  sebenarnya “ Break the Limit” , limit itu yang kita harus kita capai. Mampukah kita  mengisi batas waktu  itu dengan kegiatan positif , kalau tidak bisa kita akan menjadi folower kehidupan . Tapi kalau kita bisa mengisi  . Moto saya Bekerja sebatas Kemampuan dan kesehatan , berkarya sebatas kemampuan dan Mengabdi sampai napas penghabisan .Tapi kalau Motto dalam bermasyarakat  : kesejahteraan , kesehatan dan saling Perduli.

Bagaimana Perkembangan Seluler di Indonesia ,yang pernah dirintis dari awal?

Seluler di  Indonesia Sudah luar biasa perkembangannya jadi dalam jumlah pelanggan ini kita nomor 4 atau 5 terbesar di dunia dan 50% dari populasi jumlah seluler di Indonesia ini adalah kontribusi 50% oleh Telkomsel jadi luar biasa Telkomsel di jumlah pelanggannya 50% dari seluruh total operator di Indonesia dan revenue juga sekitar 50% itu. Jadi ada lima operator sekarang, Telkomsel, Indosat, XL, Smartfren dan Tri. Nah dari 5 ini kalau kita lihat memang yang benar-benar Indonesia ini orang banyak bertanya `nih yang mana sih yang betul-betul Indonesia?` kalau Telkomsel ya mayoritas karena  Sigtel 35% , Kalau  Indosat sudah milik Qatar mayoritas ,  Indonesia tinggal 14% , XL juga mayoritas Axiata Malaysia, Smartfren ini masih pakai bendera Indonesia tapi kita nggak tahu secara bisnis apakah bekerja sama dengan orang lain, tetapi dari segi kepemilikan yang merah putih dan Tri ini punya Hutchison HK 

Jadi dilema ini sebetulnya kalau kita boleh berterus terang menggarap pasar yang sama dengan teknologi yang sama dapatkannya pasar mobilitas bergerak dengan segala macam fasilitas nya sama saja. Kemudian teknologi nya sama sekarang mereka masih menggunakan 3G dan 4G bahkan ada yang klaim 4,5G.   kemudian tarif nya juga di bolak balik beda-beda jadi ngak ada yang merugi lah.

Jadi yang membedakan sebetulnya komitmen mereka dan pelayanan. Komitmen itu pertama adalah Coverage , dari 5 ini yang Coverage  Sabang-Merauke cuma Telkomsel.

Kemudian kapasitas,  yang paling besar adalah Telkomsel. Kemudian Quality hampir sama lah terus kalau di kota besar dan pelayanan layanan service.  Jadi seharusnya sesuai dengan modern lisensi  semua operator ini di seluruh Provinsi dan Kabupaten. Karena itulah modern lisensi diterapkan di Indonesia tapi nyatanya sekarang yang Sabang Merauke yang ada di 514 Kabupaten kota ini cuma Telkomsel, ini telah terjadi sejak Telkomsel masih muda Telkomsel berdiri tahun 1995, 1998 saya tinggalkan itu 3 tahun di sana. Coverage  sudah Sabang Merauke, luar biasa dia dan saya kalau boleh cerita sedikit kenapa saya di berhentikan di Telkomsel waktu itu karena alasannya begitu . Pemegang saham nya waktu itu Telkomsel, Indosat dan PTT Belanda para pemegang saham direksi perusahaan besar tersebut enggak suka  saya membangun 27 Provinsi mereka menganggap pemborosan, mereka nggak suka punya kapasitas yang besar mereka bilang juga buang buang uang. Tetapi setelah ekonomi, Resesi Krismon  waktu itu tahun `98  hanya 1 operator yang bisa tetap membangun ya itu Telkomsel.  Jadi saya kembalikan lagi ke mereka, itu lah sebabnya saya bangun coverage ini sedemikian luas, karena selain memang harus one time free, one nation, one coverage ini juga adalah  komitmen pelayanan, nah itu yang menjadi modal Telkomsel kuat, hebat, The largest, the biggest sampai hari ini. Tidak 1 operator pun yang 4 lainnya bisa melakukan seperti Telkom 20 tahun yg lalu jadi ini luar biasa ya.

Nah sekarang masalahnya apa? masalahnya apakah seluler ini memberikan kemasahatan, secara industri dan juga untuk masyarakat. Jadi masyarakat sebetulnya di manapun di seluruh dunia dalam kehidupan ini menginginkan pilihan, apa lagi di bisnis commodity ya seperti seluler, kendaraan dll, di televisi. Lain hal nya misalnya listrik, begitu listrik itu memang lebih kepada sebuah utilitas , yang jarang dilakukan secara kompetisi, begitu juga Pertamina tetapi kalau bisnis retail itu memang kompetisi masyarakat menginginkan pilihan.

Tetapi dengan 5 pilihan ini juga masyarakat rasanya malah membingungkan jadinya, ini yang semua promosi ini. Promosinya tidak ada yang jelek semuanya bagus, tetapi itu hanya terjadi di kota-kota besar saja.

Ini kan sebuah antagonis ya di kota-kota besar, di Jawa banyak pilihan tetapi diluar Jawa misalnya di Indonesia bagian Timur enggak ada pilihan, tetapi di antara yang banyak pilihan ini di masa Pandemi Covid ini, kita semua tau bahwa sebetulnya coverage kita belom bisa melayani masyarakat secara merata dan masif. Jangan jauh-jauh lah tidak harus di Tasikmalaya, di Ciamis, di Banten sana di pedalaman-pedalaman banyak anak-anak sekolah yang untuk mendapatkan coverage itu harus naik ke bukit , untuk mengikuti Pendidikan jarak jauh, kasihan itu anak-anak mereka harus naik ke bukit, sampai di atas baterai nya habis, ngak ada listrik harus turun, begitu mau turun hujan ; jadi itu sebetulnya enggak boleh terjadi, nah itu adalah hak asasi dari bangsa ini untuk mendapatkan layanan yang sama .

Covid 19 mengajarkan seluruh bangsa di dunia kita harus bertransformasi .  Seluler jangan dianggap sebagai sarana konektivitas saja tapi sarana nilai tambah, apa nilai tambahnya dengan internet tanpa ada modal pemerintah . Gojek tumbuh lebih subur , Orang belanja secara online. Ekonomi digital tumbuh dengan sendirinya . Justru yang di koordinasikan pemerintah harus bisa tumbuh  lebih besar .  Misalnya e-education  tidak sepenuhnya di drive oleh pemerintah .  Ada Ruang Guru ,ada sekolahku semua di selenggarakan oleh swasta. Puskesmas itu harusnya sudah bisa melayani masyarakat secara Online .   Halodoc, Dokterku, Dokter Sehat dengan teknologi informasi Internet dan seluler ini  kreativitasnya menjadi lebih besar.

Universitas terbuka dulu sudah ada orang kurang menghargai , sekarang hampir semua Universitas menjadi Terbuka. Usaha pemerintah menjadikan akses broadband internet sebagai sarana wahana yang penuh manfaat artinya,apa artinya dia bisa digunakan setiap kapan-kapan saja oleh siapa saja . Harus  terjangkau dan menjangkau baik dari segi layanan , segi biaya  yang terjangkau  dan empowering memberdayakan masyarakat budayakan ekonomi dan memberdayakan seluruh kegiatan kegiatan yang bisa ditransformasikan dari fisik menjadi digital kita sebut  Useable ,Accordable dan Empowering . Dan ini adalah tugas Pemerintah , Operator  dan juga tugas Industri kita .

Sayangnya  apa ,   industri ini yang begini besar. Jangan lupa belanja Selular masyarakat Indonesia itu luar biasa besarnya. Orang beli pulsa prabayar saja tuh untuk Telkomsel aja hampir 100 triliun ,buat 4 Operator yang lain 100 triliun ,   ditambah infrastuktur jaringan, transmisi, gadget, laptop,  aplikasi  100 triliun  jadi belanja untuk teknologi informasi dan komunikasi sudah 300 triliun , ini  luar biasa sekali  . Tapi kita tidak punya pabrik dengan merek ponsel Indonesia kita tidak punya infrastruktur Indonesia kita pakai WA setiap hari messenger bukan buatan Indonesia. Buat  rapat Kementerian Perdagangan segala macam sampai saya rapat RW pun pakai video call semuanya tidak ada yang buatan Indonesia, sayang pasar yang besar yang begini potensial tidak bisa kita lakukan sekarang infrastruktur perangkat baik menjadi baik perangkat-perangkat yang kita gunakan maupun jaringan aplikasi ini lebih banyak buatan Asing , dalam hal ini buatan China, Tiongkok .

Karena  mereka yang mereka tawarkan adalah kemudahan dan kemurahan mereka tidak konservatif seperti barang-barang Eropa , Huawei ZTE  mereka bikin barang  ukurannya Lifecyle , ngapain bikin handphone umurnya 10 tahun karena orang juga menggunakan handphone setiap ada perubahan tipe perubahan-perubahan model mereka bisa ganti handphone dengan cara tukar tambah segala macam kemudahan-kemudahan sehingga Industri dalam negeri ini tertekan , dalam arti kata kalau kita bikin sampai kalah . Jangan bikin handphone bikin  peniti aja kita barangkali nggak bisa. Bikin alat-alat rumah tangga itu yang akan buatan buatan lokal kan yang punya mutu rumah tangga.

Tapi mereka kalau ini kan sudah dengan mesin kita harus memanfaatkan keberadaan industri dari luar ini dengan cara mengajak mereka untuk membangun industrinya di dalam negeri yang dulu yang namanya Siemens, namanya Nokia ,Ericsson ,Motorola itu mereka bekerja sama dengan Factory Indonesia termasuk NEC . Jaman Pak Habibie peran PT Inti , PT.LEN  dan indutri dalam negeri sangat luar biasa , sekarang tidak ada . Mereka juga menjual solusi penjual dengan tenaga tenaga ahli yang tidak juga 100% Indonesia. China itu  secara kualitas memang sudah bagus jadi udah di akui seluruh dunia, kita juga  mengakui.

Sekarang 5G mereka di factory sudah buat 6G . mereka sangat kompetitif . Tanpa barang China kita beli barang semua akan mahal .  Delivery mereka bisa lebih cepat , mereka bisa hitungan bulan saja.Kalau Amerika bisa 6 bulan kadang-kadang 1 tahun .Kalau China dia bisa delivery hitungan bulan saja tiga bulan sudah bisa di tempat, sudah bisa dioperasikan.

Hanya saja mereka kurang transfer teknologi, ini penting supaya kontent local bisa ikut di dalamnya dan local people bisa dimanfatkan sebesar-besarnya . Tapi nggak tahu nasib PT Dirgantara Indonesia bisa hidup apa tidak.

PINDAD  bisa hidup karena diwajibkan TNI dan POLRI sebisanya membeli produk  PINDAD  , begitu juga PT PAL  . Di Telekomunikasi tidak seharusnya  juga pemerintah memberikan ketentuan bahwa kamu operator Indonesia harus menggunakan produk-produk yang dibuat di Indonesia . Seperti Toyota, Kijang Toyota Astra itu segala macam ,Daihatsu sudah dibuat di Indonesia.

Telekomunikasi Ini teknologi yang begitu dinamis begitu cepat sekarang populasi 272 juta masyarakat jumlah pelanggan seluruhnya 340 sampai 351 juta , orang sekarang kita ada yang punya dua Nomor 3 nomor handphone yang beda dengan handphone sama tapi kita tanya kembali handpone itu buatan siapa?

Tantangan ke depan , Infrastruktur juga begitu 80% masih di dominasi buatan China , oleh adalah Huawei dan ZTE . Operator sekarang kalau enggak punya modal ya ajak mereka untuk membangun bersama-sama yang didapat , kamu bikin networknya nanti kalau revenuenya kita bagi masing - masing .

Jumlah operator tetap lima , padahal Indonesia harus tidak segitu  harus ada konsolidasi . Kalau Konsolidasi dari 5 ini bisa bagus menjadi 4 kemudian suatu hari menjadi 3  syukur bisa menjadi dua .

Ini baru  terjadi sebuah efisiensi terjadi efisiensi nasional dan tetap ada kompetisi tetap ada pilihan tapi buat masyarakat di mana-mana nanti mereka bisa mendapatkan pilihan . Di tempat saya coba ada rumah ada satu operator Nggak boleh begitu , tetap di seluruh Indonesia harus ada pilihan. Regulator harus sangat berperan.

Pandangan di Telekomunikasi persaingan merek Eropa sudah kalah dengan China

Tapi kalau misalkan mereka pasti akan fokus persaingan sekarang merek Eropa nggak kalah dengan China.

Bukan kalah merek , sekarang kita bicara ekonomi digital ,  kita bicara sekarang industri digital ekonomi , maka kita bicara sampai sebatas gojek, sebatas seperti itu padahal kalau di sana itu seperti itu berbicara mengenai industri digital itu bukan cuma jual merek tetapi mereka mengkreasi inovasi memproduksi produk-produk itu lebih cepat dari zamannya jadi kalau kita sekarang beli Samsung Galaxy, sekarang itu  Galaxy 10  di laboratorium di sudah ada Galaksi 11 dan 12. 

4G saja belum merata di sana ,dimana mana sudah 5G dan di laboratorium mereka sudah 6G . Industri kreative mereka luar biasa, kita keteteran.  Oleh karena itu peran Perguruan Tinggi dan lembaga-lembaga riset di Indonesia . Kita tahu nih Walaupun banyak sekali promosi-promosi doktor ya. Doktor -doktor di Indonesia banyak Doktor Management  .  Sebenarnya yang diperlukan adalah Doktor Riset  yang membangun industri bersama-sama di fasilitasi oleh Negara , di fasilitasi Kamar Dagang  , kemudahan fasilitas  supaya bisa berdiri di bidang seperti ini yang punya cita-cita bagus SMKA  tapi belum lihat saya ada di jalan itu ya .

Bagaimana Pandangan Bapak ,Telkom Kemarin membeli saham Tiphone ?

Sebelum kesitu  kita lihat selain selular yang  tumbuh dimasa pandemik ini , Provider Internet Telkom bisa jualan triple play ; suara, internet dan televisi . Yang lain hanya jual dual play itu juga bagus .

Banyak ini bagus tetapi juga lihat industri tidak dikelola dengan baik siapa pemangku kepentingan utamanya . Kita lihat sekarang di Jakarta yang tiang telepon, sekarang banyak yang tiang  internet itu kabel optiknya semeraut luar bisa . Nggak bisa kita urusin ini saja .

Apakah itu artinya apa ,    Industri berkembang ,  infrasuktur berkembang pelayanan jasa berkembang tetapi faktor pendukung  Regulasi nya   tetap memperhatikan aspek estetika kota ini juga harus dilakukan secara bersama-sama .

Oleh karena itu perlu kita bicara sekarang industri four point O seluruh dunia dan industri four point O kuncinya adalah kebersamaan kesetaraan dan juga kolaborasi antara Pemerintah dan pelaku operator antara pelaku dengan pelanggan dalam hal ini memang Telkom leading  tetap kontribusi yang besar dari Telkomsel 70%-85% itu revenue Telkom Group yang laba bersihnya  20 triliun setahun itu itu diperoleh dari Telkomsel . Jadi operator seluler itu nggak perlu kecil hati sebetulnya untuk bersaing dengan dengan Telkomsel  . Begitu juga operator-operator internet internet begitu tumbuh pilihan sudah ada. Kenapa mereka tidak bisa melakukan seperti Telkom bersama-sama . Dengan begitu masyarakat diuntungkan tetapi regulasinya juga harus diatur dan pasarnya juga jangan menumpuk di kota saja dan harus tersebar di seluruh Indonesia jadi kalau orang dapat lisensi di jawa harus diwajibkan membangun di Indonesia Timur . Kalau di Sumatera juga harus membangun di tempat lain juga supaya balans .

Telkom sudah menjadi Full Network Service Provider , mereka memiliki dari Hulu ke Hilir , ada baik dan kurang baiknya .

Kurang baiknya artinya pembinaan kemitraan oleh kontraktor kontraktor di luar Telkom ini kemudian nggak dapat “Pasar “ semua dikerjakan oleh Telkom Grup .Perusahaan Kebel laut ada , mobile ada , Selular dibidang IT  ada dan Distribusi mereka ada .

Itulah sebabnya mereka pada sekitar tahun 2012 -2013 setelah saya keluar dari Tiphone  itu , mereka mengaku isi 25%  melalui  anak perusahaannya PT PIN , Pramindo Ikat Nusantara  tujuannya agar mereka bisa mendapatkan Mitra dibidang distribusi . Untuk bisnis retail  dari   handphone, voucher dan produk-produk device lainnya.

Karena apa , Karena waktu itu Tiphone kan sudah punya jaringan yang luas ya kan waktu itu kontribusi Tiphone grup  , itu terus berkembang  untuk di Telkomsel prabayar ,paket perdana, maupun voucher isi ulang itu besar sekitar 40%  . Dan Telkom  ingin memanfaatkan jaringan distribusi tetapi itu kan sudah berjalan . Sekarang  2020 artinya lebih dari 5 tahun dengan kondisi yang seperti ini sebetulnya sudah harus bisa membangun sistem distribusi nya secara mandiri karena punya jaringan internet yang luas distribusi penyebaran orang yang ada di seluruh Indonesia,  kantor-kantor sudah  ada hanya saja diperlukan jiwa kewirausahaan untuk bergerak di bidang distribusi seperti yang mereka dapatkan dengan bekerja sama  dengan PT.Tiphone .Kita membaca sekarang di media anak perusahaannya Telesindo bermasalah  kalau masalah ini bisa selesai distribusi  bisa lancar lagi.

Dalam sebuah ikatan kerjasama seperti itu diperlukan visibility study .Kedua diperlukan Good Corporate Governance  bagaimana secara legal bisa comply dan resiko managementnya diperhitungkan.

Kedua operasionalisasi dari perusahaan yang kerjasama itu  . Telkom banyak kerjasama dengan perusahaan lainnya sebuah keniscayaan hal yang lazim terjadi dalam dunia bisnis . Ketiga Setelah itu adalah bisnis plannya , bisnis Modelnya  seperti apa .Ke empat baru berorientasi kepada Profit dan menguntungkan perusahaan.

Operator lain mereka tidak mengakui sisi sistem distribusi dari yang lainnya mereka kerja sama saja biasa aja jalan aja . Distribusi paket perdana dan voucher ini kalau kita ke daerah-daerah semua operator ada bedanya kalau telepon bekerja sama dengan pihak ketiga,  operator lain bekerja sama dalam arti kata dia sebagai Mitra saja bukan sebagai anak perusahaan .

Kondisi yang sekarang banyak WFH dan banyak kegiatan harus di rumah , Operator telekom lagi menanjak ,  pandangan Bapak suasana Covid  bagaimana Pak ?

Banyak industri jasa-jasa  yang kolaps, termasuk restoran, apalagi pariwisata hiburan  , tetapi telekomunikasi  seperti  mobile, seluler dan  internet tumbuh-tumbuh sampai 15%  luar biasa . Karena Work from Home ini sebenarnya hanya memindahkan orang saja tapi  malah lebih terikat  dengan handphone  dan begitu pula anak-anak sekolah sampai ikut-ikutan . Otomatis pulsanya nambah , trafik nya bertambah naiknya 10%-15% , luar biasa .Untuk naik dua digit ini tidak mudah dalam era kompetisi ini  , tetapi  tidak serta merta revenuenya naik seperti itu, karena pemerintah juga menginstruksikan agar operator melakukan sebuah kegiatan Corporate Social Responsibility .

Tetapi karena paket kuota murah menyebabkan kenaikan 10 % sampai 15% trafik ,ini hanya diikuti dengan kenaikan revenue yang minim . Kalau kita baca di media itu ya naik tapi hanya 1% - 5% tergantung kepadatan memakainya, begitu ya tapi saya kira 3% sampai 5% . Peningkatan yang harus dibarengi dengan peningkatan kualitas juga kenyamanan buat Pelanggan dari keamanan dan kenyamanan di dalam era cyber ini ,  Kalau Guru agama kita hidup di alam dunia ini dan alam baka  , sekarang ditambahkan lagi kita juga hidup ini Alam Cyber .

(Patia\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar