Remdesivir Dinilai Tidak Efektif dan Cenderung Mahal

Sabtu, 17/10/2020 18:31 WIB
Obat Remdesivir (Unversidad)

Obat Remdesivir (Unversidad)

Jakarta, law-justice.co - Para peneliti menunjukkan bahwa remdesivir tidak mengurangi risiko pasien meninggal akibat Covid-19. Hal itu berdasarkan studi yang didanai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada obat tunggal atau kombinasi obat yang secara signifikan mengurangi kematian di antara pasien, dibandingkan dengan kelompok tanpa obat.

Selain itu, obat ini juga tidak mengurangi kemungkinan pasien yang dirawat akan ditempatkan pada ventilator, juga tidak mengurangi waktu pasien di rumah sakit.

"Temuan keseluruhan yang tidak menjanjikan dari rejimen yang diuji cukup untuk menyangkal harapan awal bahwa obat tersebut akan mengurangi kematian di antara pasien COVID-19," tulis laporan yang dipublikasi di medRxiv via Bisnis, Sabtu (17/10/2020).

Studi tersebut sudah melibatkan 11.200 pasien Covid-19 dari 30 negara. Sekitar 4.100 dari pasien tersebut menjadi kelompok pembanding dan tidak menerima perawatan obat, sedangkan sisanya menerima satu dari empat obat, atau kombinasi dari beberapa obat.

Obat ini termasuk remdesivir, hydroxychloroquine, antivirus yang disebut lopinavir dan molekul perangsang kekebalan yang disebut Interferon-β1a. Sekitar 650 pasien menerima interferon dan lopinavir secara bersamaan.

"Kisah besarnya adalah penemuan bahwa remdesivir tidak memberikan dampak yang berarti pada kelangsungan hidup, "ungkap Martin Landray, profesor kedokteran dan epidemiologi di Universitas Oxford.

Peserta uji coba dirawat di 405 rumah sakit yang berbeda di seluruh dunia, para pasien tetap dengan protokol pengobatan mereka sendiri. Landray menilai faktor di luar remdesivir mungkin berdampak pada kelangsungan hidup pasien.

Andai kata bahkan jika remdesivir membantu beberapa pasien, kata Landray itu masih mahal dan sulit untuk diberikan kepada pasien. "Ini adalah obat yang harus diberikan melalui infus intravena selama lima sampai 10 hari," tuturnya.

Landray mengatakan biayanya sekitar US$2.550 per pengobatan. "Covid mempengaruhi jutaan orang dan keluarga mereka di seluruh dunia. Kami membutuhkan perawatan yang terukur, terjangkau dan adil," tegasnya.

(Tim Liputan News\Yudi Rachman)

Share:



Berita Terkait

Komentar