Marie Thomas, Srikandi Pejuang Kedokteran Indonesia

Selasa, 13/10/2020 08:48 WIB
Marie Thomas menjadi sosok pahlawan dokter perempuan pertama di Indonesia (Boscha.id)

Marie Thomas menjadi sosok pahlawan dokter perempuan pertama di Indonesia (Boscha.id)

Jakarta, law-justice.co - Hidup penuh keterbatasan, diasuh oleh Maria Josephine Catherine Maramis, Marie Thomas, dokter perempuan Indonesia pertama harus melawan stigma gender melawan dominasi lelaki dalam perjuangan kemanusiaan melalui dunia kedokteran.

Siapa bilang perempuan Indonesia jauh tertinggal. Kita mengenal Kartini, pejuang kesetaraan perempuan, dari ilmu kedokteran, ada perempuan yang bernama Marie Thomas. Marie Thomas merupakan anak ideologis dari pahlawan nasional Maria Josephine Catherine Maramis atau Maria Walanda Maramis yang memperjuangkan kemajuan kaum perempuan.

Diasuh dalam organisasi organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) yang didirikan Maria. Membuat dirinya mandiri dan mendapatkan pendidikan yang lebih dari pada perempuan di kampungnya. Marie Thomas adalah putri dari Adriaan Thomas dan Nicolina Maramis.

Dalam risalah, Marie Thomas berasal dari Likupang, Minahasa Utara. Ia lahir pada 17 Februari 1896. Orangtuanya bekerja sebagai pegawai negeri di zaman kolonial.

Pendidikannya kala itu hanya sampai sekolah desa selama tiga tahun lulusannya hanya paham baca tulis. Marie, menurut catatan yang disusun AG Pringgodigdo dkk, merupakan lulusan Meisjesschool (sekolah gadis) di Yogyakarta pada 1912.

Dari Kota Yogyakarta, Marie melanjutkan ke School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) alias Sekolah Dokter Hindia atau yang lebih dikenal sebagai Sekolah Dokter Jawa di Batavia. Sekolah ini banyak melahirkan tokoh pergerakan nasional, seperti Soetomo, Cipto Mangunkusumo, Wahidin Sudirohusodo, dan lain-lain.

Sebelum Marie Thomas, orang Minahasa sudah ada yang lulus dari Sekolah Dokter Jawa, yaitu Israel Iroot, kelahiran Amongena, Langowan. Menurut HAR Tilaar dalam Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI (1990:338), Israel Iroot lulus pada tanggal 15 Nopember 1877. 35 tahun kemudian, Marie Thomas masuk STOVIA bulan September 1912.

Keberhasilan Marie Thomas lulus sebagai dokter kemudian diikuti oleh orang-orang Minahasa lainnya, yakni Anna Karamoy Warouw dari Amurang dan Dee Weydemuller dari Manado.

Anna Karamoy Warouw adalah juga asuhan PIKAT. Ia masuk STOVIA dua tahun setelah Marie Thomas. Sementara Dee Weydemuller masuk Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya. Dokter Anna Karamoy Warouw kemudian memperoleh brevet (sertifikat) sebagai spesialis penyakit Telinga, Hidung, dan Kerongkongan (THK).

Inspirasi Bagi Tenaga Medis Perempuan
Para dokter lulusan STOVIA wajib menjalani ikatan dinas sebagai dokter pemerintah setidaknya selama sepuluh tahun. Dalam Ensiklopedia Umum disebutkan bahwa dokter Marie Thomas pernah bertugas di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) yang kini menjadi Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo.

Selain di Batavia, ia juga pernah ditugaskan di Cirebon, Manado, dan Bukittinggi. Di masa itu, termasuk untuk urusan kesehatan dan melahirkan, orang Indonesia masih banyak yang memilih dukun daripada dokter atau bidan.

“Dulu saya bekerja di Cirebon hanya dibantu oleh seorang bidan untuk satu kota,” kata Marie Thomas seperti diceritakan ulang oleh Siti Marjam dalam Kongres Perempuan Indonesia.

Suatu malam, ia mendapat kabar dari seorang wedana bahwa seorang perempuan membutuhkan bantuannya. Ia pun bergegas berangkat ke desa tempat perempuan yang berjarak puluhan kilometer. Sesampainya di sana, si perempuan yang katanya butuh pertolongan itu ternyata dalam kondisi baik-baik saja.

“Saya tidak sedikitpun menyesal karena telah dipanggil sedemikian jauhnya,” ucap Marie Thomas.

Marie bangga orang desa di Cirebon sudah mulai percaya dokter yang disediakan oleh pemerintah kolonial. Itulah kenapa ia dipanggil untuk memberikan pertolongan yang sebetulnya hanya perkara kecil.

“Waktu saya bekerja di Cirebon, memang kerap kali orang desa itu meminta pertolongan saya melalui pemerintah,” ucapnya.

Menjadi Tokoh dalam Novel Nh. Dini
Marie Thomas menikah dengan dokter mata bernama Moehammad Joesoef pada tahun 1929. Joesoef berasal Solok dan merupakan kawannya semasa belajar di STOVIA. Pasangan ini tinggal di Padang. Pada 1931, mereka sempat tinggal di Jakarta dan kemudian kembali lagi Sumatra.

Sebagai orang Minahasa, Marie Thomas ikut serta dalam Persatoean-Minahasa yang tersebar di banyak daerah di Indonesia. Di perantauan, sebagai ahli kebidanan, ia ikut mendidik para bidan di Sumatra. Kiprahnya itu membuat ia menjadi tokoh masyarakat yang dihormati.

Nama Marie Thomas menjadi karakter dirinya sendiri dalam novel Nh. Dini yang berjudul Amir Hamzah, Pangeran dari Seberang (1981:156). Marie Thomas dalam novel tersebut disebutkan sebagai lulusan NIAS Surabaya. Nh. Dini, seperti para penulis lain, menyebutnya sebagai dokter wanita pertama Indonesia.

Marie Thomas wafat pada tahun 1966, sementara suaminya lebih dulu mengembuskan napas terakhir yaitu pada tahun 1958.

Perjalanan Dokter Wanita Indonesia
Pada 1851, sekolah dokter berdiri untuk pertama kalinya di Indonesia (kala itu masih bernama Hindia – Belanda). Mulanya bernama Sekolah Dokter Djawa, lalu akhirnya berganti menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen), Sekolah Dokter untuk Hindia Belanda.

Kala itu, dominasi murid di SOTIVA adalah kaum laki – laki. Perempuan yang berupaya untuk mendaftar ke STOVIA masih mendapatkan penolakan. Hingga akhirnya, kemunculan Aletta Jacobs, dokter perempuan pertama di Belanda membawa perubahan yang cukup besar di kalangan STOVIA. Pertemuannya dengan Gubernur Jenderal A.W.F Idenburg membawa angin segar bagi dunia medis di Hindia – Belanda, terutama untuk kaum perempuan.

Dalam pertemuannya dengan Idenburg, Jacobs menyampaikan pernyataannya bahwa perempuan di Rumah Sakit, perempuan membutuhkan penanganan dari tenaga medis perempuan. Hal yang masih menjadi keterbatasan ini ditengarai beberapa regulasi dari pihak penguasa yang menyulitkan kaum perempuan untuk mendaftar ke STOVIA.

Berkat jasa Aletta Jacobs inilah kaum perempuan akhirnya bisa menikmati bangku sekolah kedokteran di Hindia – Belanda. Pula, inilah yang menghasilkan dokter perempuan pertama di Indonesia, Marie Thomas.

Marie Thomas menikah dengan dokter mata bernama Muhammad Yusuf pada tahun 1929. Yusuf merupakan kawannya semasa belajar di STOVIA. Pasangan ini tinggal di Padang. Pada 1931, mereka sempat tinggal di Jakarta dan kemudian kembali lagi ke Sumatra.

Sebagai orang Minahasa, Marie Thomas ikut serta dalam Persatuan-Minahasa yang tersebar di banyak daerah di Indonesia. Di perantauan, sebagai ahli kebidanan, ia ikut mendidik para bidan di Sumatra. Kiprahnya itu membuat ia menjadi tokoh masyarakat yang dihormati. Pada tahun 1950, Marie mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi, yang merupakan sekolah kebidanan pertama berdiri di Sumatera, dan kedua di Indonesia.

Dan semua sepak terjang Marie Thomas pun harus terhenti pada tahun 1966, karena pada tahun itu Marie Thomas wafat, pada usia 70 tahun karena pendarahan otak secara tiba-tiba. Hingga akhir hayatnya ia tetap mendedikasikan dirinya dalam dunia kedokteran dan pendidikan kebidanan. Semua jasa dan kontribusinya dalam dunia kesehatan kala itu menjadi inspirasi banyak orang, meski tidak banyak yang mengenal namanya sebagai perempuan Indonesia pertama yang menjadi dokter.

Dari Berbagai Sumber

(Tim Liputan News\Yudi Rachman)

Share:



Berita Terkait

Komentar