Kembali Salahkan China soal Corona, Trump: Mereka Harus Bayar Mahal!

Kamis, 08/10/2020 22:59 WIB
Tuding Tak Bisa Selesaikan Pandemi Corona, Trump: WHO Boneka China! (Warta Ekonomi).

Tuding Tak Bisa Selesaikan Pandemi Corona, Trump: WHO Boneka China! (Warta Ekonomi).

Jakarta, law-justice.co - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali melontarkan pernyataan yang menyalahkan China atas penyebaran virus corona di dunia.

Kali ini dia berkata bahwa corona bukan salah siapapun, melainkan China dan mereka harus membayar mahal.

Trump mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah video yang diunggah di akun Twitter pribadi, usai kembali dari perawatan akibat terinfeksi virus corona.

"Ini bukan salahmu, itu salah China, dan China akan membayar harga yang besar [untuk] apa yang telah mereka lakukan terhadap negara ini. China akan membayar mahal, apa yang telah mereka lakukan pada dunia. Ini adalah kesalahan China," ucap Trump seperti melansir cnnindonesia.com, Kamis 8 Oktober 2020.

Di sisi lain, Trump mengatakan bahwa penyakit yang dia dapatkan ialah anugerah dari Tuhan dan ia kini sudah merasa lebih baik setelah mendapat serangkaian perawatan.

"Saya merasa, seperti, sempurna, jadi saya pikir ini adalah berkah dari Tuhan yang saya terima," katanya.

Trump telah diberi obat serum antibodi sebelum dirawat di Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed minggu lalu. Saat itu dia mengalami demam dan gejala corona lainnya.

Selama tiga hari di fasilitas tersebut, Trump juga diberi beberapa dosis obat antivirus, Remdesivir dan Steroid Deksametason.

Politisi Partai Republik itu berjanji mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS untuk mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat untuk memberikan obat kepada pasien corona.

Menanggapi hal tersebut, seorang spesialis penyakit menular di Universitas Stanford, Aruna Subramanian berkata permintaan Trump agar FDA menyetujui terapi antibodi "mengejutkan". Ia menambahkan bahwa pujian Trump kepada Tuhan atas infeksinya "membuat perut saya mual".

"Dia sangat memuji antibodi monoklonal Regeneron hari ini. Kami masih melakukan uji coba," katanya dalam sebuah wawancara.

"Kelihatannya cukup aman, dan mungkin manjur, tetapi kami tidak tahu pada siapa, dan untuk jenis gejala apa. Jadi, entah bagaimana, mempromosikan ini sebagai obat dan mengatakan bahwa FDA harus mendorongnya, semua orang harus mendapatkannya - itu sangat, sangat mengejutkan," tuturnya.

AS saat ini masih menjadi negara dengan jumlah infeksi corona terbanyak di dunia, dengan lebih dari 7 juta kasus. Sementara angka kematian akibat virus tersebut di Negeri Paman Sam lebih dari 216 ribu jiwa.

Trump adalah seorang yang cukup lantang menyalahkan China karena corona. Ia sering menggambarkannya sebagai "wabah China" atau "virus China".

Narasi tersebut menurut kelompok hak asasi manusia dan anggota parlemen telah berkontribusi pada peningkatan rasisme anti-Asia di AS.

Enam hari lamanya setelah Trump dinyatakan positif terinfeksi corona, pada Rabu (7/10) malam waktu setempat sang presiden telah kembali ke Ruang Oval, Gedung Putih.

Ruang oval merupakan tempat kerja resmi presiden AS yang dibangun sejak 1909. Juru Bicara Presiden, Brian Morgenstern mengatakan Trump diberi pengarahan tentang negosiasi stimulus ekonomi dan perkembangan Badai Delta menuju Pantai Teluk.

AFP melaporkan, saat ini Trump berada di bawah pengawasan mengingat beberapa orang di sekitar Gedung Putih juga telah terinfeksi virus corona.

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar