Tim Khusus Bentukan Ahok di Pertamina untuk Berantas Mafia Migas

Senin, 05/10/2020 14:51 WIB
Komisaris Utama PT Pertamina (persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (media indonesia)

Komisaris Utama PT Pertamina (persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (media indonesia)

Jakarta, law-justice.co - Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman meyakini, pembentukan tim khusus oleh Basuki Tjahaja Purnama atau AHok untuk menindak keberadaan oknum-oknum di Pertamina yang bisa berdampak negatif terhadap bisnis perseroan dalam jangka panjang.

Hal itu disampaikan oleh Yusri setelah mendengar kabar bahwa Komisaris Utama PT Pertamina (persero) itu telah membentuk tim khusus di Pertamina.

"Bisa jadi (tim khusus di Pertamina) untuk membongkar mafia migas, mafia proyek, dan mafia investasi," kata Yusri, Senin (5/10/2020).

Yusri Usman mendorong agar tim khusus ini segera bekerja membongkar kejanggalan dalam proses tender proyek-proyek Pertamina.
Misalnya, dugaan kejanggalan proses tender proyek pembangunan komplek olefin dan polyolefin di Tuban yang telah menguntungkan salah satu konsorsium dan merugikan konsorsium lain.

"Tim khusus ini harus bisa membongkar dugaan adanya oknum-oknum tim tender sekaligus dalang yang mengarahkan mereka," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, proyek TPPI Olefin Complex menjadi sorotan setelah lolosnya Hyundai Engineering dalam proses tender. Yusri Usman mencatat ada empat kejanggalan dalam proses tender proyek senilai Rp 50 triliun ini.

Keempat kejanggalan tersebut yakni Hyundai Engineering tidak pernah menggarap proyek (EPC, anggota konsorsium Hyundai yaitu Saipem SpA tidak memiliki pengalaman proyek untuk pekerjaan FEED olefin cracker, Pertamina mengubah isi prakualifikasi (PQ) dan mengizinkan penambahan anggota konsorsium setelah pengumuman kelulusan, dan technical evaluation criteria tidak diberikan kepada bidders.

Yusri menegaskan bahwa salah memilih konsorsium kontraktor akan berakibat negatif pada biaya investasi membengkak, kualitas produk tidak maksimal, dan volume produksi tak maksimal.

"Kalau pembangunan kilang olefin di TPPI Tuban salah memilih konsorsium kontraktor EPC-nya maka bisa terjadi BPP (biaya pokok produksi) tinggi untuk semua jenis petrokimia. Kalau sudah tinggi BPP-nya maka hasil produk kilang itu akan kalah bersaing dengan produk kilang swasta seperti Chandra Asri dan kilang olefin lain di luar negeri," tuturnya.

 

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar