Ibarat Tinju, Umat Islam Dibelenggu Tapi Musuh Menghajar Seenaknya

Kamis, 01/10/2020 08:32 WIB
Koordinator Lapangan aksi ‘Selamatkan NKRI dan Pancasila dari Komunisme’, Rabu, 24 Juni di depan Gedung DPR RI, Edy Mulyadi. (Youtube).

Koordinator Lapangan aksi ‘Selamatkan NKRI dan Pancasila dari Komunisme’, Rabu, 24 Juni di depan Gedung DPR RI, Edy Mulyadi. (Youtube).

Jakarta, law-justice.co - Ketua Umum Front Anti Komunis Indonesia (FAKI), Edy Mulyadi mendesak pemerintah tegas dalam mengatasi tindakan persekusi hingga perusakan yang dilakukan sekelompok orang terhadap umat Islam.

Hal itu dia sampaikan dalam merespons aksi vandalisme Mushala Darussalam di Tangerang baru-baru ini.

"Untuk kesekian kalinya. Sekarang ada aksi vandalisme Mushala di Tangerang. Sekali lagi, ini menunjukkan mereka tidak henti-hentinya memusuhi Islam," kata Edy dalam keterangannya.

Pada dasarnya, ia mengapresiasi aparat kepolisian yang sudah menangkap pelaku vandalisme hanya dalam waktu singkat. Namun demikian, Polri dan pemerintah masih memiliki PR untuk mengusut secara tuntas motif pelaku.

Ia justru menyoroti sikap aparat kepolisian, termasuk pejabat pemerintah yang bersikap seakan-akan tidak ada kejadian yang perlu ditangani dengan serius.

"Aparat, pejabat, polisi semua bilang harap tenang, jangan terprovokasi, jangan terpancing, jaga persatuan. Mau sampai kapan, ulama kita dibantai, dilukai, masjid kita dikotori dirusak, agama kita dihina. Mau sampai kapan?" kritiknya.

Sikap para pejabat ini sekana kontras dengan kondisi di lapangan, di mana umat muslim di Indonesia adalah mayoritas. Seharusnya, sebagai umat mayoritas, Islam tidak boleh diinjak-injak di negeri sendiri.

Ibarat kita (muslim) dipaksa main tinju, umat Islam tangan dibelenggu, kaki diikat, lalu musuh menghajar kita dengan bebasnya, dengan seenaknya. Lalu ketika kita mau melawan, stop. (aparat meminta) Jangan terprovokasi. Mau sampai kapan bos?" sesalnya.

"Kita kaum grassroot tidak terprovokasi, kita tidak anarkis, iiya. Tapi tolong, aparat bongkar, usut tuntas peristiwa-peristiwa seperti ini. Bongkar siapa pelakunya. Kalau (pelakunya dari) institusi, institusi mana?" tegasnya.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar