Sejarawan UI Jamin Komunis Tidak Akan Pernah Mati

Kamis, 01/10/2020 07:25 WIB
Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Anhar Gonggong. (konfrontasi).

Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Anhar Gonggong. (konfrontasi).

Jakarta, law-justice.co - Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Anhar Gonggong meyakini penganut paham komunisme atau komunis tidak akan pernah mati. Oleh sebab itu masih menjadi diskursus hangat, tetap relevan untuk diperbincangkan hingga saat ini.

Namun demikian, ia memerhatikan ada pergeseran ideologi seiring perkembangan zaman, di mana banyak negara seperti China, Vietnam, Kuba, Rusia, dan lainnya tidak mengakar pada komunisme ortodoks Karl Marx, kini justru bergeser ke komunisme kapitalis.

Semisal, ia sempat menyimak pidato Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping mengumumkan, pihaknya menciptakan sosialisme China demi merangkul perubahan-perubahan besar dan berdistrupsi terhadap segala dinamika yang ada di dunia.

"Rusia yang tadinya induk dari semua komunisme dunia juga sudah `tidak ada lagi`. China pun mengatakan bahwa dia itu menurut Xi Jinping sekarang bukan komunisme seperti Marx. Jadi sudah terjadi perubahan-perubahan besar," kata Anhar Gonggong saat menjadi pembicara di kanal YouTube Tagar TV.

"Dan di kita (Indonesia) juga terjadi perubahan besar sejak G30S PKI dan Orde Baru. Ya komunisme boleh dikatakan sudah tidak ada artinya gitu," ujar dia lagi.

Kendati demikian, Anhar berani menjamin ideologi komunis tidak pernah mati, apabila kita merujuk pada catatan sejarah. Saat zaman Hindia Belanda, Partai Komunis Indonesia (PKI) sempat melakukan pemberontakan namun berhasil dibabat oleh pemerintahan kolonial.

Seiring berjalannya waktu, PKI kembali melakukan pemberontakan di Tanah Air pada tahun 1948 dan 1965.

"Begitu kita merdeka (PKI) tampil lagi kan. Jadi dia tetap bergerak di bawah," ucap pria berusia 77 tahun tersebut.

Menurut sejarawan kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan ini, akan tampil atau tidaknya PKI ditentukan oleh konsensus antara pemerintah dan masyarakat. Dia meyakini dengan soliditas melakukan penolakan, maka partai terlarang tersebut tidak akan hidup kembali.

Akan tetapi, ia mengingatkan, hidup tidaknya PKI di Indonesia juga ditentukan oleh negara yang harus memberikan ruang kemerataan kesejahteraan, ruang menghapus kemiskinan untuk memastikan komunis tidak tampil lagi.

"Tapi kalau pemerintah tidak bisa merealisasi, masyarakat juga tidak bisa memberikan pertanda bahwa kita merdeka dengan memberikan kesejahteraan yang untuk semua, ya tetap terbuka. Kan artinya masyarakat sendiri yang buka," ucapnya.

"Tetapi kalau kita membangun dan kita memberikan kesejahteraan pada semua, saya kira ruang untuk bergeraknya PKI tidak bisa, tertutup," ujar dia lagi.

Pria pemilik gelar Doktor Ilmu Sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu tidak menyalahkan adanya anggapan sebagian orang ihwal kebangkitan komunis masih menjadi bahaya laten. Namun, tentunya hal tersebut harus diimbangi dengan analisis dan fakta yang terukur.

Di sisi lain ia juga tidak menyalahkan apabila ada orang menilai PKI sudah bukan menjadi bahaya laten lagi, asalkan itu bukan persepsi, harus berlandaskan fakta.

"Tapi yang mengatakan bahwa tidak ada lagi ya dia punya fakta juga mungkin," kata sejarawan Anhar Gonggong.

Simak pernyataan lengkapnya dalam video berikut:

 

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar