Ini Tanda Jokowi Sudah Bingung Atasi Kasus Covid-19

Senin, 28/09/2020 18:24 WIB
Presiden Joko Widodo dinilai sudah bingung atasi Covid-19 (kompas)

Presiden Joko Widodo dinilai sudah bingung atasi Covid-19 (kompas)

Jakarta, law-justice.co - Ketua Majelis Pro Demokrasi Iwan Sumule mengatakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah bingung mengatasi Covid-19. Salah satu tandanya adalah ketika Jokowi menyampaikan konsep mini lockdown untuk menekan penyebaran Covid-19.

"Ini apa lagi, "Mini Lockdown"? Sepertinya Pak Jokowi sudah benar-benar bingung cari konsep dan solusi untuk atasi Covid-19," katanya melalui cuiatan di akun Twitternya @KetumProDEM seperti dikutip law-justice.co, Senin (28/9/2020).

Dia mengatakan kepemimpinan Jokowi saat ini sudah tak bisa diharapkan lagi. Dia juga mneyindir konsep mini lockdown Jokowi mencerminakn otaknya yang mini.

"Sepertinya sesuai otak: mini. Iya gak sih? Tapi masih juga tak mau mundur. Pak Jokowi bukan lagi "HOPE", melainkan HOPELESS," tutupnya.

Sebelumnya, Jokowi kembali berbicara intervensi berbasis lokal yang perlu dilakukan pemerintah provinsi, maupun kabupaten kota, dalam menerapkan kebijakan pembatasan menahan laju pandemi virus corona (Covid-19). Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan, dalam rapat terbatas bertopik pembahasan Laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan.

"Ini perlu saya sampaikan kepada komite bahwa intervensi berbasis lokal ini agar disampaikan kepada provinsi, kabupaten/kota," kata Jokowi.

Intervensi berbasis lokal yang dimaksud Jokowi adalah pembatasan sosial berskala mikro (PSBM), misalnya di tingkat RT, RW, kantor, atau pondok pesantren yang dianggap lebih efektif menekan angka penularan.

"Saya kira itu lebih efektif. Mini lockdown yang berulang itu akan lebih efektif," jelasnya.

Jokowi mengaku tak ingin suatu pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota memukul rata angka penyebaran di daerahnya, sehingga memutuskan untuk menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara ketat.

"Jangan sampai kita generalisir satu kota, atau satu kabupaten apalagi satu provinsi. Ini akan merugikan banyak orang," katanya.

<blockquote class="twitter-tweet"><p lang="in" dir="ltr">INI apa lagi, &quot;Mini Lockdown&quot;? Sepertinya Pak <a href="https://twitter.com/jokowi?ref_src=twsrc%5Etfw">@Jokowi</a> sudah benar² bingung cari konsep dan solusi untuk atasi Covid-19. <br><br>Sepertinya sesuai otak: mini. Iya gak sih? 🙈 <br><br>Tapi masih juga tak mau mundur. <br>Pak <a href="https://twitter.com/jokowi?ref_src=twsrc%5Etfw">@jokowi</a> bukan lagi &quot;HOPE&quot;, melainkan HOPELESS. 🙏 <a href="https://t.co/66FhUPLN2c">pic.twitter.com/66FhUPLN2c</a></p>&mdash; RealKetuaProDEM (@KetumProDEM) <a href="https://twitter.com/KetumProDEM/status/1310447213022068736?ref_src=twsrc%5Etfw">September 28, 2020</a></blockquote> <script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar