Guru Besar ITB: Ada Potensi Tsunami Setinggi 20 Meter di Pulau Jawa

Jum'at, 25/09/2020 06:30 WIB
ilustrasi tsunami (Wartakota)

ilustrasi tsunami (Wartakota)

Jakarta, law-justice.co - Sri Widiyantoro, Guru Besar Bidang Seismologi Institut Teknologi Bandung (ITB), memperingati terkait potensi gempa yang dapat memicu tsunami di wilayah Pulau Jawa.

Dia menjelaskan, potensi tersebut muncul karena adanya wilayah seismic gap di laut selatan Jawa yang dapat menimbulkan gempa dengan kekuatan besar.

"Oleh Dokter Aam, dilakukan simulasi (selama tiga jam) menggunakan model hasil inversi GPS kalau di Jawa Barat saja kalau periode ulang 400 tahun itu bisa menyebabkan tsunami setinggi 20 meter, kira-kira di selatan Banten," ujar Widiyantoro seperti melansir idntimes.com, Kamis 24 September 2020.

Sedangkan untuk wilayah Jawa Timur, Widiyantoro menjelaskan bahwa potensi tsunami relatif lebih kecil yaitu setinggi 12 meter.

Namun, ia menggarisbawahi apabila tsunami antara Jawa Barat dan Jawa Timur pecah secara bersamaan, maka potensi gelombang akan lebih tinggi.

"Bagaimana kalau segmen barat dan timur pecah bersama seperti yang terjadi di Tohoku, Jepang tahun 2011? Maka kita lihat, di sebelah barat bisa mencapai 20 meter ketinggian tsunaminya sedangkan di sebelah timur 12 meter. Namun rata-ratanya menjadi lebih tinggi kalau pecah bersamaan kira-kira di sepanjang Pantai Selatan ini bisa 5 meter tinggi tsunaminya," ujarnya.

Sebagai riset lanjutan, ia mengatakan timnya perlu melakukan marine survey di titik rawan tsunami seperti yang disarankan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Riset lanjutan itu diperlukan karena is mengakui bahwa penelitian tersebut belum memodelkan longsoran di laut ketika gempa besar terjadi.

“Untuk memodelkan itu, tentu kita harus tahu kira-kira daerah mana yang akan longsor kalau memang terjadi gempa besar. Maka perlu dilakukan marine survey untuk melanjutkan survei kami,” katanya.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG mengatakan bahwa potensi gempa yang bisa memunculkan tsunami di Pulau Jawa memang benar adanya.

Namun, sesuai dengan model penelitian yang dilakukan BMKG, tinggi gelombang mencapai di atas tiga meter dengan status awas.

"Karena untuk bisa menentukan ketinggian detail itu harus menggunakan modelin lokal, modelin di pantai tertentu. Jadi kalau di buat rata-rata di atas tiga meter," ujar Daryono.

Daryono menekankan, hingga saat ini belum diketahui kapan gempa serta tsunami itu akan terjadi. Sebab, penelitian terkait hal tersebut adalah untuk kebutuhan mitigasi bencana.

"Sebenarnya yang dapat dilakukan yaitu tiga hal, mempersiapkan segala kemungkinan terburuk seperti menata ruang pantai, edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana dan BMKG berkomitmen membangun serta terus mengembangkan peringatan dini tsunami," katanya.

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar