Transpuan Pertama di Indonesia yang Menduduki Jabatan Publik

Hendrika Mayora: Menjadi Transpuan Bukan Pilihan, Tapi Panggilan Hidup

Rabu, 23/09/2020 17:01 WIB
Hendrika Mayora, nomor dua dari kanan (Dok.Pribadi/law-justice.co)

Hendrika Mayora, nomor dua dari kanan (Dok.Pribadi/law-justice.co)

law-justice.co - Hendrika Viktoria Mayora, namanya pernah jadi buah bibir, lantaran menjadi pejabat publik yang berasal dari kaum transpuan. Ia adalah transpuan pertama di Indonesia yang duduk di posisi tersebut

Dengan dukungan penuh masyarakat, Bunda Mayora, demikian ia akrab disapa, berhasil mengalahkan enam kandidat lain yang seluruhnya laki-laki untuk anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lahir di Habi, 14 Agustus 1986 langkah Bunda Mayora hingga bisa mendapatkan jabatannya saat ini, tidaklah mulus.

"Hidup itu dinamis dan masa lalu itu adalah pelajaran yang paling berharga dan berarti walaupun rasanya sakit. 32 tahun saya merantau dalam jiwaku dan akhirnya saya menemukan jiwa ini seutuhnya dan berani keluar dan menunjukkan ini loh saya," katanya kepada Law-justice, Selasa, (22/9/2020).

Lahir dari keluarga Katolik dengan nama Henderikus Kelan dari tujuh bersaudara, Bunda Mayora sekeluarga sudah dipaksa merantau ke tanah Papua karena terhimpit ekonomi.

"Jadi di tahun lahirnya saya 1986, bapak dan mama sudah merantau ke Merauke, saya menyelesaikan pendidikan di sana dari SD, SMP Seminari Menengah di Merauke hingga melanjutkan sekolah Bruder atau biarawan Katolik di Yogyakarta pada tahun 2008," ujarnya.

Sebagai orang timur lanjutnya, dirinya sebenarnya dibentuk dengan budaya patriarki, kehidupan gereja dan lingkungan sosial yang melarang transpuan. Namun dirinya tidak bisa mengelak saat di bangku SD mulai tertarik pada hal-hal yang berbau perempuan. Mulai dari menggunakan baju daster Ibunya hingga berakting ala-ala film India.

Foto: Dok.Pribadi

"Saya bergumul dengan jiwa sendiri bahkan saya malu, saya takut ketika mendengar kalau orang bilang saya waria. Di ajaran Katolik sendiri homoseksual itu dosa, tubuh tidak boleh diapa-apain, gender hanya ada dua laki dan perempuan," katanya.

Seiring berjalannya waktu Bunda Mayora terus menutup rapat identitas gendernya hingga menerima kaul (sumpah) di tahun 2012 sebagai seorang bruder di Yogyakarta dan kembali mengabdi di Papua.

Namun suatu saat di tahun 2015, kenang Bunda Mayora, ia akhirnya berani mengambil langkah keluar dari biara walaupun terus bergumul dengan identitasnya.

"Di tahun 2017 saya putuskan kembali ke Yogyakarta siapa tahu dengan keluar dari Papua pergumulan hidup saya bisa terjawab," kenangnya.

Namun harapan Bunda Mayora tak berbuah hasil dia tetap merasa dirinya adalah perempuan.

``Saya terus menghakimi diri saya, menghakimi Tuhan, dan kedua orangtuanya saya, mengapa mereka jahat sekali melahirkan saya seperti ini, laki-laki kok seperti perempuan, laki-laki kok suka dengan laki-laki, kenapa ngondek, belum lagi soal lingkungan, Gereja, hingga dosa iman kristiani saya," katanya.

Selama pergumulan melawan diri sendiri ini, Mayora mengaku sampai mengalami vertigo, susah tidur, dan punya keinginan untuk mengakhiri hidup.

"Berat sekali, saya orang Timur sudah menjadi biarawan, terus keluar dari panggilan itu langsung dihakimi, belum lagi tiba-tiba berubah jadi transpuan, aduh berat sekali beban yang saya tanggung," ceritanya.

Pergumulan berakhir setelah ia bergabung dengan komunitas waria di Yogyakarta,

"Pergumulan saya selesai dan menjadi seorang transpuan di Tahun 2018. Saya berani mengekspresikan diri, saya percaya menjadi diri sendiri itu bukan sebuah pilihan tapi panggilan hidup, kenapa saya katakan panggilan karena kalau pilihan tentu akan berubah-ubah tapi panggilan tidak," tegasnya.

Saat di Yogyakarta kehidupan keras menanti dirinya. Walaupun berbekal pendidikan yang mumpuni, Bunda Mayora mengaku tak ada satu pekerjaan pun didapatnya sebagai transpuan. Bahkan berbagai ketidakadilan dan stigma berlapis-lapis diterimanya.

"Tidak ada satu ruang pun mau menerima saya bekerja karena saya transpuan, masyarakat masih homofobia, belum lagi saya dari Timur, hitam. Mau tidak mau saya pun terpaksa mengamen, menjadi pekerja seks untuk membiayai hidup saya," kenangnya.

"Saya pernah dipukul Satpol PP sampai tangan saya patah, sampai sekarang di tangan ini masih ada `pen` (penyambung tulang)," lanjutnya terbata-bata.

Berbekal berbagai pengalaman dan pergumulan hati, Bunda Mayora akhirnya memberanikan diri pulang kampung ke Maumere di awal tahun 2019.

"Masih ada penghakiman yang saya terima dari para kerabat, orang tua, tapi saya bersyukur budaya memaksa mereka tetap menerima saya sebagai anaknya karena saya darah daging mereka," katanya.

Foto: Dok. Pribadi

Secara perlahan dan pasti Bunda Mayora berhasil meyakinkan kerabat dan masyarakat di sekitar lingkungannya.

"Saya juga mengajak teman-teman sesama waria di Maumere untuk berkegiatan sosial, sebenarnya mereka di sini sudah punya organisasi hanya tidak terlalu berjalan, mereka pun kaku dengan namanya komunitas, tidak biasa berkumpul, merekapun hanya merasa bahwa mereka hanyalah waria, tidak percaya diri melabeli diri mereka dengan rasa berdosa dan tidak normal," katanya.

Bunda Mayora pun berusaha mengubah mindset sesama waria.

"Saya bilang kalau kamu tidak pergi ke gereja berarti kamu tidak mensyukuri rahmat anugerah yang Tuhan berikan, kalau kamu merasa malu dengan pakaian, pakailah apa saja, Tuhan tidak melihat itu, kami tidak perlu mengubah identitasmu jika ke gereja itu sama saja ketika di lua, kamu menipu dirimu," jelasnya.

"Kami lalu berkumpul, membuat suatu kelompok doa dalam organisasi `Fajar Sikka’, kami menyanyi di gereja, membuat arisan. Dalam setiap doa kami kembali mengelola hidup kami, saya ajak teman-teman coba liat siapakah aku, `who am I`. Jadi kita belajar terima diri kita dengan keadaan sekarang tidak perlu menghakimi siapapun," tambahnya.

Dan pada akhirnya lanjut Bunda Mayora, semua teman menerima, lingkungan masyarakat menerima.

"Dan dalam organisasi Fajar Sikka kami mulai melakukan bimbingan pendidikan pada anak-anak, aktif di kegiatan PKK, sampai menggalang bantuan untuk kelompok minoritas seperti lansia dan disabilitas," tutupnya.

 

(Ricardo Ronald\Reko Alum)

Share:



Berita Terkait

Komentar