Mau Untung Banyak, Pinangki Bohongi Anita Soal Uang Suap Djoko Tjandra

Rabu, 23/09/2020 12:13 WIB
Pengacara Djoko Tjandra, Anita Kolopaking (kiri) dan Jaksa Pinangki (tengah). (Linetoday).

Pengacara Djoko Tjandra, Anita Kolopaking (kiri) dan Jaksa Pinangki (tengah). (Linetoday).

Jakarta, law-justice.co - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat menggelar sidang perdana terhadap terdakwa kasus dugaan gratifikasi Jaksa Pinangki Sirna Malasari, Rabu (23/9/2020). Dalam sidang dengan agenda pembacaan surat dakwaan tersebut, jaksa mengungkapkan kelakuan Pinangki yang membohongi Anita Kolopaking terkait jumlah uang suap yang diterima dari Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra.

Dalam dakwaan jaksa, Jaksa Pinangki disebut menerima suap sebesar USD 500 ribu dari Djoko Tjandra untuk mengurus fatwa di Mahkamah Agung (MA). Untuk melancarkan aksinya, Pinangki berkongkalikong dengan sejumlah pihak termasuk seorang pengacara bernama Anita Dewi Anggraeni Kolopaking.

Melansir detikcom, Djoko Tjandra yang saat itu merupakan terpidana perkara pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali berada di Kuala Lumpur, Malaysia. Pinangki pun menemui Djoko Tjandra atas jasa seorang bernama Rahmat dan mengusulkan pengurusan fatwa di MA agar Djoko Tjandra bebas dari jeratan pidana.

"Atas usul terdakwa untuk memperoleh fatwa Mahkamah Agung tersebut, Joko Soegiarto Tjandra menyetujuinya termasuk menyetujui biaya-biaya yang diusulkan oleh terdakwa," kata jaksa saat membacakan surat dakwaan Jaksa Pinangki di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat.

Lantas Pinangki menggandeng seorang swasta bernama Andi Irfan Jaya untuk bersama-sama menyusun proposal pengurusan fatwa MA dengan nama `action plan`. Di sisi lain Pinangki disebut membutuhkan Anita karena dianggap dekat dengan orang-orang di MA.

Djoko Tjandra menyetujui memberikan USD 1 juta untuk Pinangki. Namun pembayaran awal disebut jaksa berupa USD 500 ribu.

"Sebagai realisasi dari janji dan persetujuan Djoko Tjandra, selanjutnya pada tanggal 25 November 2019, Djoko Tjandra menghubungi adik iparnya yaitu Herriyadi Angga Kusuma melalui pesan WhatsApp dan menyampaikan agar memberikan uang sebesar USD 500 ribu kepada Andi Irfan Jaya pada esok hari tanggal 26 November 2019. Uang tersebut diperuntukan kepada terdakwa Pinangki yang sebagiannya USD 100 ribu untuk Anita Kolopaking," kata jaksa.

Andi Irfan memberikan uang itu ke Pinangki. Selanjutnya Pinangki memanggil Anita datang ke apartemennya.

"Kemudian Anita Dewi Kolopaking menemui terdakwa di Lounge Apartemen tersebut. Selanjutnya terdakwa memberikan sebagian uang yang diterimanya dari Djoko Tjandra melalui Andi Irfan Jaya yaitu sebesar USD 50 ribu kepada Anita Kolopaking dengan alasan terdakwa baru menerima USD 150 ribu dari Djoko Tjandara dan apabila Djoko Tjandra memberikan kekurangannya maka terdakwa akan memberikannya lagi kepada Anita Kolopaking," kata jaksa.

Sementara itu mengenai action plan pada akhirnya tidak ada yang terlaksana namun Pinangki sudah menerima uang dari Djoko Tjandra. Jaksa pun mendakwa Pinangki melanggar Pasal 5 ayat 2 juncto Pasal 5 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU Tipikor) subsider Pasal 11 UU Tipikor.

Pinangki juga didakwa Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencucian uang serta didakwa terkait pemufakatan jahat pada Pasal 15 jo Pasal 5 ayat 1 huruf a UU Tipikor subsider Pasal 15 jo Pasal 13 UU Tipikor

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar