Positif Corona, Dokter Ini Curhat dari Stetoskop Hingga Penularannya

Rabu, 23/09/2020 08:43 WIB
Positif Corona, Dokter Ini Curhat dari Stetoskop Hingga Penularannya. (@blogdokter).

Positif Corona, Dokter Ini Curhat dari Stetoskop Hingga Penularannya. (@blogdokter).

Jakarta, law-justice.co - Curahan hati seorang dokter yang positif COVID-19 dibagikan di akun Twitter @blogdokter.

Walau telah disiplin menerapkan protokol pencegahan di rumah sakit, tetapi justru tertular dari keluarga.

Dia menceritakan selalu mengenakan APD lengkap, masker N95 sekali pakai, bahkan memakai stetoskop dengan panjang 2 meter.

Ini adalah cerita dr. Ketut Erna Bagiari, M.Biomed, SpJP, FIHA yang bertugas di RS di daerah Gianyar, Bali. Ia dikenal sebagai dokter yang bawel pada perawat-perawatnya bila tidak melakukan protokol pencegahan COVID-19 di rumah sakit.

“Saya selalu memakai gaun kerja. Kalau ada tindakan, rumah sakit sudah menyediakan hazmat lengkap. Selama kerja, saya tidak makan, tidak minum, tidak pipis, kalau kebelet BAB ditahan dulu. Selalu begitu setiap hari,” terang dokter yang tahun ini berusia 36 tahun dalam sebuah video yang dibagikan oleh @blogdokter.

“Di awal–awal memakai stetoskop yang panjangnya 2 meter banyak yang bilang : wih seram, alat baru ya dok, kayak semprotan demam berdarah. Tetapi saya peduli. Yang saya pedulikan adalah bagaimana menjaga diri saya, pasien saya dan keluarga saya.”

Ia mengaku termasuk paling kerap menegur perawat : jangan makan atau minum di rumah sakit. Tak jarang dr. Erna tidak mau mengunjungi pasien dengan perawat yang ketahuan makan/minum di rumah sakit, ia akan memilih perawat yang lain.

Walau tegas saat di rumah sakit, lain cerita bila ia berada dalam lingkungan keluarga. “Saya adalah orang yang sangat sayang keluarga. Suka pulang kampung, kumpul keluarga. Tetapi juga menyadari saat bersama keluarga berarti saya berbagi risiko COVID-19 dengan mereka,” terang dr. Erna. “Artinya risiko yang mereka dapat saya juga bisa kena. Tetapi saya abaikan.”

Berawal dari pulang kampung

Suatu saat dr. Erna pulang kampung, dan mendapati bila sang paman sakit. Ia melihat bila kondisi sang paman tidak terlau baik, pucat. Saat itu belum ada masalah. Usai pulang kampung, ia merasa badan terasa pegal dan ngilu di seluruh tubuh, tetapi tidak panas.

Selanjutnya dikabarkan bila kondisi sang paman memburuk, saturasi oksigennya hanya 80% (normalnya 95-100%). Ia dan suami (juga dokter) meyakini bila itu COVID-19. Akhirnya sang paman di bawa ke RS Sanglah, di Denpasar, dan dikonfirmasi positif COVID-19.

“Saya langsung swab waktu itu, karena saya juga merasakan gejala infeksi virus. Ternyata hasilnya negatif,” terang dr. Erna. “Tetapi saya masih merasa ada yang salah dengan badan saya. Sejak itu saya pisah dengan anak-anak dan suami, juga memakai masker di rumah.”

Karena merasa kondisi tubuhnya masih tidak membaik, dr. Erna pergi ke klinik sang kakak untuk infus nutrisi. Ternyata oleh sang kakak dikatakan ada ronki (suara kasar saat bernapas), gelala infeksi paru. Ia pun dianjurkan segera scan.

Sempat penyakit asmanya pun kambuh membuat batuk parah. Walau telah dinebulisasi ternyata masih tidak membaik. Pemeriksaan saturasi oksigen <90%.

“Saat itu saya bengong, masih berharap kalau bukan COVID-19. Saya tidak tahu rasanya sesak yang bagaimana (sakit COVID-19 itu), cuma merasakan begini ya rasanya di ambang napas habis,” kenangnya. Hasil pemeriksaan menyatakan dr. Erna positif COVID-19.

Ia pun dirawat ruang perawatan intensi (ICU) RSPTN Universitas Udayana Bali, setelah sebelumnya kesulitan mencari rumah sakit rujukan. Selama satu minggu ia hanya berbaring di tempat tidur, tidak berani bergerak. Perawatan dilakukan intensif dan ketat.

Tenakan darah sempat turun hingga 60 mmHg, “Diberi obat penopang tensi saya teriak-teriak. Kepala seperti mau pecah, dada sakit sampai tembus ke punggung. Semua perawat datang, ada yang mijitin tangan, kaki, badan. Semua berdoa untuk saya,” terang dokter yang ternyata sensitif pada obat penopang tensi.

Saat ini kondisi dr. Erna sudah membaik. Walau belum pulih 100%, tetapi sudah bisa bergerak dengan leluasa. Dengan alat-alat yang menancap di tubuh (leher dan tangan), dr. Erna sudah bisa tersenyum.

“Selama dirawat saya hengkang dari banyak group (WA) keluarga. Karena saya menyayangi mereka, tidak berharap ada yang kena seperti saya. Jangan terlalu meremehkan (COVID-19),” tandasnya.

Saya cuma bilang ke diri saya sendiri : ya Tuhan terima kasih atas segala rejekinya. Saya iklas menjalani, semoga bisa menjadi pelajaran bagi yang di luar sana, yang masih suka kumpul bareng, olahraga bareng. Kalau ingin olahraga di rumah saja.”

Belajar dari pengalamannya, dr. Erna menyarankan, untuk jangan terlalu percaya diri dan tetap waspada.

“Semakin tertib kita, maka semua ini akan semakin cepat berlalu,” pungkasnya.

 

 
 
 
View this post on Instagram

Semoga lekas sembuh, dok. 🙏

A post shared by BlogDokter (@blogdokter) on

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar