TNI Diduga Tembak Pendeta di Papua, Pemuda GKI: NKRI Kehabisan Akal!

Selasa, 22/09/2020 10:43 WIB
TNI Diduga Tembak Pendeta di Papua, Pemuda GKI: NKRI kehabisan akal! (Jubi).

TNI Diduga Tembak Pendeta di Papua, Pemuda GKI: NKRI kehabisan akal! (Jubi).

Jakarta, law-justice.co - Tokoh pemuda GKI Papua, Naftali Magai menyebut peristiwa penembakan Pendeta Yeremias Zanambani di Kampung Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua oleh oknum anggota TNI menggambarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui pasukan keamanannya telah kehabisan akal sehat untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, terutama yang bukan lawannya.

Kata dia, lawan dari aparat keamanan merupakan TPN/OPM yang memiliki atau memegang alat perang yakni senjata api.

“Kami menduga negara Indonesia melalui aparat keamanan sudah kehabisan akal sehat. Ini sangat memalukan. Seorang pendeta yang sedang pergi ke kandang ternaknya ditembak mati. Ini sudah buta, buta hati, buta mata,” ujar Naftali Magai seperti melansir jubi.co.id, Senin 21 September 2020.

Dia meminta kepada pimpinan TNI dan Presiden Indonesia agar memberikan pemahaman pendekatan kepada masyarakat yang baik agar tak membias kejadian serupa kepada hamba Tuhan lainnya di Tanah Migani, Intan Jaya.

“Kalau model begini, saya anggap kita orang asli Papua sudah tidak ada harapan hidup lagi. Karena dari kasus ini kami analisa bahwa semua orang asli Papua adalah OPM. Kenapa pendeta kok ditembak mati tanpa ada komunikasi yang baik? Siapa yang biasa melindungi kita? Sudah tidak ada harapan lagi,” ujarnya tegas.

Atas situasi ini, ia meminta semua pihak harus bersatu padu menetralisir kondisi Intan Jaya.

“Komnas HAM, PBB, dan semua komponen yang bergerak di sisi kemanusiaan jangan diam, ini sudah keterlaluan,” katanya.

Yan Mandenas menghubungi Kepala Staf TNI AD

Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI, Yan Permenas Mandenas, minta Kepala Staf TNI AD (KSAD), Jendral Andika Perkasa, untuk memfasilitasi penyelesaian konflik di Kabupaten Intan Jaya yang telah menewaskan seorang pendeta serta warga sipil dan anggota TNI.

“Saya terus memonitor apa yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya dalam sepekan ini. Saya langsung menghubungi KSAD, Jendral Andika Perkasa, kemarin malam,” ungkap Yan Mandenas, dalam keterangan persnya, Senin (21/9/2020).

Yan Mandenas minta Panglima TNI dan para pihak terkait agar melakukan investigasi cepat dan mengungkapkan para pelaku, terkait rentetan penembakan di Kabupaten Intan Jaya, khususnya kejadian yang terjadi dalam satu pekan ini.

“Khusus penembakan yang terjadi terhadap hamba Tuhan, saya akan mengawal sampai tuntas agar diungkap jelas para pelakunya, sehingga perlu diseriusi oleh semua pihak,” tutur Yan Mandenas.

Lebih jauh, Yan Mandenas menegaskan Panglima TNI, KSAD, Pangdam XVII/Cenderawasih, dan Kapolda Papua agar menseriusi kejadian ini dengan memerintahkan Bupati Intan Jaya bersama unsur muspida setempat segera membentuk tim investigasi dan memfasilitasi serta mencari fakta sebab dan akibat kronologi kejadian di Intan Jaya.

“Dengan begini, ada langka-langkah ke depan untuk menyelesaikan konflik dan mendeteksi ancaman dan gangguan keamanan di daerah tersebut, yang sudah mengorbankan masyarakat sipil dan aparat keamanan. Termasuk langkah tegas mengungkap siapa dalang penembakan hamba Tuhan yang terjadi tadi malam,” tegasnya.

Yan Mandenas minta hasil investigasi diserahkan ke DPR RI, untuk kemudian menjadi bahan evaluasi bersama unsur pemerintah, Panglima TNI, dan DPR RI.

“Kami akan mendorong dan menjadwalkan khusus rapat bersama institusi terkait (untuk membahas) rentetan aksi penembakan di Papua. Saya akan konsen mempertanyakan kejadian yang ada di Intan Jaya. Kami juga akan meminta hasil investigasi awal sebagai bahan masukan bersama,” tukasnya.

Politikus Partai Gerindra itu juga minta rekan-rekannya di Komisi I DPR RI untuk menjadikan ini salah satu konsen bersama mengatasi permasalahan di Kabupaten Intan Jaya.

“Yang jelas siapapun pelaku penembakan terhadap warga sipil, TNI, dan hamba Tuhan, kita mengutuk keras. Kita berharap hasil investigasinya lebih transparan (disampaikan) ke publik, karena contohnya kasus penembakan empat warga sipil pada Maret lalu di Intan Jaya dan kasus salah tembak oleh oknum anggota TNI yang bertugas di Timika terhadap dua warga sipil di sebuah sungai di Kabupaten Mimika, hingga saat ini juga belum ada tindakan tegas terhadap para pelakunya,” tandasnya.

Yan Mandenas berharap para pelaku penembakan atau pembunuhan bisa ditangkap sesegera mungkin.

“Pelakunya siapa, harus dikejar, ditangkap, diproses, dan dihukum seberat-beratnya. Termasuk penembakan terhadap hamba Tuhan. Kalau itu dilakukan aparat penegak hukum kita, maka harus ada tindakan tegas,” pungkasnya.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar