Pigai Desak TNI Ralat Soal Tewasnya Pendeta di Papua karena KKB

Senin, 21/09/2020 16:56 WIB
Mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai desak TNI ralat pernyataannya ( foto; bataraonline.com)

Mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai desak TNI ralat pernyataannya ( foto; bataraonline.com)

Jakarta, law-justice.co - Mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendesak Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk meralat pernyataannya. Hal itu terkait penyebab tewasnya Pendeta Yeremia Zanambani yang oleh TNI disebut karena ditembak oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

"Kita minta TNI harus mengakui secara gentelmen karena bukan tidak mungkin akan kerahkan semua kekuatan umat Kristen kibarkan panji-panji salib dan menekan negara-negara Kristen dunia embargo militer. Saya minta TNI ralat. Jika negara sudah ganggu wilayah suci itu bahaya," katanya melalui cuitan di akun Twitternya @NataliusPigai2 seperti dikutip law-justice.co, Senij (21/9/2020).

Sebelumnya, Kapen Kogabwihan III, Kol Czi IGN Suriastawa dalam rilis pers mengatakan Pendeta Yeremia Zanambani tewas ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Suriaswata menegaskan, apa yang dilakukan KKB di Intan Jaya tidak lain untuk mencari perhatian dunia internasional menjelang sidang umum PBB pada 22-29 September 2020.

"Seperti yang telah saya sampaikan kemarin, mereka sedang mencari momen menarik perhatian di Sidang Umum PBB akhir bulan ini," kata Suriaswata, Minggu (20/9/2020).

Suriaswata pun mengecam tindakan KKB yang juga menyebar fitnah melalui media sosial dengan menuduhkan pembunuhan terhadap Pendeta Yeremias Zarambanin kepada pihak TNI. Menurut dia, apa yang dilakukan KKB sudah sangat meresahkan masyarakat.

"Dari sejak tadi pagi, tiga akun mereka mulai menyebarkan berita bohong dengan memutar balikkan fakta. Fitnah mereka di medsos, jelas sudah setingan dan rekayasa untuk menghasut masyarakat sekaligus menyudutkan TNI/Polri dan pemerintah menjelang sidang umum PBB," tutur Suriaswata.

Pernyataan Suriaswata dibantah Komandan Operasi Umum Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Lekagak Telenggen melalui Juru Bicara TPNPB Sebby Sambom. Menurut Sebby, penembakan Pendeta Yeremia adalah TNI dan Polri. Ia juga meminta agar Pemerintah Indonesia bertanggung jawab atas kematian Pendeta Yeremia.

“TNI jangan kambing hitamkan TPNPB, tapi TNI Polri dan Pemerintah Indonesia harus bertanggung jawab atas pembunuhan ini,” kata dia.

Agustinus Ugipa, seorang mahasiswa di Kabupaten Intan Jaya mengatakan, awalnya Pendeta Yeremias Zanambani menuju lokasi peliharaan ternak babi untuk memberi makan pada Sabtu (19/9), sekira pukul 16:30 WIT.

“Karena lokasi kandang babi milik bapa pendeta (Yeremias Zanambani) itu letaknya lumayan jauh dari rumahnya, kurang lebih jaraknya kira-kira dari Abepura menuju Wamena (Kota Jayapura),” ujar Agustinus Ugipa.

Kronologi serupa disampaikan Aner Maisini, anak pendeta Yakobus Maisini, tetangga dekat almarhum Zanambani di Hitadipa. Aner Maisini menuturkan, Yereima pada Sabtu sore ditemani istrinya pergi ke lokasi ternak babi milik mereka untuk memberi makan.

“Setelah selesai dari honai untuk kasih makan babi dan saat mau balik pulang ke rumah itulah pasukan TNI langsung menembak pendeta hingga meninggal di tempat,” ujarnya.

“Mama sempat bilang ke bapa (Zanambani), ayo kita pulang sudah malam. Tapi kondisi masih terang, almarhum pendeta Zanambani menyalakan api, setelah itu muncul aparat dan langsung melepaskan tembakan," imbuhnya.

Maisini menyatakan masyarakat di Hitadipa saat ini hidup dalam ketakutan sebab mendapat tekanan dari aksi penyisiran aparat kemananan.

Sebagai masyarakat asli Intan Jaya, Maizini mendesak petinggi TNI dan Polri di Papua, maupun aparat keamanan di lapangan tidak mengorbankan masyarakat kecil dalam melakukan penyisiran dan memburu oknum KKB yang telah menewaskan anggota Koramil Hitadipa beberapa waktu lalu.

“Harapan saya sebagai orang Intan Jaya, dalam pengejaran pelaku penembakan (TNI) jangan mengorbankan masyarakat sipil lainnya seperti yang sudah terjadi kepada Bapak Pendeta Yeremias Janambani,” katanya.

Sekedar informasi, Pendeta Yeremia Zanambani merupakan merupakan mantan Wakil Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Klasis Hitadipa, Intan Jaya.

Pendeta Zanambani aktif sebagai Ketua Sekolah Tinggi Alkitab Theologia di Hitadipa sekaligus menduduki jabatan struktur Penasehat GKII Wilayah 3 Papua. Dia juga penterjemah Alkitab dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Moni.

Dalam rilis pers, GKII pusat mengungkapkan kesedihan mendalam dan kehilangan Pendeta Yeremai, tokoh rohani dari antara orang Moni.

“Doakan karena ini merupakan pukulan berat bagi pelayanan GKII di Intan Jaya dan kami sungguh berdukacita kehilangan tokoh rohani bagi orang Moni,” kata GKII Pusat di akun media sosial resmi mereka pada Minggu (20/9) sore, setelah menerima informasi dari Ketua GKII Wilayah 2 Papua.

Atas kejadian tersebut, terdapat 7 hingga 8 gereja di Intan Jaya kosong karena jemaat melarikan diri ke hutan menghindari konflik berdarah tersebut.

<blockquote class="twitter-tweet"><p lang="in" dir="ltr"><a href="https://t.co/o0ZyMELbhh">https://t.co/o0ZyMELbhh</a> kita minta TNI harus mengakui secara gentelment krn bukan tidak mungkin akan kerahkan semua kekuatan Umat Kristen kibarkan panji2 Salib &amp; menekan negara2 Kristen dunia untuk embargo militer. Sy minta TNI ralat . Jika Ngr sdh ganggu wilayah suci itu bhy.</p>&mdash; NataliusPigai (@NataliusPigai2) <a href="https://twitter.com/NataliusPigai2/status/1307714757856649216?ref_src=twsrc%5Etfw">September 20, 2020</a></blockquote> <script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar