Pelecehan Seksual Oleh Dokter Rapid di Soetta, Polisi Periksa CCTV

Senin, 21/09/2020 15:46 WIB
Ilustrasi oknum dokter yang diduga melakukan pelecehan seksual dan pemerasan kepada penumpang pesawat saat rapid tes di Bandara Soetta (harianhaluan)

Ilustrasi oknum dokter yang diduga melakukan pelecehan seksual dan pemerasan kepada penumpang pesawat saat rapid tes di Bandara Soetta (harianhaluan)

Jakarta, law-justice.co - Setelah heboh di media sosial tentang adanya oknum seroang dokter petugas rapid test di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta yang diduga melakukan pelecehan seksual dan pemerasan, polisi akhirnya memeriksa rekaman kamera Closed Circuit Televison (CCTV) yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Terkait adanya dugaan pemerasan oleh oknum dokter itu disampaikan oleh seorang penumpang berinisial LHI (23) yang hendak berangkat ke Nias, Sumatera Utara.

"Polres Bandara Soetta telah bekerja sama dengan airport center yang ada di Bandara Soetta untuk meminta CCTV yang ada," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya seperti dilansir dari viva.co, Senin (21/9/2020).

Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Bandara Soekarno-Hatta pun tengah berangkat ke Bali guna menemui korban. Hal ini guna meminta keterangan korban sekaligus memintanya untuk membuat laporan polisi. Pasalnya, korban tidak membuat laporan polisi. Atas dasar itu polisi lantas menjemput bola dengan mendatanginya.

"Jadi tim Polres Metro Bandara Soetta sudah ada di Bali untuk janjian dengan pengadu untuk dilakukan klarifikasi dan membuat laporan," kata dia.

Sebelumnya, seorang oknum dokter berinisial EF yang bertugas di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta diduga melakukan pemerasan dan pelecehan seksual kepada penumpang pesawat. Hal itu dilakukan saat sang penumpang yang hendak ke Nias, Sumatera Utara menjalani rapid test di Bandara Soetta.

Hal itu disampaikan oleh penumpang tersebut melalui akun Twitternya @listongs seperti dikutip law-justice.co, Sabtu (19/9/2020).

"Pemerasan dan pelecehan seksual oleh dokter rapid test di Bandara Soekarno Hatta, terminal 3. (a thread)," tulisnya.

Dia mengatakan, dirinya berani menulis hal itu di media sosial karena laporannya belum diproses hingga saat ini.

"Sebenarnya dari kemarin-kemarin mau bikin thread ini maju mundur, takut kenapa-kenapa. Tapi karena laporan aku belum ada yang diproses, jadi ya udah lapor ke netizen aja,` katanya.

Lantas dia menceritakan kejadian yang menimpanya tersebut. Menurutnya, kejadian itu terjadi pada hari Minggu (13/9/2020) saat dia hendak terbang ke Nias dari Jakarta.

Dia mealkukan rapid test di bandara karena belum sempat melakukannya di hari sebelumnya. Karena penerbangannya jam 06.00 WIB, dia pun datang elbih awal ke Bandara, yakni pukul 04.00 WIB. Dia langsung melakukan rapid test di tempat resmi yang sudah disediakan oleh pihak Bandara Soetta.

Dia juga mengaku sebelum menjalani rapid test dirinya yakin hasilnya tak reaktif. Pasalnya dia baru pulang dari Westen Australia 6 hari sebelumnya. Sebab, di sana kasusnya sudah tidak ada selama enam bulan terakhir.

"Misalpun aku kena covid di jakarta, aku mikirnya ga mungkin anitbody aku udah kebentuk dalam waktu 6 hari. Tapi setelah dipanggil masuk untuk mengambil hasil rapid test, dokter nya bilang Ig G aku reaktif. Aku bingung aja, hah kok bisa sih, tapi yaudahlah," katanya.

Namun, hal mencengangkan lainnya berlanjut. Sebab, kemudian dokternya masih menanykan kepadanya apakah dia masih mau terbang ke Nias atau tidak. Padahal, kalau reaktif pasti tidak akan terbang.

"Habis itu dokternya nanyain, "kamu jadi mau terbang gak?" di situ aku bingung kan, hah kok nanya nya gini.... terus aku jawab lah "lah emangnya bisa ya, pak? kan setau saya ya kalo reaktif ga bisa lanjut travel". Habis itu dokternya bilang "ya bisa nanti saya ganti data-nya"," katanya.

habis itu dokternya nanyain, "kamu jadi mau terbang gak?" di situ aku bingung kan, hah kok nanya nya gini.... terus aku jawab lah "lah emangnya bisa ya, pak? kan setau saya ya kalo reaktif ga bisa lanjut travel".
habis itu dokternya bilang "ya bisa nanti saya ganti data-nya".

"Di situ kaget si jujur, sama bingung juga. sampai akhirnya aku bilang ke dokternya "gausah juga gapapa dok, saya takut nularin ke orang-orang di Nias." jujur emang aku mikirnya gitu, karna setau aku di Nias juga masih minim fasilitas kesehatannya, kasihan juga orang-orang di sana," katanya.

Namun, si dokter memaksa.

"Tapi, si dokternya malah terkesan "maksa" biar aku tetep terbang ke nias. katanya "gapapa mba, terbang aja, mba gapapa kok sebenernya, ga bakal nularin ke orang-orang di sana. kalo mau ttp berangkat, ini saya rapid lagi, bayar aja 150 ribu lagi buat test ulangnya," lanjutnya

"O iya si dokternya juga ada bilang "iya nanti data mba saya ganti dengan data yang bagus," katanya.

"Habis dapat surat itu, yaudah lah aku pergi, keluar tempat test, mau naik ke atas ke departure gate. nah pas masih jalan, pas mau masuk ke departure gate, ternyata si dokter itu ngejar aku lalu mengajak untuk ngobrol di tempat yang sepi. huhuh bodohnya aku kenapa aku ngikut aja," katanya.

"Di situ dokternya bilang "mba, saya kan sudah bantu mba nih, bisa lah mba kasih berapa, saya juga sudah telpon atas sana sini, bisa lah mba kasih". di situ aku kaget dong, yaudalah karna gamau ribet juga aku tanyain lah langsung "berapa?"."

"Si dokter jawab "mba mampunya berapa? misal saya sebut nominalnya takut ga cocok" hhh si anjing. yaudalah aku asal jawab aja "sejuta?" eh si dokter miskin ini jawab "tambahin dikit lagi lah mba" si tai yaudah karna aku males ribet orangnya, aku tambahin jadi 1,4 juta," lanjutnya.

"Sebelum aku transfer uangnya, si dokter ini bilang "jangan bilang ke yang lain ya mba, takut yang lain pada minta juga". (jadi yg ngetest aku ada 3 orang, 1 dokter, 2 orang yang lain orang lab nya kayaknya??).".

"Karna aku gapunya cash, akhirnya aku kasih uangnya lewat mbanking. ini ya guys bukti transfernya + nama dokternya. (Eko Firstson Yuswardinata S) kalau mau pada silaturahmi ke sosmednya, silahkan bgt guys."

"Aku kira cuma selesai sampai di situ, ternyata enggak. Habis itu, si dokter ndeketin aku, buka masker aku, nyoba untuk cium mulut aku. Di situ aku bener-benar shock, ga bisa ngapa2in, cuma bisa diem, mau ngelawan aja gabisa saking hancurnya diri aku di dalam."

"Aku bener-benar kaget dan gak bisa ngapa-ngapain, si dokter bajingan ini malah melanjutkan aksinya dengan meraba-raba payudara aku. perasaanku hancur, bener-benar hancur. nangis sekeras-kerasnya dari dalam, bahkan untuk teriak tolong aja gak bisa," katanya.

"Ingin lari dan teriak tolong tapi gabisa, cuma sanggup untuk menghindar dan pergi dengan alasan flight sebentar lagi boarding. aku kira aku udah aman & terbebas dari dokter bajingan itu, tpi ternyata dia ingin ikut sampai departure gate."

"Di situ si dokter masih ngikutin aku sampai departure gate, aku cuma bisa diam mematung. takut, hancur, sedih, semua perasaan bjadi satu. bener-bener ga bisa ngapa-ngapaiin, jangankan untuk minta perolongan, untuk menghindar/melawan aja gak bisa," tutupnya.

 

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar